BERITA BAIK DAN BERITA BURUK

1639 Words
Sifat apa adanya dan simple keduanya ternyata sangat membantu dalam mengurus pernikahan mereka. Amelia mengerti dengan kesibukan dan jarak yang dimiliki Baskara untuk mengurus apapun menjelang pernikahan. Urusan pernikahan semuanya dilakukannya sendiri. Dia hanya perlu menyetor segala tagihan ke Baskara dan secepat itu Baskara akan segera membayar lunas semua. The power of money tentu saja. Mengenai foto pra-wedding urung dilaksanakan keduanya. Amelia hanya perlu memilah foto kebersamaan mereka selama 7 tahun, anggaplah sebagai alur cinta perjalanan keduanya. Kerap kali menghabiskan waktu dengan vespa antik yang dimilikinya, Baskara dan Amelia selalu menyempatkan diri berwisata mengelilingi kota Jakarta dan Bandung sehingga membuat Amelia mempunyai banyak stok foto nantinya untuk ditampilkan di sepanjang jalan masuk menuju gedung resepsi. Persiapan selama sebulan ternyata membuat hari-hari belangsung lebih cepat. Semuanya sudah beres, gedung pernikahan, katering dan apapun persiapan menuju acara sakral keduanya. “Sayang, kamu jadi balik besok kan. Seminggu lagi kita menikah loh,” ucap Amelia memastikan kedatangan Baskara. Dia berbaring di atas tempat tidurnya, saat sudah membersihkan diri sehabis pulang bekerja. “Iya dong babe. Aku udah ajuin cuti, dan nunggu suratnya keluar hari ini. Besok pagi aku terbang menuju Jakarta,” ucap Baskara yakin. “Kalau gitu sampai ketemu di depan penghulu sayang.” “Iya Nyonya Baskara Adiwisastra.” “Ehm terdengar indah.” “Iya dong. Babe mata kamu kok gitu?” tanya Baskara dengan raut wajah serius. “Eh kenapa/” Amelia bangkit dan mencari cermin untuk melihat kondisi matanya, jangan sampai dia memilik kantung mata menjelang pernikahan. Dia ingin tampil sempurna dan kondisi prima. “Gak kok, biasa aja gak ada apa-apa,” kata Amelia setelah memastikan beberapa kali di cermin kecil di tangannya. “Ah bener. Aku lihat di mata kamu, kok ada aku.” “Hahaha...receh tapi…sayang.” “Yah masih receh, kapan kertasnya dong?” “Coba lagi dong sayang.” “Iya deh, besok aja. Ya udah, have a nice dream babe. Sleep tight.” “You too.” “I love you.” “I love you seven years,” ucap Amelia dengan senyum sumringahnya. Satu yang masih dirahasiakan Baskara dari Amelia, bahwa dirinya tidak mendapat tiket pesawat untuk terbang besok. Pesawat dengan kapasitas kecil dan jumlah penumpang yang terbatas membuatnya sulit mendapatkan tiket. Tapi itu tidak menghalangi dirinya untuk pulang dan melangsungkan pernikahan. Satu hal yang mungkin menjadi opsi baginya adalah meminta tolong kepada salah satu penumpang untuk mengganti tiketnya ke hari yang lain atau memberikan ganti rugi uang tunai yang sepadan. Setidaknya alasan pernikahan diharapkannya nanti bisa menjadi salah satu alasan kuat untuk menerima permintaannya itu. Surat pengajuan cuti selama dua minggu sudah didapatkannya. Dia bahkan sudah memotret surat tersebut dan mengirimkan ke Amelia. Seminggu menjelang pernikahan dan seminggu setelah pernikahan dianggap cukup baginya dan memboyong sesegera mungkin Amelia untuk hidup bersamanya di Kalimantan. Penerbangan pagi di bandara yang kecil membuatnya berjalan bingung dan mencari sosok yang tepat untuk memuluskan rencananya. “Selamat pagi!” ucap Baskara sopan ke arah seorang pria tampan memakai kacamata hitam duduk yang sibuk menscroll tablet pintarnya. “Selamat pagi!” ucap pria itu singkat dan memandang wajah Baskara sekilas kemudian kembali beralih menhadap perangkat pintarnya. “Permisi, perkenalkan nama saya Baskara Adiwisastra,” ucap Baskara menyalami pria itu. “Saya Ganindra Perkasa Adiwiguna,” tanpa berniat membalas jabatan tangan Baskara, dan membuat tangan Baskara menggantung beberapa detik. “Maaf, saya bisa minta tolong” “Hmm…” ucap Ganindra singkat. “Saya tidak mendapat tiket untuk penerbangan hari ini. Apa bapak bersedia untuk menukar tiket bapak ke hari lain atau mungkin mendapat uang ganti rugi yang setimpal,” tawar Baskara walaupun dia tidak yakin pria itu akan menyetujui permintaannya karena sejak tadi dia tidak berminat untuk mengobrol dengannya tetapi apa salahnya mencoba. “Tidak, terima kasih. Saya tidak berminat,” pria itu hendak beranjak pergi tapi dicekal oleh Baskara. “Tolong, saya sangat berharap ini dari bapak,” mohon Baskara sekali lagi. “Lepas!!!” perintah pria itu dingin. “Saya akan menikah seminggu lagi. Saya harus berada di Jakarta besok. Tolong.” “Hmm... masih seminggu. Anda bisa berangkat lusa,” ucap Ganindra cuek. Sekedar diketahui penerbangan di bandara ini hanya dilakukan tiga kali seminggu. “Gak akan keburu. Sebelum akad nikah, masih ada ritual pernikahan yang harus saya lakuin. Tolong saya, saya sangat berharap ini dari anda,” ucapan memohon dari Baskara membuat Ganindra menimbang permintaan Baskara. “Baiklah, tapi awas saja kalau anda berbohong dan ini hanyalah akal-akalan anda saja,” ancam Ganindra dengan sorot mata tajam yang tidak bisa dilihat oleh Baskara. “Tidak pak, apa perlu bapak berbicara dengan tunangan saya.” “Tidak, tidak usah saya tidak punya urusan dengan dia” “Terima kasih pak, sekali lagi terima kasih.” “Sama-sama. Soal ganti rugi, gak usah. Saya lebih dari mampu untuk membiayai perjalanan saya sendiri,” tolak Ganindra. “Baik, terima kasih banyak pak. Saya sangat senang bertemu dengan orang yang baik seperti bapak,” tidak ada balasan dari Ganindra hanya anggukan sekilas yang tidak bisa ditangkap oleh mata. Baskara dengan langkah tergesa-gesa menuju pintu pesawat bahkan setengah berlari. “Hei…” teriak Ganindra yang tak didengar Baskara. Sebuah buku jatuh dan ditinggalkan Baskara tepat di depan Ganindra. “Permisi tuan, maaf saya lama di kamar mandi tadi,” seorang pria seumuran dengan Gandindra. Asissten Ganindra bernama Adimas mendekat. “Iya gak masalah, tolong kamu usahakan penerbangan hari ini, kalau perlu booking pesawat untuk kita berdua. Kita akan berangkat menggunakan pesawat itu. Saya tidak ingin telat ke Jakarta sekarang.” “Tapi tuan, saya kira kita sudah memesan tiket pesawat komersil sebelumnya,” ucap Adimas heran. Karena setahunya dia sudah memesan tiket untuk dua orang, agak aneh memang seorang Ganindra ingin bergabung dengan penumpang lain. Tapi kenyataannya sekarang toh dia sendiri yang membatalkannya. “Tidak jadi, seorang pria membujukku unutk menukar tiket pesawat miliknya karena mengejar acara pernikahannya,” jawabnya. “Oh begitu tuan. Baik, saya mengerti,” tidak ada lagi bantahan dari Adimas. “Iya, saya tidak ingin menunggu lama. Cepat siapkan pesawat untuk kita,” perintah atasannya adalah titah yang harus dipatuhi dan tidak perlu dibantah. “Baik tuan. Saya persiapkan secepatnya.” Adimas agak menjauh dan menghubungi seseorang. Semuanya dengan kekuatan uang dan kekuasaan akan terjadi. Keinginan Ganindra terwujud. Pesawat itu akan disiapkan dalam waktu dua jam. Di lain tempat, Amelia tidak henti melihat jam di tangannya. Menunggu dengan bahagia akan kedatangan calon suaminya, tapi ada rasa cemas juga dalam hatinya entah perasaan apa itu. Setidaknya dia harus menyelesaikan pekerjaannya, dia akan menjemput Baskara tunangannya di Bandara. “Astaga lihat nih, berita pesawat jatuh,” ucap pria di depannya menatap layar ponsel pintar di tangannya. Pria yang duduk dalam antrian CS. Amelia agak terganggu dengan suara itu, padahal dia sedang menghadapai calon nasabah di depannya. “Iya wah pesawatnya menghilang dari radar sejak lepas landas dan belum diketemukan” tambah pria di sampingnya, Amelia semakin menajamkan pendengarannya. Deg Ada rasa cemas seketika di hati Amelia tapi demi profesionalitas dia mengabaikan itu sejenak. Ingin sekali dia membuka handphonenya dan mencari tahu kebenaran berita itu. Apalagi berita yang beredar di internet kadangkala masih diragukan keabsahan beritanya. Rasa penasaran Amelia akhirnya bisa dituntaskannya setelah jam pulang kantor tiba. “Yan, apa benar ada insiden pesawat jatuh?” tanya Amelia ke teman kantornya Yanti saat dia sudah bersiap akan segera pulang. “Iya benar, Mel. Di TV juga ada kok, jadi ini udah bukan berita hoax.” Dia kemudian membuka kanal berita di handphonenya dengan tangan sedikit bergetar. Sebuah pesawat kecil rute Batu Licin-Banjarmasin hilang dari radar sejak lepas landas dari bandara Bersujud batu licin tadi pagi sekitar pukul 09.45 Hingga saat ini pihak terkait belum mendapat informasi jatuhnya pesawat tersebut serta keadaan penumpang dan awak kabin di dalam pesawat tersebut. Apalagi kejadian ini kemungkinan akan menjadi perhatian besar, setelah diketahui bahwa salah satu penumpang di dalam pesawat itu adalah Ganindra Perkasa Adwiguna, pewaris kerjaan bisnis Adiwiguna Corporation yang bergerak di bidang industri pertambangan. Kami akan terus memberitakan perkembangan jatuhnya pesawat ini. Sekian dari kami tivi sebelas melaporkan. Selamat sore. Ada harapan dari Amelia bahwa semoga saja Baskara bukan salah satu penumpang di dalam pesawat tersebut, tanpa lupa untuk bersimpati kepada penumpang di dalam pesawat itu. Dia mencoba menghubungi ponsel Baskara, tapi hanya jawaban dari operator saja. Sementara itu dua jam setelah pesawat yang jatuh itu berangkat. “Tuan….”ucap Adimas denga raut wajah cemas. “Ya.” “Kita memang sebaiknya ke Jakarta sekarang Tuan. Ada kabar buruk dan kabar baik.” “Apa itu?” tanya Ganindra. “Mulai dari baik dulu” lanjutnya lagi “Pesawat yang hampir kita tumpangi ternyata jatuh saat lepas landas tadi dan untungnya kita tidak berada di dalamnya Tuan,” tatapan Ganindra masih penuh misteri, datar tapi juga seperti penasaran. “Kabar buruknya?” tanya Ganindra lagi. Tapi masih duduk dengan melipatkan kakinya. “Di kantor pusat mendadak panik, setelah diketahui tuan di dalam pesawat itu,” ucap Adimas. “Hm…menarik. Tentu saja orang yang selama ini mengincar posisiku berbahagia dengan berita kematianku,” senyum misteri Ganindra terbit. Perusahaan yang diwariskan ke Ganindra dan adik perempuannya Ayodia Putri Adiwiguna, tentu saja jadi incaran bagi orang yang iri terhadap keberhasilannya. Setelah kehilangan orangtuanya di usia 17 tahun, akibat kecelakaan mobil yang mengenaskan. Ganindra yang masih beranjak dewasa harus mengambil alih perusahaan milik orangtuanya. Berkuliah dan bekerja membuatnya harus menjadi dewasa secara instan ditempa oleh kerasnya persaingan bisnis. “Maaf tuan, saya terpaksa menggunakan pesawat jet pribadi kita karena ternyata peswat komersil yang ingin kita booking mungkin akan membutuhkan waktu lama,” ucap Adimas saat berada pesawat jet pribadi dengan logo AC (Adiwiguna Coproration) di ekor pesawat itu. “Kamu memang tidak pernah membuat saya kecewa Dimas.” “Kenyamanan tuan adalah tugas saya.” Pesawat pribadi itu lepas landas menembus angkasa mengitari langit biru dengan hamparan awan putih. Terlihat gagah, namun ternyata saat kecil saat dilihat dari daratan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD