Istri Orang 5

2891 Words
** Setelah Dion kembali bergabung bersama kawan-kawannya sehabis menuntaskan hasratnya di kamar mandi, maka ke lima sahabat ini pun segera masuk ke dalam mall. Gaya mereka tengil dengan style yang berbeda-beda. Untuk membuat Dirinya semakin terlihat mempesona Dion memakai kaca mata hitam model kekinian serta beberapa kali terlihat menyisir-nyisir rambutnya dengan sela-sela jemari tangannya. Bau parfum pun menguar hingga menusuk ke hidung Gilbert, Udin, Jovian dan Ernest. Tak pelak Dion pun menjadi pusat perhatian ke empat sahabatnya. "Anjiir udah siap aja nih ngegaet istri orang," celetuk Udin sambil meringis hingga menampakkan deretan gigi putihnya. "Iya, udah wangi banget kayak gerai parfum pinggir jalan," sambung Gilbert sembari meletakkan satu tangannya di pundak Dion. Gilbert iseng mengendus-endus tengkuk Dion hingga deru hangat napas Gilbert menyentuh leher lelaki itu. "Woey, nggak usah gitu! Merinding gua," tegur Dion sambil meletakkan telapak tangannya di wajah Gilbert dan mendorong mundur wajah sahabatnya tersebut. "Habisan bau parfum lu beda, Njiiir. Murah ya ini? Beneran beli di pinggir jalan atau gimana?" tanya Gilbert dengan nada meledek. "Hahahaha ... dia mah meski parfum murah tetap aja ganteng, lah gua?" sahut Udin kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Syukur dah kalau lu sadar diri," cibir Dion. Mereka bercanda dan ngobrol sambil berjalan menyusuri mall yang luas dengan jumlah lima lantai. Yang paling atas arena bermain anak-anak, lantai empat foodcourt, lantai tiga fashion, lantai dua elektronik dan lantai satu supermarket, dll. Bukan genk huru-hara namanya kalau jalan nggak sambil jelalatan matanya. Dan mereka pun sibuk memilih target yang sekiranya cocok sama kriteria Dion. "Eh, memang harus ya istri orang? Janda aja dech biar lebih aman, janda kaya gitu ... soalnya gue nggak yakin kalian akan berfungsi dengan baik kalau gue kenapa-napa." Dion melakukan perundingan ulang, siapa tahu bisa digoyang syaratnya. Masih berasa ngeri aja karena ngebayangin pas lagi jalan bareng terus dipergoki lakinya. Orang Farish yang belum nikah sama Adelia aja ngamuknya bisa kayak gitu pas tahu itu cewek Dion pacari juga, apalagi kalau sudah suami istri, bisa terjadi pertumpahan darah dong. "Kalau janda kan nggak ada tantanganya, Bro. Yang kita cari bukan hanya duitnya, tapi juga tantangannya," tutur Ernest. "Bisa nggak diralat itu omongan lu? Bukan yang kita cari, pemilihan kosakata lu nggak tepat, Bro. Yang ngerasain ntar gue, yang kena tantangan gue, kalian mah tinggal lihat doang sama terima uang. Geblek banget dah ... ketahuan mamak sama bapak habis gue," oceh Dion kesal. "Mamak sama Bapak lu nggak akan tahu, yang bahaya malah abang lu, hahaha," sambung Udin. Benar juga sie, kalau emak sama bapak memang nggak akan tahu menahu soal beginian, tapi kalau Si Zain? "Gampang! Asal ada uang tutup mulut pasti aman. Jaman sekarang kalau ada duit mah segalanya bisa," sahut Ernest. "Jadi begini sie, kemarin malam Si Zain bawa mobil bagus pulang ke rumah. Ternyata setelah gue tanya itu mobil ceweknya. a***y, mujur bener dia kalau dapat cewek kaya-kaya mulu dan dari situ gue jadi tergiur pingin nyari cewek tajir juga. Bullshit dah sama cinta, cewek sekarang kalau nggak ada duit mana ada cinta?!" cerita Dion. Aslinya dia agak iri juga sama abangnya, karena abangnya ini selalu dibangga-banggain sama orang tuanya, secara Zain lebih pintar, bisa nyelesaiin kuliah cepet, nggak kaya dia yang kebanyakan bolos. Setelah lulus sarjana, Zain keterima di sebuah bank ternama gitu dah. Itu semakin menambah rasa kagum emak sama bapak apalagi saat Zain sudah nggak terlalu ngegantungin orang tua dalam hal keuangan. Berbeda dari Dion yang dikit-dikit nodong emak bapaknya. Karena Dion berprinsip, "Selama emak bapak gua kaya ngapain mesti capek-capek kerja?" Prinsip yang salah kaprah, tetap harus dan wajib usaha, karena harta perlahan akan habis dengan seiring berjalannya waktu. Makanya Dion shock benar pas tahu orang tuanya sudah bangkrut. "Siip! Cocok!" sahut Ernest dengan cepat sambil mengacungkan jempolnya. "Dari abang lu, lu jadi punya motivasi buat semangat morotin duitnya si tante-tante. Jangan mau kalah dari abang lu, Yon!" Ernest mengompor-ngompori. "Itu juga yang jadi bahan pertimbangan gue, tapinya-" "Takut ama lakinya, hahahaha," seru Gilbert, Udin dan Jovian berbarengan membuat orang-orang yang di sekitar mereka kompak menengok ke arah mereka. "Sialan! Kalau suruh ngeledek pada kompak banget!" decak Dion. Awal pencarian target dimulai di tempat perbelanjaan. Ke lima anak ini berpencar, Dion sama Ernest dan yang lainnya pergi bertiga. Mereka nggak ada niat buat beli barang apapun, cuma pegang-pegang doang, tapi nggak ada yang di beli barang satu pun. Mata mereka jelalatan sudah seperti penguntit yang mengawasi keadaan. Padahal yang diawasi istri orang, wkwkwkwk .... Karena hal ini mereka jadi gantian diawasi sama pramuniaga yang jaga. Because tingkah mereka sangat mencurigakan. "Banyak yang cakep itu emak-emak, mana berliannya pada gede-gede," gumam Ernest sambil mengelus-elus buah semangka yang ada di depannya. "Tapi itu ketuaan sialan lu! Udah kayak emak gue umurnya," sahut Dion yang lagi sok sibuk memilih jeruk. Milih doang, tapi nggak minat beli juga. Yang lagi mereka ghibahin seorang ibu-ibu sosialita kurang lebih berumur lima puluh tahunan yang lagi berburu daging. Wanita itu sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun. Penampilannya uwuu banget, meski sudah tua, tapi bodynya masih bahenol. "Dari mana lu tau kalau udah tua kaya emak lu? Masih sexyy juga," debat Ernest. "Ya kelihatan juga udah pada keriput," jelas Dion. "Mata lu yang eror, masih pada kenceng gitu gimana keriputnya?" bantah Ernest. "Pokoknya gue nggak mau ibu-ibu yang itu," tegas Dion. Meski dia yakin banget kalau bakalan gampang banget untuk ngeluluhin hatinya si ibu tersebut, karena dari tadi Dion udah dapat senyuman mulu dari si tante yang seusia ibunya tersebut. Hampir dua jam mereka berpencar, maka kini ke lima anak muda itu berkumpul di foodcourt untuk kongkow. "Anjiiir, perasaan semuanya nggak srek sama selera lu, Yon," celetuk Udin kesal. Dianya sampai video call mulu cuma buat nunjukkin hasil incarannya, tapi Si Dion menggeleng terus. "Lagian ini bukan hal yang mudah untuk gue lakuin. Untuk mencari tante-tante yang genit dan haus belaian itu nggak kayak beli kacang di pasar," tutur Dion sambil menyilangkan satu kakinya. "Iya, emang sulit, justru ini tantangannya," sambung Ernest. "Elu mah cuma ngomong doang, gue yang ngejalanin yang puyeng," sungut Dion. Rasanya pingin nyerah aja dari rencana konyol ini, tapi Dion malu banget kalau sampai dikatain cemen ama teman-temannya. "Semangat dong, Yon!" sahut Udin. "Lu yang harusnya semangat! Itu Si Siti keburu diembat sama orang," cibir Dion. "Hahahaha ... Siti oh Siti ...." celetuk mereka bersamaan. "Yon, ada yang bening tuch," bisik Gilbert sambil menunjuk wanita yang dia maksud dengan lirikan matanya. Dilihat seorang wanita sedang duduk sendirian di meja yang ada di depan mereka. Pakaiannya sexxy dengan belahan d**a yang rendah, semok bener dah pokoknya. Di meja wanita itu terdapat sandwich dan juga creamy latte pesanannya. Si wanita ini nampak sibuk dengan gadgetnya. Penampilannya oke banget dengan banyak perhiasan dan barang-barang branded yang menempel pada tubuhnya. Rambut wanita itu lurus hitam panjang seperti tipe-tipe wanita idaman Dion. "Iya, boleh juga tuch. Kalau bukan istri orang nggak napa-napa juga kan? Yang penting kan dapat duitnya," sahut Dion dengan mata berbinar-binar menatap si wanita berumur tiga puluh tahun tersebut yang sedang menyeruput es kopi pesanannya. "Nggak apa dech, aku diskon ... yang penting uangnya," ucap Ernest. Dari pada Dionnya minta mundur kan malah rugi dianya. "Ya udah sana gih deketin!" perintah Jovian. Dion sudah siap beraksi. Dia menyisir rambutnya dengan sela-sela jari. Parfumnya masih menyengat sejak tadi jadi nggak perlu ditambah lagi. Perlahan dengan gayanya yang sok cool Dion mendorong kursi yang dia duduki ke belakang agar dai bisa berdiri. "Wish you luck, Brother," ucap Udin sambil menepuk lengan Dion. Dion berjalan dengan gayanya yang perlente sambil melepas kaca mata hitam yang sejak tadi menempel di ke dua bola matanya. Si wanita incarannya itu pun menoleh karena merasa didekati oleh pemuda tampan yang langsung membuat bibirnya tersungging malu-malu. "Hei, sendirian ya?" tanya Dion memulai berbasa-basi busuk. "Hm ... seperti yang kamu lihat," jawab wanita itu seraya menyibakkan sulur anak rambutnya ke belakang telinga. Semakin cantik kalau lagi kayak gitu bikin Dion panas dingin. "Kalau ceweknya bening kaya gitu gue juga mau," gumam Udin yang memperhatikan aksi Dion dari tempatnya. "Tapi itu cewek yang kagak mau ama lu," ledek Gilbert. "Deketin Siti aja nggak becus pakai mau deketin yang modelan begitu," timpal Ernest. Cusss ... balik lagi ke Dion. "Aku boleh duduk di sini? Kasian kan kursinya nganggur," kata Dion sambil menyibakkan rambutnya ke belakang. Gayanya euy ... sok ganteng banget dah ... emang asli ganteng juga, wkwkwk .... "Oh, boleh, kok," sahut wanita itu mengijinkan dengan senang hati. Boleh juga ini cowok buat selingan. Pikirnya. "Thanks banget ya, Cantik. By the way nama kamu siapa? Aku Zayn." Dion mengulurkan tangannya pada wanita tersebut. Senyum ramah tak lepas membingkai wajah rupawan Dion. "Hai, aku Jenifer," ucap wanita itu menyebutkan namanya dan membalas uluran tangan Dion segera. "Wah ... Jenifer itu artinya melati, melati itu wangi kayak kamu yang harumnya semerbak, pasti parfum mahal, ya?" Gombaaal dech, tapi ujung-ujungnya nanyain harga parfum. "Eh, iya ini parfum nitip teman aku di Paris. Parfummu juga wangi banget, Zayn," puji Jenifer sambil meletakkan telunjuknya di d**a Dion dan merabanya perlahan. Anjayy ... greng dong, ya. Pekik Dion dalam batin. Dia tahu pasti sekarang teman-temannya lagi pada heboh di tempatnya sana. Cuma mereka berusaha buat nggak bising. Suara tawa mereka ditahan biar nggak bikin keonaran dan berimbas pada kenyamanan Jenifer yang lagi berusaha Dion pepet. Tasnya juga mahal gini, sepatunya merk terkenal. Gelang, kalung, anting ... dahlah bisa gua pastiin kalau dia memang cewek tajir melintir. Batin Dion sambil mengamati printilan mewah yang menempel di tubuh Jenifer. "Oh ya kamu mau pesan apa? Biar aku traktir," tanya Jenifer dan menarik jari telunjuknya dari d**a Dion. "Hufft ... harusnya aku yang bayarin dong, ya," cetus Dion sambil memegang jemari tangan Jenifer dan mengedipkan satu matanya. Asyiiik ... memang pro banget Si Dion kalau suruh ngedektin cewek. Jenifer tersenyum, memang dianya suka banget sama tipe cowok agresif macam Dion. Jadilah, lelaki yang mengaku bernama Zayn ini bakalan menang banyak setelah ini. Jenifer menggeser kursinya agar lebih mendekat pada Dion. "Kamu nakal, ya," bisiknya di telinga Dion membuat sekujur tubuh lelaki itu meremang. Dion meletakkan tangannya di belakang punggung Jenifer, posisinya sudah seperti orang merangkul begitu. Dion pun menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang di mana kawan-kawannya kini mengawasinya dengan terus berceloteh saling berkomentar. Dion mengacungkan jempolnya kepada sahabat-sahabatnya sambil menjulurkan lidahnya ke arah mereka. "Memang ahli banget dia kalau hal beginian," ucap Udin sembari menggelengkan kepalanya karena kagum dengan keahlian Dion dalam hal kewanitaaaan, eh jangan kewanitaan dong bahasanya kan jadi ambigu! Dalam hal mencuri hati wanita maksudnya. "Dicontoh tuch, Din! Habis ini praktekin sama Siti," cetus Gilbert. "Yang ada kalau Udin yang praktekin malah kena gampar, terus kata Siti begini, udah jelek kurang ajar pula, hahahaha ...." ledek Ernest lalu tertawa kencang membuat Jenifer dan Dion serempak menoleh. Ernest lantas membungkam mulutnya. "Mereka teman-teman kamu, ya?" tanya Jenifer yang kini meletakkan kepalanya bersandar di d**a Dion. "Iya, mereka emang suka resek, abaikan aja!" jawab Dion lalu mengelus rambut Jenifer. "Sialaan! Menang banyak dia, mana ceweknya kayak uler keket juga, hahaha ...." celoteh Jovian lalu menggebrak meja sampai minuman mereka terlihat berguncang dan ada yang tumpah sedikit. - "Ya udah kamu mau pesen apa? Pesen aja! Nanti aku bayarin, kok," kata Jenifer mengulang tawarannya, karena Dion belum juga memesan apapun hingga sekarang. "Kamu aja yang mesenin, apapun yang kamu sediain aku makan dan minum, kok," ucap Dion mulai keluar jurus-jurus gombalannya. "Uluuuh ... manis banget deh kamu." Jenifer mengelus-elus janggut Dion yang berselimut brewok-brewok tipis karena belum sempat dia cukur. "Manisan kamu lah, lama-lama aku diabetes nanti," cetus Dion. Dia menangkap tangan Jenifer yang ada di dagunya lalu menciumnya. "Wangi banget, aku suka," katanya membuat Jenifer tersipu malu. ** Singkat cerita dari perkenalan itu, Dion yang mengaku bernama Zayn, karena emang namanya Zayn Dion sie dan Jenifer saling bertukar nomor handphone. Tiga hari berkenalan Dion mendapatkan banyak hal dari wanita itu .... "Jadi ternyata dia masih single gitu ... nggak masalah kan, ya? Belum-belum gue udah ditransfer sejuta aja buat jajan." Dion melapor pada kawan-kawannya. "Hm ...." Ernest si ketua genk nampak berpikir. "Gimana enaknya? Kan rulesnya harus istri orang," imbuhnya. "Jangan begitulah! Kan yang penting dapat cuannya," rengek Dion. "Lagian gue suka banget karena dia mah sesuai sama kriteria gue, untuk dijadiin pacar ya bukan istri, kalau istri maunya yang kalem, hahahaha ...." Dasar lelaki, senakal-nakalnya dia pasti tetap pinginnya dapat istri dari wanita baik-baik. "Hm ... kalau menurut gue sie, oke-oke aja," celetuk Udin memberi pendapat. "Iya gue juga," sambung Gilbert. "Ya udah dech oke," timpal Ernest yang akannya memilih bersepakat dengan kawan-kawannya. "Terus udah dapat apa lagi kamu dari dia? Bobo bareng nggak?" tanya Jovian sambil mengedip-ngedipkan matanya. "Enggaklah!" seru Dion agak ngotot. "Belum maksudnya, hahahaha ...." ralatnya lalu tertawa terpingkal-pingkal. Sedang asyik ngobrol lalu cewek yang kemarin mengambil lintingan kertas arisan genk huru-hara melintas. Cewek bertubuh mungil dengan rambut yang diikat tinggi ke atas itu berjalan sambil mendekap buku dan menundukkan kepalanya. Dia takut kalau sampai diapa-apain sama Ernest and the genk. "Bu, es teh sama baksonya satu, ya," ucap cewek ini menyebutkan pesanannya pada ibu kantin. "Shuut! Itu cewek kayaknya anak baru, dech," gumam Ernest dengan suara pelan. "Anak pindahan maybe," sambung Jovian. Dion menoleh karena posisi cewek itu ada di belakangnya. Dan di saat itu juga si cewek tersebut berbalik badan dan mata Dion dan dia pun tanpa sengaja bertemu. Ganteng banget. Puji cewek mungil dan lugu itu dalam hati. Imut banget, manis kalem. Dion juga memuji dalam batin. "Fanya!" seru suara seorang kawan si cewek tersebut menyebutkan namanya. "Sini! Kita duduk di sini aja! Pesenin aku bakso sekalian ya!" ucap cewek yang belum Dion kenal namanya itu memerintah Fanya. Jadi namanya Fanya. Gumam Dion. Fanya kembali berbalik badan untuk memesankan kawannya makanan. Setelah selesai dia mempercepat langkahnya agar segera sampai ke meja di mana ada Mawar menunggunya di sana. "Kenapa, Nya? Lu digangguin sama itu genk huru-hara?" tanya Mawar sambil melirik ke arah Dion dan kawan-kawannya. Meja mereka terhalang dua meja yang lainnya. Fanya menggeleng. "Enggak kok, aman!" jawab Fanya. "Kita sama-sama anak baru di sini jadinya harus waspada," ucap Mawar. "Huum bener banget, Stel," sahut Fanya. Dia mencuri-curi pandang menatap ke arah Dion yang ternyata juga melirik kepadanya. Jantung Fanya berdebar dengan keringat yang mengucur di keningnya. "Kenapa lu, Yon?" tanya Ernest yang sejak tadi mengamati gelagat sahabatnya tersebut. "Nggak napa-napa, kok," jawab Dion berbohong, pada kenyataannya ada sesuatu yang kini tumbuh mekar dalam hatinya selepas bertemu dengan Fanya untuk yang ke dua kalinya. "Jadi habis ini aku mau janji ketemuan sama Jenifer. Dia mau jemput aku di kampus gitu, gue duluan, ya," pamit Dion. Mendadak moodnya hancur aja selepas bertemu Fanya. Dia pergi meninggalkan kawan-kawannya. Saat berjalan melewati meja Fanya, Dion berhenti sebentar untuk menengok pada Fanya yang juga menengoknya. Seketika tubuh Fanya merinding karena diperhatikan oleh Dion, tapi gadis itu hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Gue pikir gue jatuh cinta sama dia sejak pandangan pertama. Dia beda aja dari cewek yang pernah gue temui. Pikir Dion lalu melanjutkan langkahnya meski terasa berat. Ingin rasanya dia duduk di sisi Fanya dan memperkenalkan dirinya, tapi kenapa Dion si penakluk wanita ini serasa malu untuk melakukan hal yang sudah dia kuasai dengan baik. Aura Fanya berbeda, dia gadis yang tidak bisa diperlakukan sama dengan cewek-cewek genit di luaran sana yang bisa nemplok seenaknya. ** Dion menunggu Jenifer datang di parkiran kampus. Janjinya mereka mau ketemu jam dua belas siang, tapi ini sudah hampir setengah jam Dion menunggu. Pada saat menunggu itulah, Dion kembali bertemu dengan Fanya yang melintasi dirinya, gadis itu berjalan sendirian. Ada kakaknya itu lagi. Pikir Fanya yang lantas mempercepat langkahnya. Karena terburu-buru, ada satu buku yang Fanya yang terjatuh hingga gadis itu tidak menyadarinya. Dion berlari untuk mengambil buku itu. "Hei! Buku kamu jatuh!" teriak Dion, tapi Fanya malah menoleh sebentar kemudian berlari cepat seperti orang yang ketakutan. "Fanya Putri Nur Jameela." Dion membaca sebuah nama yang tertulis di bagian paling depan buku tersebut. "Namanya bagus banget, cantik kayak yang punya," puji Dion sambil menyunggingkan senyumnya. Tak lama setelah itu, Jenifer pun datang dengan mobil mewahnya. Namun, ada satu hal yang membuat Dion tercengang. Perasaan gue nggak asing sama mobil dan plat nomor yang dipakai Jenifer. Dion terpaku mengamati mobil tersebut dengan seksama. "Zayn, ayo! Katanya kita mau pergi!" tegur Jenifer yang turun dari dalam mobilnya. "Eh, iya. Ayo!" Dion pun masuk ke dalam mobil, tapi otaknya terus berpikir. Mobil ini sama persis kayak mobil yang dibawa sama Zian. Iya ... apa jangan-jangan, Jenifer ini .... "Zayn, kok bengong sie?" tanya Jenifer yang merasa aneh karena tumben-tumbenan Dion diam saja nggak cerewet seperti biasanya. "Nggak kenapa-napa, kok," jawab Dion. Jenifer menjalankan laju mobilnya. Perasaan Dion jadi enggak enak, jangan-jangan Jenifer ini pacar abangnya. Dari pada Dion makin galau nggak karuan, maka dia pun memutuskan untuk bertanya pada Jenifer secara langsung. "Jen, apa kamu udah punya pacar?" tanya Dion, nggak langsung main tembak kalau dia menduga Jenifer itu pacar abangnya. "Dih ... kenapa baru nanya sekarang? Nggak dari kemarin-kemarin pas awal kita ketemu?!" protes Jenifer. Wanita berumur tiga puluh tahun itu berpakaian sangat sexxy. Meski lebih tua dari Dion, tapi Jenifer terlihat masih muda di bawah dari usianya yang sebenarnya. "Ya jawab aja sie, aku takutnya ntar ada yang marah, Beb," ucap Dion lalu mengelus wajah Jenifer yang halus dan mulus. "Kita have fun aja! Nggak usah peduliin apa statusku, karena aku juga nggak peduliin apa statusmu. Pokoknya aku belum nikah, tapi kalau kaawin ... I can do it ...." Jenifer menjawab dengan genit lalu mengerlingkan sebelah matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD