Bab 32

1231 Words

Pagi itu, Ressa melangkah masuk ke lobi gedung pencakar langit di kawasan Sudirman dengan perasaan yang masih tidak menentu. Aroma kopi di kafe lobi dan bunyi mesin absen sidik jari biasanya menjadi penanda bahwa ia telah masuk ke dunia profesional yang aman—jauh dari kegilaan Regin di rumah. Namun, begitu ia keluar dari lift di lantai sepuluh, suasana di divisi pemasaran terasa aneh. Rekan-rekan kerjanya tidak duduk di depan komputer mereka. Mereka justru berdiri berkelompok, berbisik-bisik sambil melirik ke arah kubikel milik Ressa. Ressa mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat seorang pemuda sedang duduk santai di kursi kerjanya. Pemuda itu mengenakan jaket varsity hitam yang mahal, celana jins robek di lutut, dan sepatu kets edisi terbatas—khas gaya mahasi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD