Di Kejar-Kejar Orang Aneh

1218 Words
Bapak-bapak tadi terus saja mengejar seperti orang gila. Aku dan Pak Karta pun terus saja berlari dengan kencangnya. Kenapa aku seperti ini? Seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran. Pak Karto pun Aneh, kenapa dia berlari seperti itu? Seperti seseorang yang sedang melakukan kesalahan. Setelah merasa jauh dan tak terkejar lagi, kami istirahat sebentar. Aku melihat orang yang mengejar kami sudah tidak tampak lagi. Mungkin saja orang itu berbalik ke tempatnya awal. “Kenapa bapak yang tadi mengejar kita, Pak?” tanyaku. Pak Karta terlihat salah tingkah. “Dia agak stres, Mas. Aku takut kita dibacok,” ucapnya. “Owh ...,” jawabku sambil membayangkan betapa mengerikan hidup di alam liar. Kalau se andainya kita kebacok dan tidak ada yang tahu, entah bagaimana jadinya. Tapi sebagai penduduk desa aku belum pernah mendengar kasus seperti itu selama ini. “Wah, terongnya sudah waktunya panen, ya, Pak?” tanya Pak Karta kepada pemilik sawah gang dua di sebelah kanan. Terong di sawah itu terlihat besar-besar dan memanjang. Seketika mataku membulat, tergiur melihat barang yang tadinya aku cari. “Iya, Pak Karta,” ucap pemilik sawah tersebut. “Kapan ini panennya, Pak? Kalau sudah panen Mas Bagus siap membeli,” ucap Pak Karta mewakiliku. “Silakan saja! Aku belum pernah melarang siapa pun membeli sayuranku,” ucap orang itu. ‘Yes,’ batinku. Satu langkah untuk usaha baru. “Ngomong-ngomong Pak Karta tadi dari mana? Kok dari arah selatan?” tanya bapak-bapak pemilik terong tersebut sambil menyiram tanamannya. “Em ... anu, Pak. Tadi main-main. Ini nganterin Mas Bagus lihat-lihat tanaman,” ucap Pak Karta. Logat dan tingkah laki-laki yang berusia lima puluh tahun itu tampak mencurigakan. Kalau bakar-bakar jagung kenapa tidak cerita bakar jagung saja? Kenapa harus cerita kalau dia mengantarku lihat-lihat tanaman? Dari pada aku berpikir yang aneh-aneh soal Pak Karta lebih baik aku melihat-lihat tanaman terong di bawah. Aku segera turun ke sawah menghampiri pemilik sayuran tersebut untuk melihat tanaman terong miliknya. Ternyata seperti ini bentuk fisik tanaman terong. Daun dan batangnya kasar tidak seperti buahnya. Padahal dari kecil hidup di perdesaan namun baru kali ini aku melihat langsung sayuran dari pohonnya. Seharusnya dari dulu aku terjun langsung di sawah. “Kalau sudah begini, panennya berapa hari sekali, Pak?” tanyaku. “Kadang tiga hari, kadang empat hari, paling lama lima hari, Mas,” ucap petani itu. “Nggak sekalian satu minggu biar langsung banyak, Pak?” tanyaku. “Hahaha ... sayur panennya nggak bisa lama-lama, Mas. Nanti kalau tua nggak laku. Pembelinya tidak mau beli. Lagi pula kalau tua juga tidak enak dimasak,” ucap bapak-bapak tersebut. “Maaf. Bapak ini namanya siapa, ya?” tanyaku. “Mas Bagus ini tidak tahu nama saya, to? Hahaha ...,” ucap bapak-bapak itu sembari mengambil air dari dalam bak untuk kemudian di siramkan ke batang terongnya. “Maaf, Pak. Saya hanya tahu beberapa nama penduduk saja. Selebihnya cuma tahu orangnya kalau dia penduduk desa Sukasari tanpa tahu namanya,” jawabku sambil menahan malu. Cuma aku beberapa pemuda dari desa Sukasari yang tidak begitu mengenal nama-nama tetangganya. Dan sekarang harus belajar mengenal mereka satu per satu agar bisa membeli dagangan hasil bumi mereka. “Pak Ali. Panggil saja aku dengan sebutan Pak Ali karena anakku namanya Ali. Muhammad Ali lengkapnya,” ucap Pak Ali. Kebiasaan di desa memang seperti ini. Seseorang sering memperkenalkan diri dengan nama anaknya. Nama anak lebih terkenal dari nama orang tuanya. Hanya saja kalau paket atau ada orang jauh yang bertanya alamat, banyak orang yang kesulitan memberi tahu karena yang dicari adalah nama bapak mereka. “Mas Bagus kok bengong saja?” tanya Pak Ali. “Oh ... iya ... eh, enggak. Ini beneran, ya, Pak. Kalau bapak panen nanti, terongnya aku beli,” ucapku. “Silakan, Mas,” jawab Pak Ali. “Aku permisi dulu, ya, Mas, Pak!” pamit Pak Karya yang berada di atas jalan pematang sawah. “Silakah, Pak, hati-hati!” ucapku. “Iya, Mas,” sahut Pak Karta dari kejauhan. Aku masih duduk menemani Pak Ali di sawahnya. Meskipun laki-laki itu mengambil air di sungai dengan memikulnya, aku merasa betah di tempat ini karena cuaca yang tadinya panas berubah menjadi sejuk. Rasa sejuk ditambah bisa melihat pemandangan alam yang indah membuatku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Tak terasa waktu berlalu. Semburat jingga terlihat elok dari arah barat. Hatiku tiba-tiba saja merasa gelisah. Kenapa aku keenakan di tempat ini sementara emak aku biarkan berjualan sendirian di rumah. Dan hari yang sebentar lagi gelap ini otomatis aku tidak bisa pulang sore lagi, tetap seperti kemarin, pulang malam. Dan tentunya wanitaku yang berada di Sukasurya akan kembali cemberut. “Aku permisi dulu, Pak,” pamitku kepada Pak Ali. “Tidak sekalian bareng, Mas. Ini kegiatanku telah selesai,” ucap laki-laki tersebut. Aku pun menunggunya sampai Pak Ali menyelesaikan acara menyiramnya. Setelah merapikan tempat menyiram, Pak Ali naik ke atas pematang sawah. Menghampiriku yang sudah naik ke atas terlebih dahulu. Dari arah selatan terlihat beberapa orang penduduk yang lain sedang pulang dari sawah mereka masing-masing. Rasa damai terpancar dari wajah para-para petani itu. Aku melihat sama sekali tidak ada beban berat yang dipikul mereka. Padahal pekerjaan petani adalah pekerjaan yang melelahkan, tapi tak sedikit pun mereka mengeluh capek. Dari ujung sebelah barat aku juga melihat penduduk-penduduk yang lain pula. Ada yang hanya membawa cangkul di pundak, dan ada pula yang membawa rumput untuk pakan ternak. Di antara orang yang berjalan itu, sepertinya ada yang aku kenal. Bukan kenal dekat, tapi barusan aku ingat dari pakaiannya kalau laki-laki itu adalah orang yang berteriak-teriak tadi. Orang yang mengejar-ngejar aku dan Pak Karta. Tapi, kenapa dia tidak tampak seperti orang stres seperti yang diomongkan Pak Karta? “Mas Bagus merhatiin apa? Kok menengok ke arah barat melulu?” tanya Pak Ali. “Itu, Pak. Laki-laki yang pakai baju biru gambar jagung itu namanya bapak siapa, ya?” tanyaku. “Oh ... Itu Pak Wongso. Kenapa memangnya, Mas?” tanya Pak Ali. “Aku tidak pernah melihatnya,” ucapku. “Pak Wongso itu rumahnya yang ujung timur itu loh, Mas. Memang dia jarang berbaur paling-paling keluar rumah cuma buat ambil rumput sama mengolah sawah. Tidak doyan rokok, tidak doyan kopi, dan tidak bisa naik motor. Mas Bagus pasti tidak pernah melihatnya, ya?” tanya Pak Ali. “Tidak pernah, Pak,” ucapku. “Tapi dia baik-baik saja, kan, Pak?” tanyaku. “Baik-baik saja bagaimana, Mas?” tanya Pak Ali. “Tidak sakit?” tanyaku. Tidak sampai hati aku mengucapkan kalimat stres setelah melihat laki-laki itu sepertinya baik-baik saja, tidak seperti yang diucapkan Pak Karta. “Tidak lah, Mas. Dia baik-baik saja. Sehat,” ucap Pak Ali. ‘Mungkin Pak Karta hanya salah paham,’ batinku. Langkah kaki para petani itu ternyata cepat sekali. Padahal sebagai pedagang langkahku juga tergolong cepat, tapi tidak sedikit pun mampu mengalahkan cara berjalannya mereka kecepatannya seperti terburu-buru. Aku sering dengar saat mereka pulang dari sawah. Sebagian ada yang mampir ke warung emak untuk membeli keperluan dapur, dan keperluan yang lain. Mereka sering bilang belum masak, belum ini, dan belum itu. Padahal waktu sudah menunjukkan maghrib. Itu artinya mereka masih melakukan aktivitas setelah salat maghrib. Tiba-tiba bapak yang aku lihat tadi sudah berada di belakangku. Ringan kakinya seakan seperti melayang di atas tanah. Setelah berada di dekatku, laki-laki itu memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku merasa merinding diperhatikan seperti itu. Sebenarnya kenapa dengan bapak ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD