44

1143 Words

Flora langsung menghubungi Morgan. Kami tidak kembali ke ruang gala dan memilih menunggu di ruang lain, ruangan khusus yang disediakan bagi undangan yang tiba-tiba merasa tidak enak badan. Begitu Morgan tiba, aku bisa melihat ekspresi di wajahnya; marah, sedih, dan menyesal. Dari Flora aku tahu bahwa alasan dia menyusul lantaran Morgan melihat Noa yang tiba-tiba meninggalkan meja. “Kita pulang,” kata Morgan sembari menyampirkan jas ke bahuku. Dengan patuh aku mengikuti ajakan Morgan. Flora tidak bisa ikut pulang karena harus mengikuti acara sampai selesai. Manajer Flora, yang duduk di meja lain, memberi intruksi agar tetap bertahan. Sepanjang perjalanan aku memilih bungkam. Mata terpaku ke jalanan sementara air mata menetes membasahi pipi. “Del,” Morgan memanggil. Aku menoleh, m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD