Bab 30

1192 Words

BAB 30: Perjamuan Sunyi Sang Iblis Malam di Jakarta merayap seperti jelaga yang menyapu kaca jendela, kelam dan menyesakkan. Di rumah besar milik Papa Bram, keheningan telah menjadi tuan rumah yang absolut. Ressa akhirnya jatuh terlelap, kelelahan oleh ketegangan emosional yang menguras jiwanya. Ia meringkuk di balik selimut sutranya, tidak menyadari bahwa bayangan yang duduk di depan pintunya baru saja bangkit dengan gerakan seringan kucing hutan. Regin berdiri, membenahi letak jaket parka hitamnya. Ia menatap pintu kamar Ressa sejenak, sebuah tatapan yang penuh dengan pemujaan yang sakit, sebelum ia berbalik dan melangkah menuruni tangga tanpa suara. Langkah kakinya seolah tidak menyentuh pualam; ia telah melatih dirinya untuk bergerak dalam bayang-bayang sejak ia masih kecil, menginta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD