Kabut di Atas Awan Pesawat Airbus yang membawa mereka kembali ke Jakarta membelah gumpalan awan kelabu, seolah mencerminkan suasana di dalam kabin kelas bisnis yang membeku. Tidak ada percakapan renyah seperti saat keberangkatan. Papa Bram tampak tertidur pulas karena kelelahan, sementara di baris belakangnya, sebuah perang saraf yang jauh lebih mematikan sedang berlangsung tanpa suara. Ressa duduk di dekat jendela, menatap sayap pesawat yang bergetar. Ia bisa merasakan tatapan Tante Ratna dari kursi di seberang lorong—tatapan yang tidak lagi hangat, melainkan tajam dan penuh perhitungan. Sejak percakapan di rooftop semalam, Ratna tidak menegur Ressa sepatah kata pun. Keheningan itu jauh lebih menyiksa daripada makian. Di baris belakang Ressa, Regin duduk bersandar dengan headphone menu

