Wajah gadis cantik itu terlihat lesu, matanya begitu sembab dan bengkak, ia ragu untuk masuk sekolah hari ini kalau bukan karena ada ulangan harian pasti ia sudah meliburkan diri. Dimeja makan ia hanya menggenggam sarapannya dengan tatapan kosong, pikirannya jauh menerawang bagaimana ia bisa menjalani hari-harinya kedepan tanpa galang. Tidak ada lagi senyuman itu, perhatian yang terkesan berlebihan tetapi caca menyukainya, candaan dan tawanya, tukang nyebelinnya yang suka menggoda caca, pelukan serta hangatnya sentuhan darinya, yap seluruhnya. Caca masih belum terima akan semuanya yang terjadi begitu cepat, ia menggeleng pelan dan kembali meneteskan air mata. "loh anak mami kenapa?" tiba-tiba saja suaranya menyadarkan caca, ia menggeleng pelan. "gapapa kok mi, caca berangka

