Kini aku dan galang memasuki sebuah kafe ternama dipusat kota, aku hanya membuntutinya. Ia bahkan tak menengok dan menggenggam tanganku, mungkin ia masih marah karna kejadian salah paham tadi. Galang duduk dimeja dekat dengan pemandangan kota, akupun hanya mengikuti duduk berhadapan dengannya. Seorang pelayan menghampiri dan memberikan daftar menu, belum sempat aku memesan galang sudah memesan makanan untukku, makanan favoriteku tepatnya. Setelah ia memesan makanan aku hanya menunduk dan bingung harus bagaimana, bahkan galang tidak menatapku, melirik saja tidak. Aku mencoba memberanikan diri untuk melihatnya, ternyata ia sibuk memainkan ponselnya. "umm galang" panggilku. "iyaa?" ia meletakkan ponselnya diatas meja dan menatapku. Ia selalu menghargai seseorang walau sedang

