Jika saja disini terdapat mesin waktu, mungkin saat ini ia ingin memutar kembali beberapa menit lalu agar tak menemui sosok lelaki yang berdiri di depannya, "urus lah kehidupan mu dengan Irene, aku berjanji takkan menganggu nya kedua kali." "Aku tidak perduli tentang apa jabatanmu Ero, aku juga tidak takut jika kau menghukum ku saat ini, tapi yang jelas aku ingin kau benar-benar pergi dari hadapanku," ucap Cloris tanpa menatap mata Piero. Piero memundurkan tubuhnya perlahan, menatap wajah Cloris dengan teliti, "kenapa kau pucat?" "Pergiiii!" teriak Cloris. Cloris benar-benar ketakutan jika pria yang di cap iblis mengetahui bahwa sebenarnya sekarang ia telah berbadan dua, "pergilah Ero! pergilah dari hadapan mataku." Cloris mendorong tubuh Piero pergi agar menjauh. Piero menarik lepas

