Cerai! Aku tidak menyangka kata itu keluar dari bibir wanita yang beberapa bulan ini aku nikahi atas nama cinta. Mudah sekali Mariska melontarkan satu kata yang merupakan pantangan bagiku untuk mengucapkannya. Segera aku lepaskan pelukanku. Apakah diriku tidak berharga sehingga bisa ditukar dengan rumah baru? “Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku kepada Mariska. Wanitaku itu mengangguk. “Seberapa besar kamu mencintaiku?” tanyaku. “Kenapa kamu bertanya demikian, Mas? Apakah kamu meragukanku?” “Apakah tidak boleh aku berpikir meragukanmu sementara tiba-tiba saja kamu minta cerai hanya karena masalah sepele,” ucapku. Mariska terlihat diam saja. Dia mengusap air matanya. “Aku sangat mencintaimu, Mas. Sebesar gunung dan seluas samudera hanya saja aku benar-benar ingin kita segera memili

