Cerita Di Jalan

1170 Words

Aku berdiri mematung. Tidak menyangka kesabaranku ternyata ada batasnya. Melihat istriku berteriak, mukaku terasa malu. Di depan rumah, ibu dan para pembelinya melihat ke arah kami. Pemandangan yang tidak aku inginkan sama sekali. Tanpa banyak bicara, aku ambil sepeda motor yang masih di duduki Mbak Susi. “Mau ke mana kamu, Mas?” teriak Mariska. Aku tidak memedulikan teriakannya. Aku gas sepeda motor dengan kencang sampai hatiku terasa lega. Entah ke mana arah tujuanku sekarang. Ya, Tuhan ... kenapa hatiku terasa makin tidak tenang. Aku tahu bila aku kembali ke rumah masalah tidak akan selesai karena Mariska selalu saja memperpanjang masalah meskipun masalah itu hanya sebesar kuku hitam. Ya. Ibarat kuku hitam. Sedikit saja kami punya masalah, meskipun aku berusaha membersihkannya, masa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD