Rencana liburan selama satu minggu pun gagal total. Begitu Jamie mendapat panggilan darurat, keputusan pulang pun tidak bisa diganggu gugat. Sekalipun aku memohon dan berkata, “Kak, aku aman-aman saja kok di sini.” Aih tidak mempan. Jamie wajahnya telanjur seperti bulan kesiangan. Kabar apa pun yang disampaikan sekretaris pribadi kepada Jamie, maka itu pastilah berita buruk, tidak menyenangkan, mengancam keselamatan, dan mungkin sama busuknya dengan skandal pelakor. Mau tidak mau, aku mengalah. Kami langsung memesan penerbangan pada malam itu juga dan aku hanya bisa merasa senang ketika di bandara menemukan novel incaranku lengkap dengan jajanan serbacokelat dan keripik. Untung aku sudah membeli oleh-oleh bagi ketiga teman baikku. Andai belum, maka rasa bersalah akan menghantuiku (sepanj

