25

1157 Words

Konsentrasiku buyar. Bukan karena mengetahui Noa tampil gemilang sebagaimana tokoh utama, melainkan karena reaksi Jane yang nggak-ketolongan-ngeselinnya. “Del, matamu butuh sabun?” Jane mencolek lenganku. “Biar bagaimanapun, kan, kita pernah satu almamater dengan Kak Noa. Ayolah usaha sok kenal. Siapa tahu dia tertarik nawarin proyek.” Nepotisme masih berlaku di kalangan sesama almamater, mungkin itulah yang Jane maksud. Aku ingin bilang, “Jane, itu nggak mungkin. Kak Noa hanya akan tertarik magnet tokoh utama perempuan, yakni Flora. Kita hanya akan dipandang sebelah mata doang.” Namun, aku mengurungkan niat; memilih menelan seluruh uneg-uneg ke dalam gumpalan kekesalan dan mencoba alasan yang masuk akal. “Aku cuma seorang ilustrator,” kataku sembari menepuk tangan Jane. “Mana ada ceri

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD