Jagung Rebus Oleh Pak Karta

1238 Words
“Sayang ...!” tegurku. “Kenapa, Mas? Bukankah tadi Mas ragu memakannya karena takut kalau jagung tersebut dari hasil mencuri,” ucap Mariska. “Sayang ...!” tegurku kepada Mariska lagi. Karena dia terlihat angkuh, aku pun berpaling kepada Pak Karta dan berucap, “Maafkan istriku, ya, Pak. Bukan maksud Mariska berkata seperti itu.” Pak Karta terlihat lesu dan menjatuhkan kantong keresek yang dibawanya tanpa mendengar lebih lanjut penjelasanku. Tanpa pamit laki-laki tersebut bergegas meninggalkan rumah. “Kenapa kamu berkata seperti itu, Sayang?” protesku kepada Mariska. “Apa yang salah dengan ucapanku, Mas,” kata wanitaku itu. “Kata-katamu tadi telah melukai hatinya, Sayang,” ucapku lembut. Dan berusaha hati-hati sekali takut kalau Mariska salah paham. Bukan maksudku menghakimi ucapannya, tapi aku hanya bermaksud menasehatinya agar bersikap lebih baik dengan orang lain. Semenjak mengenalnya aku hafal dengan sifat wanitaku itu. Dia cenderung ceplas-ceplos bila berbicara dengan siapa saja tanpa memedulikan perasaannya. Bila banyak wanita yang menyembunyikan perasaan, tidak dengan Mariska. Dia lebih memilih terbuka dengan apa yang dia rasakan. “Aku hanya ingin kasih tahu dia, Mas, kalau perbuatannya itu salah. Itu saja. Lalu apa salahku? Kenapa Mas bersikap seperti itu seolah-olah aku yang berbuat salah!” “Tapi kamu tidak harus langsung berkata demikian. Itu kasar, Sayang.” “Iya iya, Mas! Aku yang salah. Sudah! Cukup!” teriak Mariska sambil berlalu ke kamar. Seperti yang aku duga kalau nasehatku malah membuat wanitaku itu salah paham. Apa yang salah dengan ucapanku, ya, Tuhan. Kenapa Mariska sama sekali tidak mendengarkanku. Apakah mungkin aku terlalu memanjakannya sehingga dia semakin keras kepala. “Ada apa, Wo? Kenapa Mariska berteriak-teriak?” tanya ibu yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. “Ibu terbangun, ya? Maaf, ya, Bu!” ucapku tanpa menjawab pertanyaannya. “Ibu sedari tadi memang tidak tidur. Ibu mendengar semua tentang perseteruan kalian. Istrimu itu memang keterlaluan. Pak Karta berniat baik, menengok suaminya kenapa harus mendapat perlakuan seperti itu.” “Sebenarnya Mariska tidak bermaksud seperti itu, Bu,” ucapku. “Apanya yang tidak maksud. Istrimu itu memang etikanya kurang. Bahkan kepada mertuanya sendiri tidak ada sopan santunnya apa lagi degan orang lain,” ucap ibu. “Iya, Bu. Tapi dia tadi bersikap seperti itu karena kesalahanku juga. Aku yang salah karena bercerita kalau Pak Karta pernah mengambil jagung milik orang lain dan aku ragu untuk memakan jagung rebus yang dia bawa,’ ucapku. Ibu berdiri kemudian mengumpulkan jagung yang berserakan di lantai. Dia mengupas salah satu jagung tersebut lalu memakannya. “Jagung ini akan mubadzir bila tidak ada yang menyentuhnya,” ucap ibu sambil menggigit biji jagung rebus tersebut. Aku tidak berani melarang ketika ibu makan jagung. Dia sudah tahu ceritanya dan pasti dia punya alasan kenapa berani memakan jagung itu. Mungkin ini adalah jawabannya. Harusnya aku diam dan tidak usah cerita yang tidak-tidak kepada Mariska mengenai Pak Karta. Menyesal aku sudah mengatakan kalau pernah diajak Pak Karta bakar jagung di kebun orang. Dan aku sadar kalau semua yang terjadi sebagian adalah kesalahanku juga yang tidak mampu menutupi aib orang lain. Akhirnya aku harus terima ketika orang tersebut kecewa dengan ucapan istriku. “Kamu nggak mau memakannya, Wo?” tanya ibu. “Bagaimana aku bisa memakannya, Bu? Apa aku bisa mengunyah setelah apa yang barusan terjadi,” ucapku. “Tapi ini tidak akan habis bila hanya dimakan satu orang, Wo.” “Ibu tidak takut kalau jagung yang ibu makan hasil dari mencuri,” ucapku. “Kalau seandainya dia yang mencuri, kenapa ibu harus takut, Wo. Aku kan dikasih,” ucap ibu. “Terserah ibu saja, aku mau tidur,” ucapku. “Kalau tidak mau makan ya, sudah. Besok biar aku bagi-bagikan kepada pembeli,” ucap ibu. Aku berjalan ke kamar dengan kaki kuseret karena masih terasa sedikit sakit. Aku melihat Mariska sedang tidur memunggungi pintu. Otomatis malam ini aku akan diabaikan oleh wanitaku tersebut. Hanya beberapa jam saja aku tidur. Pukul setengah tiga dini hari aku bangun dan mempersiapkan keranjangku untuk belanja. “Apa yang kamu lakukan, Wo?” ucap ibu menghentikan aktivitasku. “Belanjalah bu, kan sudah tiga hari ini aku tidak belanja. Isi dalam warung juga mau habis semua.” “Kamu masih belum sembuh, Wo. Jangan lakukan itu. Bekerjalah bila kamu sudah sembuh total,” ucap ibu. “Sudah nggak betah, Bu. Cuma luka seperti ini saja. Masih bisa aku pergi ke pasar,” ucapku. “Ibu tidak izinkan. Besok saja kalau kamu pingin belanja. Sekarang istirahat dulu, jangan ke mana-mana!” tegas ibu. Aku pun menuruti perintah ibu. Kuletakkan kembali keranjang di lantai meskipun rasanya ada yang kurang bila aku tidak melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Mariska ikut terbangun. Dia menyapu lantai lalu mengepelnya. “Kamu masih marah, Sayang?” tanyaku saat dia mengepel di bawahku. Wanita itu diam saja. Aku sama sekali tidak bisa diperlakukan seperti ini. Selalu saja aku berusaha mencari perhatian agar Mariska bersedia membuka mulutnya bila sedang marah. “Aduh ... aduh ...,” ucapku. Ketika gagang pelnya bersentuhan dengan kakiku yang sebenarnya sudah aku angkat. “Kenapa, Mas, kenapa ...?” tanya Mariska panik. Sambil melihat keadaan kakiku. Ketika Mariska sibuk mengelus-elus kakiku yang terkena gagang pel, dalam hati, aku tertawa terpingkal-pingkal. Begitu mudahnya membuat wanitaku itu menghentikan kemarahannya. “Sakit, Mas?” tanyanya. “Iya, Sayang,” ucapku. “Yang sakit mana, Mas?” “Di sini, Sayang,” ucapku sambil menunjukkan dadaku kepadanya. Tapi sayang, wanitaku itu malah memperhatikan kakiku. “Di mana, Mas?” tanyanya lagi. Kemudian aku mengambil tangannya dan meletakkannya di dadaku. “Di sini, Sayang. Kalau kamu cuek, sebelah dini rasanya sakit,” candaku sambil mengedipkan mata dan menggodanya. Seketika Mariska langsung melepas tangannya. “Jangan main-main, ya, Mas,” ucapnya sambil memukulkan gagang pel ke kakiku yang terluka. “Aduuuhhh ...,” teriakku. Rasanya kali ini benar-benar sakit sekali. bagian yang terluka dipukul oleh Mariska dan wanita tersebut tidak peduli dengan teriakanku yang kesakitan. Ibu keluar dari dalam kamar, menengok apa yang sedang terjadi. “Ada apa, Wo?” tanya ibu. “Nggak ada apa-apa, Bu,” ucapku. “Kenapa berteriak-teriak kayak anak kecil yang lagi sunat,” ucap ibu ketus. “Itu tadi Mariska ngepel tidak sengaja gagang pelnya mengenai kakiku yang terluka,” ucapku. “Ya Allah ... Wo ... itu kakimu kembali berdarah,” ucap ibu panik sambil mendekatiku. “Mariska ... Mariska ...,” teriak ibu. Mariska tergopoh-gopoh datang mendekat. “Lihat kaki suamimu! Kamu apain tadi?” tanya ibu, marah. “A—aku ....” “Lagian tumben sekali kamu serajin ini? Jam tiga sudah nyapu sama ngepel. Kamu sengaja, ya, melukai suamimu biar tidak sembuh-sembuh biar bisa menemanimu setiap hari?” ucap ibu dengan d**a yang terlihat naik turun. Sementara itu darah mengalir deras menembus perban yang dipasang dari rumah sakit. Rasanya memang ngilu dan berdenyut-denyut akibat pukulan dari Mariska tadi. “Lalu bagaimana ini, Bu?” tanya Mariska sambil menangis. Rasanya tidak tega melihat istriku merasa bersalah seperti itu. Semua ini terjadi gara-gara aku yang berniat bercanda. “Kita bawa ke rumah sakit lagi!” ucap ibu. “Jam segini, Bu?” tanyaku. “Lha menunggu sampai kapan?” ucap ibu. “Nanti saja, Bu,” ucapku. “Setelah unit rawat jalan sudah buka.” “Memangnya kalau jam segini tidak bisa melayani orang sakit, ya?” tanya ibu. Aku tidak menjawab karena aku sendiri juga tidak tahu kalau dini hari bisa melayani orang sakit atau tidak. Mungkin bisa bila masuk unit gawat darurat. “Semua gara-gara kamu!” ucap ibu kepada Mariska.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD