Kita Beda Kasta

1214 Words
Yolanda memilih mendiamkan Yardan dan tak merespon apapun yang pria itu bicarakan. Jadi bisa dibayangkan sendiri bagaimana canggungnya situasi di mobil sekarang. “Jam sudah menunjukkan angka 10 malam, Yol. Apakah kau tak izin saja sekalian di tempat kerjamu? Kau juga takkan bisa ke sana dalam kondisi hujan lebat begini,” tegur Yardan yang kemudian terdengar jauh lebih pengertian. Didiamkan Yolanda membuatnya mengerti akan kesalahannya. Yah, ia pasti terdengar terlalu menyepelekan pekerjaan yang Yolanda geluti. Padahal jujur di hati Yardan tak ada maksud seperti itu. Ia yang memang sudah terbiasa bicara lugas ternyata kali ini harus menyalahkan mulut kurang ajarnya itu. “Kau sungguh akan terus mendiamkanku begini? Kau masih begitu marah dengan ucapanku beberapa jam yang lalu, ya? Aku sungguh minta maaf jika ucapanku menyinggungmu, Yol.” Akhirnya Yardan benar-benar menghilangkan gengsinya untuk minta maaf. Yah, tak ada gunanya terus mempertahankan gengsi dan tak mau minta maaf. Ia lebih tak suka didiamkan begini, sungguh. Yolanda menoleh sekilas lalu berdehem pelan. “Aku akui tersinggung dengan ucapanmu, Yar. Kau seperti merendahkan mata pencarianku saja,” desisnya yang serta merta membuat Yardan makin merasa bersalah. “Iya, aku paham kenapa kau marah.” Yardan tak bisa menyahut apapun lagi selain membenarkan ucapan wanita ini. Yolanda kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arka. “Ya, aku tidak masuk kerja hari ini. Kau izinkan saja pada bos bagaimana caranya. Sudah dulu ya, di sini hujan deras jadi suaramu tak terdengar jelas. Iya-iya nanti akan kujelaskan kalau sudah tiba di rumah.” Yolanda menutup telefon dan memasukkannya benda pipih itu kembali ke saku celananya. “Eh, kenapa melihatiku begitu?” tanya Yolanda berjingkat kaget saat menoleh pada Yardan dan malah mendapati dirinya itu memicingkan mata menatapnya. Yardan bahkan memajukan badannya untuk lebih menelisik Yolanda membuat wanita itu ketar-ketir takut ia ingin berbuat aneh. Namun Yardan memundurkan badannya dan menatap ke arah depan tanpa menyahuti pertanyaan Yolanda akan sikapnya barusan. “Heh, kau itu kenapa?” sengak Yolanda. “Tidak apa-apa.” Barulah Yardan menjawab dengan sedikit ketus. Yolanda mengernyit tak paham. Aneh sekali pria ini, batinnya. Sedangkan di pikiran Yardan sendiri ia juga tak tahu kenapa kesal melihat Yolanda bertelepon dengan Arka barusan. “Apa kau sedekat itu dengan Arka?” celetuknya tiba-tiba yang membuat Yolanda menoleh cepat padanya. Dengan sedikit bingung mendapat pertanyaan rancu dan tak terduga itu, Yolanda tetap menyahutinya. “Ya, aku memang sedekat itu dengannya. Dia sudah kuanggap keluarga malahan karena kami punya persamaan nasib. Arka lah yang selalu ada untukku selama ini,” jelasnya yang tersenyum manis kala membayangkannya. Yah, ternyata Yolanda baru menyadari begitu berartinya si Arka ini. Hanya dia yang setia menemaninya di saat ia ditelantarkan dan dihujat sana-sini. Niatnya sepulang dari sini, Yolanda ingin menemui Arka untuk mengucapkan banyak terima kasih. Yah, berterima kasih karena dirinya tetap mau bertahan dengan seorang Yolanda beserta memahami kepribadian buruknya. Karena jika diingat-ingat, Yolanda tak pernah sekalipun berterima kasih atas hal itu dan seringnya berucap kalimat pedas pada si Arka. Jika ia tipe pria baperan, sudah pasti sejak lama Arka sudah meninggalkannya. Namun beruntung Arka tidak begitu. “Heh, kenapa kau senyum-senyum begitu? Kau jangan sampai kesambet di sini karena aku takkan mau bersimpati padamu dan akan menendangmu turun dari mobil jika sampai iya kesurupan!” cibir Yardan yang memergoki Yolanda tersenyum manis kala menceritakan soal Arka. “Kau tenang saja, aku tidak sedang kesurupan!” kelakar Yolanda lalu menyenderkan kepalanya di badan kursi dengan santai. Ia bersedekap lalu memilih memejamkan mata. Hal yang sama dilakukan juga oleh Yardan. Yah, tiba-tiba saja kantuk menyerang dan membuat keduanya ikut merasakan lelapnya tidur sama seperti Leta yang sudah sejak tadi bermain di alam mimpi. ***** “Eh, Yardan ayo bangun!” panggil Yolanda sedikit panik. Yardan menggeliat pelan lalu bicara dengan suara serak khas bangun tidur. “Ada apa?” “Kau tak pulang, hah? Apa maumu kita tetap di tempat ini sampai besok pagi?—Lihatlah hujannya sudah berhenti. Entah sejak kapan, tapi kita malah ketiduran sampai jam 11 malam.” Yolanda menggerundel yang membuat Yardan pening. “Iya-iya aku antar kau pulang. Tunggu beberapa menit dulu biar aku 100% memulihkan kesadaranku!” jelas Yardan yang menyempatkan diri mengecek putri kecilnya di jok belakang. Ia bernafas lega kala melihat Leta masih tidur dengan lelap. Yolanda mengangguk paham. 2 menit kemudian Yardan menginjak pedal gas mobilnya. “Kau diantar ke rumahmu atau ke bar tempat kerja?” tanya Yardan melirik sebentar ke arah Yolanda yang diam saja sejak tadi. “Ke kost-an aku saja. Toh, sudah jam segini dan aku juga terlanjur minta cuti.” “Di mana alamatnya?” tanya Yardan kembali, namun Yolanda tidak langsung menyahutnya. Yardan mengangkat kedua bahunya acuh. Ia menduga wanita di sebelahnya itu sedang tidak mood. Ia tak mau menyenggol singa emosian begitu karena bisa menyalak padanya nanti. Jadilah Yardan tetap mengendarai mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Ia pikir nanti Yolanda akan mengatakan alamatnya jika sudah hampir tiba. “Nanti di blok Kompleks Kenanga kau bisa turunkan aku di sana. Nanti aku bisa pulang sendiri jalan kaki.” Akhirnya Yolanda membuka mulut untuk memberi petunjuk alamat rumahnya. “Memangnya kenapa tidak mau kuantar sampai rumah? Aku tak masalah, kok,” tawar Yardan yang ditanggapi gelengan kepala oleh Yolanda. “Mobilmu tak bisa masuk sana. Kompleks rumahku itu hanya bisa dilalui lewat jalan setapak.” Seketika Yardan merasa bersalah karena ia sempat berpikir yang tidak-tidak. “Kalau begitu aku antar saja sampai rumah dengan jalan kaki. Ini masih hujan gerimis jadi kau perlu payung. Aku bawa satu payung saja jadi sekalian kuantar begitu maksudku.” Yardan berucap lembut. Ia mengambil payung hitam di bawah kursi dan membuka pintu mobil. “Eh, tapi bagaimana dengan Leta? Nanti jika dia bangun dan tak mendapati siapapun di mobil, dirinya bisa panik,” henti Yolanda tak ingin merepotkan Yardan. Yardan tersenyum manis membuat Yolanda sempat tertegun. Yardan keluar mobil dan membuka pintu belakang. Ia menggoyangkan pelan tubuh putrinya hingga si empu menggeliat pelan. “Ada apa, Yah?” tanya Leta terduduk pelan sembari mengucek matanya. “Leta mau ikut ayah mengantar Mama Yolanda ke rumahnya?–atau Leta tidak masalah ditinggal di mobil untuk melanjutkan tidur nyenyakmu, hem?” Seketika wajah Yolanda tersipu begitu saja kala mendengar Yardan memanggilnya dengan sebutan mama di depan si Leta. Leta yang awalnya masih malas, kini sudah membuka lebar matanya dan berdiri dengan semangat. “Aku mau ikut—Leta mau ikut antar Mama, Yah.” Rengekan Leta membuat desiran halus di hati Yolanda. Ia merasa seperti Leta ini memang anaknya saja. Yardan tersenyum melihat aktifnya Leta yang jika sudah menyangkut si Yolanda ini. Dengan sigap Yardan menggendong Leta dengan sebelah tangan. Yardan kemudian berjalan ke pintu mobil sebelah di mana Yolanda berada. “Kau bisa bawa payungnya, bukan?” pintanya pada Yolanda saat si wanita itu menyembulkan kepalanya. Yolanda mengangguk dan keluar dari mobil. Kini ketiganya berjalan kaki menuju ke kost an Yolanda. Jika dilihat-lihat begini, mereka sudah seperti keluarga kecil yang bahagia. Leta yang ada di gendongan sang ayah, sedangkan sebelah tangan Yardan memegangi pundak Yolanda untuk lebih merapatkan diri agar tidak kehujanan. “Ini tempat tinggalmu, Yol?” tanya Yardan memastikan bangunan kecil sepetak yang kusam itu adalah hunian wanita di sebelahnya. “Ya ...ini tempatku tidur, makan, dan istirahat. Sangat kecil dan tentu saja berbeda jauh dari rumah bak istanamu, bukan?” sahut Yolanda terdengar sengit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD