6. Isu

1195 Words
Kinara merapikan catatan dan alat tulisnya setelah mata kuliah terakhir hari ini usai. Manajemen akuntansi sedikit membuatnya pusing, apalagi dosen muda killer yang mengajar menambah otak mahasiswanya semakin panas. Bagaimana tidak, dosen itu masih muda dan tampan tapi galak setengah mati. Ia tidak membiarkan mahasiswanya ngobrol sedikit saja dengan mahasiswa lain, apalagi melihat mahasiswa ngantuk dan tertidur, tidak tanggung-tanggung, hukuman nilai D menanti. Kinara sedikit kesal karena tadi ia sempat ngobrol sedikit dengan Amel--sahabat Kinara, dan langsung mendapat teguran darinya. Arya namanya, usianya bahkan masih 25 tahun. Kinara dan Amel masih berada di kelas karena permintaan Arya sebagai hukuman. Dosen muda killer itu menghampiri Kinara dengan muka datarnya yang cukup membuat Kinara dan Amel menelan ludah berkali-kali karena takut. "Kalian mau nilai D di mata kuliah saya?" "Tidak, pak," jawab Kinara dan Amel hampir bersamaan. "Jangan ngobrol lagi kalau kuliah saya sedang berlangsung, saya tidak suka mahasiswa yang seenaknya sendiri dan tidak tertib!" Dosen ini benar-benar galak. Sebenarnya Kinara dan Amel tidak benar-benar mengobrol. Amel hanya menanyakan kenapa Kinara akhir-akhir ini jarang terlihat, belum sempat Kinara menjawab dosen itu sudah menghampiri. "Baik, pak," jawab Kinara dan Amel. "Bikin makalah sesuai dengan apa yang saya jelaskan hari ini. Minggu depan dikumpulkan. Ingat langsung sama saya, jangan sembarangan ditaruh diatas meja. Mengerti?" Lagi-lagi Kinara dan Amel hanya menjawab singkat, mereka tidak mau berurusan dengan dosen itu lebih dari ini. "Galak banget, percuma mukanya tampan tapi galaknya selangit," gerutu Amel setelah Arya meninggalkan kelas. "Biarin aja, Mel. Kita ikutin aja perintahnya, daripada dapat D," sahut Kinara. "Iyalah, gue gak mau ada D di nilai gue, bisa di marahin papa. Btw, ngilang kemana sih? Beberapa hari gak ketemu lo deh," tanya Amel. "Oh, ngurus sesuatu." "Lo mau kawin?" "Heh ngomongnya. Nikah aja belum, mau kawin saja." "Iya, nikah maksud gue. Hahaha." Amel tertawa. "Gue harus kerja, yaudah gue ke tempat kerja dulu ya. Takut telat, jangan sampe disini dimarahin dosen, disana dimarahi bos. Kan dobel sial jadinya." Kinara bergegas keluar kelas dan mencari angkot yang lewat. Kinara memang menggunakan angkot untuk berangkat kuliah ataupun bekerja, untung saja lokasi kampusnya tidak jauh dari perusahaan milik Arjuna. Setelah sampai di tempatnya kerja Kinara segera berganti baju seragam dan memulai pekerjaannya. Kinara masuk ke dalam toilet, dan melihat dua karyawan sedang ngobrol di depan wastafel sambil berdandan. "Permisi, maaf saya mau membersihkan toilet." Setelah mendapat jawaban dari dua karyawan wanita itu, Kinara masuk ke dalam toilet dan mulai membersihkannya. "Aku dengar pak Arjuna mau nikah loh," ucap salah satu wanita. "Aku juga dengar itu, tapi dengan siapa? Laura?" "Mana mungkin. Pak Arjuna kan gak suka sama Laura. Ih, aku saja males lihatnya, suka nempel-nempel padahal ketara banget pak Arjuna risih." "Lalu sama siapa?" "Gue dengar ya, dia mau nikah sama orang biasa, miskin dan yatim piatu." "Lo serius?" Wanita itu kaget sampai lipstik yang sedang dioleskan meleset. "Iya, gaktau deh, kok mau ya pak Arjuna. Padahal mendadak loh rencana pernikahannya. Gak pernah lihat pak Arjuna berpacaran dengan wanita manapun . Bisa Saja dia di pelet atau gak ya wanita itu ganjen dan akhirnya hamil." Wanita satunya sedang merapikan rambutnya. "Hih, ngeri ya. Kalau aku gakmau lah sampai segitunya deketin orang kaya. Aku yakin dia ngincar harta pak Arjuna juga." "Kemungkinan besar iya, yaudah balik yuk, masih jam kerja, nanti kena marah kita." Kedua wanita itu meninggalkan toilet, yang mana semua pembicaraan mereka di dengar oleh Kinara. Senyuman kecut terpampang jelas di wajahnya. Ia tak menyangka rencana pernikahannya dengan Arjuna sudah menjadi pembicaraan karyawan di kantor. Mereka yang tidak tahu apa-apa berasumsi seenaknya sendiri. Tiba-tiba saja Kinara kesal dan tidak tahan untuk menangis. Kenapa dirinya yang miskin dan yatim piatu selalu dibawa-bawa hanya karena tidak sebanding dengan Arjuna yang kaya raya. Kinara menyelesaikan pekerjaannya dengan mood yang berantakan. Kinara selesai dengan toilet dan berjalan untuk membersihkan tempat yang lain. Perkataan dua wanita tadi masih terekam jelas diotaknya. Bahkan ia kembali mendengar dari beberapa karyawan lain yang memojokkan dirinya. Meskipun mereka tidak tahu siapa calon istri Arjuna, tapi mereka seakan tidak setuju dengan keputusan Arjuna menikahi wanita miskin dan yatim piatu. Terlalu sempurna Arjuna dan terlalu hina Kinara dimata orang. Kinara berjalan dengan menunduk, sejak tadi air matanya sudah terjatuh. Ia merasa down saat ini. Mereka hanya tahu sebatas itu, bagaimana jika mereka tahu pernikahan ini hanyalah pura-pura dan Kinara mendapatkan bayaran sejumlah uang dalam jumlah cukup besar, pasti ia kembali menjadi bulanan masa. "Kinara?" Kinara berhenti berjalan. Sungguh ia tak berani mendongak untuk melihat seseorang yang memanggil namanya. "Iya, maaf." Kinara masih menunduk karena air mata masih menetes di pipinya. Segera ia usap dengan sedikit kasar mata dan pipinya. "Pak Argan." Kinara mendongak dan melihat Argan menatap penuh tanya. "Kamu baik-baik saja?" "Iya, saya baik-baik saja pak." "Saya pikir tidak, ikutlah saya." "Kemana pak? Pekerjaan saya?" tanya Kinara. "Biar di handle sama yang lain. Ikutlah dengan saya." Kinara berjalan di belakang Argan, ia sengaja berjalan dengan jarak cukup jauh dari Argan agar tidak menimbulkan kecurigaan karyawan. Argan membawa Kinara masuk ke dalam ruangan Arjuna, dengan masih membawa peralatan pelnya. Kinara melihat Arjuna sedang menandatangani dokumen di mejanya. Sangat tampan, pikir Kinara. "Sudah kamu kunci pintunya?" tanya Arjuna. "Sudah, pak," jawab Argan. "Kinara silahkan duduk." Argan meminta Kinara duduk di sofa yang berada di sudut ruangan depan meja Arjuna. Dengan gugup Kinara duduk di sofa itu. Argan masuk ke dalam ruangan lain di sana. Ruang kerja Argan memang berada satu ruangan dengan Arjuna, hanya saja tertutup oleh pintu lainnya. Arjuna menyelesaikan aktivitasnya dan menghampiri Kinara. "Kamu baik-baik saja?" "Saya baik-baik saja, pak." Kinara menggunakan bahasa formal karena memang sedang di kantor. "Kamu habis nangis?" tanya Arjuna lagi. "Tidak, pak." "Jangan bohong. Saya tahu kamu habis nangis. Kamu pasti sudah dengar isu yang dibicarakan karyawan." Kinara mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, ingatan tentang obrolan para karyawan kembali berputar-putar di otaknya. "Jangan dengarkan mereka. Ada seseorang yang sengaja menyebarkan berita itu untuk membuat kamu down dan menyerah dengan pernikahan ini," jelas Arjuna. "Siapa?" tanya Kinara. "Kamu tidak perlu tahu. Yang saya ingin Tegaskan adalah, kamu jangan termakan dengan pembicaraan orang lain. Perjanjian kita masih berlanjut. Kita akan menikah apapun yang terjadi." "Saya tahu, pak. Maaf, saya terbawa suasana." "Mendekatlah." Kinara ternganga mendengar perkataan Arjuna. Kinara tidak mau berdebat, segera ia dekatkan tubuhnya dengan tubuh Arjuna. Kinara semakin gugup harus duduk begitu dekat dengan calon suaminya itu. Kinara membeku di tempat karena tiba-tiba Arjuna mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Kinara. Jantung Kinara rasanya mau copot dari tempatnya karena terlalu kencang berdetak. Beberapa kali ia harus mengerjapkan mata dan menelan ludahnya kasar. "Pak?" "Diam." Arjuna menyelipkan beberapa helai rambut Kinara ke belakang telinga. Kemudian, dengan gerakan tiba-tiba Arjuna mengecup bibir Kinara. "Bekerjalah kembali," ucap Arjuna setelah melepaskan bibirnya dari bibir Kinara. Kinara masih belum merespon perkataan Arjuna, tubuhnya terlalu kaku untuk digerakkan, pikirannya melayang entah kemana. "Kinar?" panggil Arjuna. "Ah, iya.. baik pak, saya permisi." Kinara segera keluar dari ruangan bosnya dengan tergesa-gesa. Argan keluar dari ruangannya, sejak tadi ia mengamati Arjuna dan Kinara. "Kenapa anda melakukan itu?" tanya Argan. "Kenapa?" "Anda tidak jatuh cinta padanya kan?" "Tentu saja tidak, Argan," jawab Arjuna. "Lalu?" "Untuk membuatnya lebih tenang dan tidak berpikir negatif," jawab Arjuna. "Ck. Anda ternyata lebih licik dari dugaan saya." Argan terkekeh. "Sialan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD