Adegan 1 : Neraka

2058 Words
  “Basim bangun!, ndak sekolah waang?”, ahh sesekali memang emakku adalah orang yang menyebalkan, selalu memaksaku untuk berangkat ke neraka—(kata lain untuk mengartikan sekolah)—, lagipula untuk apa aku harus berangkat ke sekolah jika seluruh ilmu yang ada di sekolah tidak ada yang membuatku tertarik. Mungkin bagi beberapa orang yang sependapat denganku akan menganggap sekolah sama membosankannya seperti yang kujelaskan. Namun setidaknya mereka tetap memiliki alasan agar tetap tertarik berangkat ke sekolah. Misalkan, bertemu teman-teman dan sahabat—(aku tak tertarik membahas perbedaannya, karena aku sendiri hampir tak pernah memiliki keduanya)—, bermesraan dengan cinta monyetnya, atau hanya sekedar kangen dengan menu makanan di kantin sekolah. Tapi akhirnya tetap kupaksakan untuk berangkat ke sekolah, ya setidaknya agar emak tidak terus-terusan meneriakiku dan agar keriuhan itu tidak semakin menjadi-jadi. Emakku memang menyebalkan, tapi setidaknya tidak semenyebalkan bapakku. Coba saja bayangkan, ayah mana yang berfikir untuk memberikan nama anak berdasarkan kekurangan anaknya sendiri. Namun hal yang sebenarnya membuatku kesal adalah, sebagaimana nama adalah doa, tapi sayangnya arti dari namaku ini malah tidak akan pernah bisa terwujud, pada diriku sendiri.   “ya karena dulu, kelahiranmu membuat semua orang tersenyum, dan bapak harap kehadiranmu di dalam cerita orang lain, akan selalu memberikan orang lain kesempatan untuk tersenyum, tanpa kau harus terlibat dalam senyuman itu, Basim, orang yang selalu tersenyum”.   ya, namaku Basim, yang artinya adalah orang yang selalu tersenyum, sangat aneh memang jika nama itu diberikan kepada seseorang yang seumur hidupnya tidak akan pernah tersenyum. Oh iya, pembaca yang hebat, aku lupa memberitahu anda, aku terlahir dengan membawa sebuah kutukan bernama Moebius Syndrome, sebuah syndrome kecacatan otot wajah yang membuat penderitanya tidak bisa mengekspresikan perasaannya sendiri, bisa dibilang aku hanya punya satu ekspresi seumur hidupku. Ekspresi inilah yang membuat ku memiliki julukan orang—(katanya)—dengan ketertarikan nol besar terhadap apapun.             Namun jika kupikir-pikir nama itu tidaklah begitu penting bagi orang sepertiku, yang hanya berhubungan sosial hanya dengan bapak dan emakku saja. Aku tidak punya ketertarikan untuk mengenal orang lain dan berdiskusi dengan orang lain, bagiku tampak membosankan.             Aku terlahir—(katanya)—dengan ketertarikan nol besar terhadap apapun.   “Setidaknya itu adalah pendapat sebagian besar orang, belum tentu benar, Nak”, kata emakku.   Contohnya saja ketikaku diberikan hadiah sepasang sepatu kets oleh seorang calon wakil rakyat—(orang-orang yang berada dibawah para elit)— terhormat dari kampungku, orang yang pastinya dipuja-puja oleh seluruh masyarakat—(mungkin hanya aku yang tidak)—,aku malah tidak melemparkan senyum kepadanya dan langsung mengambil hadiahnya dan tampak tak menghargainya. Atau ketika di kampungku tengah digunakan untuk shooting film ternama, disaat semua orang tampak berbondong-bondong meminta tanda tangan dan berfoto bersama aktor film itu—(mungkin hanya aku yang tidak)—aku lebih memilih tenggelam dalam tidurku dan menutup rapat pintu kamar, sambil berharap semoga keriuhan itu cepat berlalu, menyebalkan. Mungkin jika aku ceritakan semua ke-tidak-tertarikan-ku pada apapun, buku ini hanya akan membuat pembacanya menjadi sebal kepadaku, haha.             Sudah berlalu 10 tahun sejak kekurangajaranku pada calon wakil rakyat itu—(kabar burung menyebutkan bahwa ia kini menghilang, entah mati atau terkurung dalam sel, dikarenakan kekurangajarannya pada para elit)—, aku melanjutkan keterpaksaanku untuk berangkat ke neraka—(kata lain untuk menyebut sekolah), dengan sepanjang langkahku di perjalanan aku selalu menggunakan masker hitam—(untuk alasan yang akanku jelaskan nantinya). Tidak seperti teman-teman sekolahku yang lain, yang berangkat dengan berkendara, entah menggunakan mobil, motor, sepeda, atau angkutan umum. Aku lebih memilih berjalan kaki, karena memang aku tidak pernah tertarik untuk berkendara, mempunyai kendaraan adalah omong kosong bagi orang-orang sepertiku, ditambah lagi aku selalu menghindari keramaian, jadi tak akan mungkin jika aku akan memilih untuk menggunakan angkutan umum.             Waktu berputar seperti konspirasi di kepalaku, omong kosong. Terkadang aku berfikir, buat apa aku habiskan 10 tahunku untuk mengabdi pada sekolah, tapi lagi-lagi karena ketidaktegaanku melihat emak menanggung malu, jika buah hatinya ini berhenti sekolah. Terlepas dari biaya hidup dan biaya sekolah, aku sedikit bingung dengan apa yang terjadi.  di mata masyarakat keluargaku adalah satu dari sekian banyak keluarga yang tampak tak merasakan apa itu sejahtera. Tapi disisi lain, aku tidak pernah tahu alasan mengapa keluargaku tak pernah merasakan kekurangan, apa yang kami butuh selalu muncul. Ya, aku seperti hidup di tengah-tengah, tidak kaya dan tidak miskin.             Hari ini ujian berlangsung. Entah karena aku lupa atau karena tak peduli, tak ada satupun hal yang aku siapkan untuk ujian ini, sama seperti ujian-ujian sebelumnya. Alhasil, sama halnya dengan ujian-ujian sebelumnya, aku selalu mendapatkan nilai KKM. Bukan karena kesengajaan, namun memang karena sebatas itulah kemampuanku, dan ketidaktertarikanku untuk berlomba-lomba dengan murid-murid ambisius di kelasku, mereka tampak menyedihkan. Di lain hal, aku selalu berusaha untuk paham, apa guna orang-orang menyesalkan sesuatu yang telah berlalu?,   “coba saja tadi ku jawab C, bukan B, Ahh Setan”,   lalu mereka mengumpat kepada makhluk yang belum tentu bersalah atau tidak. Namun begitulah suasana yang kerap kali aku temukan setiap kali meninggalkan kelas, tempat paling membosankan di dunia—(menurut pendapatku). Ya begitulah, seperti yang kusebutkan sebelumnya kelas hanya akan menjadi neraka untuk anak yang tak ada bakat di sana. Tidak sekalipun ku temukan seorang penyair terlahir setelah membuang waktu berjam-jam di dalam laboratorium. Atau seorang pelukis yang tumbuh usai memainkan jemari manisnya dan memutar otaknya pada soal-soal teorema phytagoras. Tidak, tidak sama sekali.   “Basim, dapat nilai berapa kau?”, tanya seseorang yang sudah bertahun-tahun sekelas denganku—(aku tidak akan menyebutnya menggunakan kata teman sekelas, karena aku sendiri tak tertarik menggunakan kata itu).   “yaa, sama seperti biasanya”, jawabku spontan tanpa menoleh kearahnya,   buang-buang waktu menurutku jika harus meladeninya.             Sekolahku menggunakan sistem kredit semester, dimana muridnya diberi kebebasan untuk menentukan pendidikan macam apa yang akan mereka  tempuh. Entah pendidikan yang menyenangkan, atau yang berisi hari-hari penuh p********n yang menguras isi otak.             Tapi sistem ini sama halnya tak akan masuk akal bagiku, si manusia dengan ketertarikan nol besar. Seandainya aku bisa memilih untuk tidak memilih satu mata pelajaranpun, mungkin aku akan memilih untuk melakukan itu, tapi ya tak mungkin. dan akhirnya aku meminta agar emak saja yang memilihkan, akan jadi macam apa tiga tahunku nanti di SMA.             Namun ada satu mata pelajaran yang aku melarang emak untuk memilihnya.   “terserah apa saja mak, asalkan jangan ada seni budaya di jadwalku”, pintaku pada emak.               Bagiku seni  budaya akan menjadi kelas mimpi buruk bagiku. Mungkin tidak hanya bagiku, tetapi akan menjadi hari-hari yang  mengerikan bagi seisi kelas itu, jika aku ada di dalamnya. Aku tidak mengada-ngada, karena hal ini akan berkesinambungan dengan alasan mengapa aku menggunakan masker di sepanjang perjalananku menuju dan sepulang sekolah.               “kamu yakin tidak akan memasukan seni budaya ke dalam jadwalmu, Sim?”, tanya pak Hikmat, kepala sekolahku.   Pertanyaan ini sudah ditanya tiga kali oleh orang-orang yang tampak sok peduli denganku, yakni bu Rike wali kelasku yang anggun, pak Sobari guru seni budaya yang menyebalkan —(aku punya alasan untuk ini)—, dan yang terakhir pak Koes si kepala sekolah.   Jawabku sama, “saya tidak akan membunuh diri saya di depan banyak orang dengan menampakkan aib saya, terlalu bodoh untuk berani melakukan itu”.             Ya, selain nol besar ketertarikan, aku terlahir dengan aib yang terbilang aneh dan lucu. Dimana kapanpun, bagaimanapun, dan seperti apapun ketika aku melihat, mendengar atau merasakan hal-hal yang berkaitan dengan karya seni, maka wajahku akan memucat, tentu bisa terbayangkan betapa mengerikannya wajah dengan ekpresi datar ditambah wajah yang pucat, akan menjadi mimpi buruk bagi sesiapapun yang melihatnya. Dan terus terang saja banyak sekali bermunculan pengalaman-pengalaman menyebalkan yang terjadi karena aib ini. Ingat guru seni budaya yang aku sebut menyebalkan sebelumnya?, ya, ada   alasan kenapa  aku menyebutnya menyebalkan. Bagaimana tidak, aku masih ingat ketika di hari pertamaku di sekolah, pertama kali aku melewati ruang ekstrakurikuler teater, aku memandangi ruangan itu dengan ekspresi biasaku, wajah datar dan raut yang meyeramkan—(menurut pendapat sebagian besar orang dalam mendeskripikanku)—, yang sontak saja membuat seisi kelas merasa risih dan ketakutan dengan kehadiranku di jendela ruangan itu.   “Hei bocah aneh, apakah kau sadar kalau kau sudah menakuti murid-muridku?, menjauhlah!”, kurang lebih begitulah pak Sobari mengusirku.   Hal menyebalkan pertama yang aku dapat dari neraka baruku.             Siapapun yang baru pertama kali melihatku akan beranggapan bahwa aku menyeramkan, dan tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang sudah sedikit mengenalku, aneh adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Haha, apakah kisah ini sudah mulai tampak menyedihkan?, tapi ada hal yang perlu anda perhatikan, para pembaca yang hebat. Aku terlahir dengan nol besar ketertarikan. Sehingga, tak akan sudi apabila kusia-siakan waktuku untuk meratapi hal-hal semacam itu. Flat Character, mungkin begitulah aku dideskripsikan dalam kebahasaan ilmu teater, hanya meramaikan dan membuat sumpek panggung dunia. Ada atau tidaknya ia tak akan berpengaruh besar pada alur, menyedihkan.             Tampaknya anda, pembaca yang hebat, telah menemukan alasan yang membuatku selalu menggunakan masker di sepanjang perjalananku menuju dan sepulang sekolah. Karena tak akan mungkin kubiarkan khalayak ramai merasa risih dengan raut sinisku.             Kita tentu tahu, di dunia luar, karya seni ada dimana-mana, di segala tempat, di segala sisi. Contoh saja, seringkali kita temukan lukisan-lukisan di tembok-tembok jalanan, atau kita dengarkan nyanyian seorang pengamen di warung makan. Tak akan mungkin kutampakkan mimpi buruk itu.             Begitulah aku mendeskripsikan dunia luar, ramai namun sepi di kepalaku, riuh namun hening di pikiranku. Mereka seperti sudut hampa tanpa properti, yang tentu akan tampak sedikit menjengkelkan dan terkesan hambar jika hal semacam itu terjadi di atas panggung teatrikal.             Kulanjutkan perjalananku sepulang sekolah, di hari itu. Namun hari itu, adalah hari yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari awal mula perubahan hidupku terjadi, aku mulai bisa memahami makna ketertarikan  satu-persatu.             Di perjalanan, aku bertemu seekor kucing, Tampak tidak ada yang mengesankan. Namun ada suatu hal yang menarik pandanganku, tampak secarik kertas menempel di taring kucing itu. Kertas yang tampak seperti robekan poster iklan suatu produk. Namun setelahku perhatikan, kertas lusuh itu berisikan sebuah lukisan kecil, tampak seperti adegan salah satu teater yunani kuno yang di bawahnya bertuliskan :   “Apakah kamu menyadari?”   Kertas itu tampak tak berarti mengesankan bagiku. Namun kucoba untuk menyimpannya. Dan melanjutkan perjalananku kembali ke rumah.             Selanjutnya hari esok berlangsung sesuram biasanya, kebosanan di sekolah dan pulang dengan menatap gelap dunia di balik kacamata hitamku. Namun, ada yang cukupku kesalkan, aku kembali bertemu dengan kucing yang sama, dan ia tampak lagi-lagi membawa secarik kertas, namun kali ini ia tampak menggigitnya lebih keras.             Kucoba untuk mengambil kertas itu. Kertas itu lebih tampak seperti bekas bungkus camilan anak-anak yang sudah terkena hujan dan panas berhari-hari. Di bungkus itu tampak lukisan salah satu adegan pada teater Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, dan kali ini bertuliskan :   “Sudahkah kamu memahami?”   Lagi-lagi, bungkus itu tampak tetap tak berarti mengesankan bagiku. Namun kucoba lagi untuk tetap menyimpannya. Dan melanjutkan perjalananku kembali ke rumah, sama seperti hari sebelumnya.             Di keesokan harinya tampak sama seperti dua hari sebelumnya, sepulang sekolah aku kembali bertemu dengan kucing itu. kali ini ia kembali membawa kertas itu dengan menggigitnya. Kucoba untuk mengambil kertas itu, nampak sedikit robek di pinggirannya karena hasil dari gigitan si kucing. Namun meski begitu, surat kali ini tampak lebih indah di pandang, seperti baru dicetak. Di surat kali ini sedikit berbeda karena tidak ada lukisan kecil di dalamnya, namun kali ini bertuliskan tulisan yang bercetak besar dan tebal :   “ANDA ADALAH MAHAKARYA”   Kertas kali ini mulai tampak mengesankan bagiku. Lantas kucoba untuk menyimpannya dan disatukan dengan tempatku menyimpan kertas-kertas sebelumnya. Kali ini aku mengurungkan niatku untuk pulang lebih awal ke rumah, dan mulai mencoba untuk menenangkan diriku dan mencoba untuk memahami isi dari ketiga surat ini.             Kusandarkan tubuhku di salah satu pohon besar di pinggiran Danau Maninjau, dan memulai lamunanku.   “Orang iseng macam apa yang melakukan hal semacam itu kepadaku?, tanyaku dalam hati   Seakan-akan aku mulai mencoba untuk memecahkan teka-teki di dalam ketiga surat itu. Hingga ada  beberapa hal yang kusadari. Bahwa selama dua hari berturut-turut aku melihat lukisan di dua kertas pertama, wajahku tidak memucat, hal ini menjadi catatan besar, karena baru kali ini terjadi.   “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”   “Apakah pembuat pesan ini tahu bagaimana caranya agar aku tak lagi mempunyai aib seperti ini?”   “Apa makna dari mahakarya?”   “Dan apa hubungannya kucing itu dengan semua keabsurdan ini?”   Pertanyaan-pertanyaan ini seolah-olah mengalir terus-menerus dalam otakku. Dan semakin deras aliran itu semakin menggebu-gebu pula keinginanku untuk dapat menemukan jawaban dari tulisan-tulisan itu.   “Siapakah orang dibalik semua rentetan menarik ini?”   “Hal ini tidak akan mungkin sebuah kebetulan.”   Satu-persatu pertanyaan-pertanyaan ini seperti terus berputar-putar di dalam pikiranku. Sampai-sampai aku tak tersadar bahwa hari sudah mulai gelap, matahari sudah akan mengistirahatkan cahayanya di tempatku dan akan memulai cahayanya di tempat lain.             Meski belum puas, akhirnya tetapku paksakan untuk pulang ke rumah dengan segudang pertanyaan yang belum kudapati jawabannya.             Dan di sepanjang jalan, aku menyadari hal paling baru dalam hidupku. Untuk pertama kali, sejak aku dilahirkan 17 tahun lalu, aku merasakan sensasi tertarik akan sesuatu. Ya, seperti ketertarikanku mulai tumbuh, sekiranya satu persen. Dan rentetan kertas misterius itulah yang melahirkan sensasi itu.   Pertama kali dalam hidupku. Aku mulai tumbuh dengan satu persen ketertarikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD