Bila pandangan bisa membunuh, maka sekarang aku pasti sudah jatuh bersimbah darah. Bukan hanya sekadar bersimbah darah, melainkan kejang-kejang dan meracau seperti kesurupan. Memang separah itu intensitas tatapan yang aku peroleh. Noa tidak tanggung-tanggung memperlihatkan ketidaksukaan. Seolah aku adalah sasaran tembak dan dia berkali-kali melemparkan anak panah kepadaku. Antara sadar dan tidak sadar, jelas Tuan Tokoh Utama tengah berada pada titik EDAN. Misal secara kasar aku terjemahkan bahasa Noa sebagai berikut: “Beraninya kau selingkuh. Apa kau tidak belajar dari pengalaman azab pasti menimpa manusia yang tidak setia?” Semacam itu. Bisa saja aku membalas perlakuan Noa dengan cara menari di atas kepedihannya, sembari bernyanyi, “Cause, baby, now we got bad blood. You know it used

