32

1364 Words

“Aku bisa jelasin,” kataku sembari berusaha membentengi diri dengan argumen. Bagaimanapun juga dalam kondisi apa pun emosi harus stabil agar tidak memengaruhi kinerja otak. “Kakak ingat Morgan? Nah, dia kembaran Flora. Teman Adel semasa SMA.” Jamie masih mengenakan setelan lengkap, sama seperti Morgan. Tebakanku, dia baru pulang dari kantor dan langsung memilih belanja kemudian meluncur ke apartemenku. “Kakak, ingat Flora? Teman sekelas Adel yang paling cantik, pintar, menawa—” “Adel,” Jamie memotong ucapanku. “Kakak tahu siapa dia. Yang pengin Kakak tahu adalah alasan dia bisa ada di sini.” “Ih aneh deh. Ya sudah pasti itu karena aku yang mengundang,” selorohku mencoba bergurau agar bisa meredakan letupan kemarahan dalam diri Jamie. “Nggak mungkin dia bisa datang ke sini tanpa undan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD