"Apa itu?" tanya Ganindra saat beberapa kali mengetuk pintu Fiona tetapi tak ada jawaban. Pintu kamarnya terbuka setengah. Mengumpulkan sedikit keberanian, Ganindra mengintip ternyata Fiona sedang menatap jendela. Dia melamun sembari memegang sebuah kertas. "Ah," Fiona berjengket kaget. Kedua tangannya buru-buru ditaruh di belakang. "Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Ganindra mengangkat satu alisnya curiga. "Gak kok," elak Fiona. "Jangan seperti itu. Kamu, aku udah anggap keluarga. Jika kamu tidak nyaman di sini. Aku yang merasa bersalah," bujuk Ganindra. "Ehm aku takut ini membebanimu," ungkap Fiona. "Ceritakan lebih dulu kepadaku. Jika bisa kulakukan akan kulakukan, jika tidak ya aku memang bukan manusa super," kekeh Ganindra, Fiona ikut tersenyum. "Ini," Fiona menyodorkan sebuah

