30

1112 Words

“Omong-omong,” kataku sembari berbisik kepada Morgan. “Kamu sadar, enggak? Cewek-cewek sedari tadi nengok ke meja kita. Aku yakin mereka pengin minta nomor kontakmu deh.” Manusia memang makhluk yang menyukai keindahan. Morgan seperti api yang menghipnosis ngengat. Tanpa sadar mereka terlalu dekat dengan kobaran api. Terbakar perlahan oleh asmara. Mati. HEOL! Aku tidak mau! Cukup mengagumi saja, tidak perlu berpikir menguasai. Kecuali ada diskon. Maksudku, kecuali Morgan memberikan diskon. Maka, aku bisa mempertimbangkan-hmmm pikiranku mulai melantur. Inilah dampak buruk terlalu lama terkena paparan ke-gan-teng-an Morgan. Bisa-bisa aku ingin mengikat Morgan kemudian mengarunginya-eh, otak! Otak, tolong kembali ke mode normal! Jangan sinting. “Apa alamat surelmu?” “Huh?” Alih-alih menj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD