Kisah Cinta Waktu SMA

1224 Words
Bahagia itu yang aku rasakan ketika hidup ini berarti bagi perempuan yang kita cintai. Dari semenjak berpacaran ketika kami bersekolah di SMA yang sama, saat itulah aku mulai jatuh cinta dengan wanita yang di mataku istimewa. Mariska. Namanya sederhana tapi nama itu mampu membuatku tidak nyenyak di setiap tidurku. Mungkin karena dia merasa aku istimewakan, sejak awal kami memadu kasih, Mariska selalu bersikap manja. PR dari sekolah sering kali dia berikan padaku untuk mengerjakannya. Dan aku ikhlas bahkan dengan senang hati membantunya. Begitu juga dengan ulangan, karena berada di kelas yang sama, Mariska selalu mencontek ulanganku. Bahkan aku menulis semua jawabanku di kertas dan memberikannya kepadanya. Jawaban itu selalu sama persis, ketika aku mendapat nilai terbagus, Mariska pun mendapat nilai yang bagus. Pada saat aku mendapat nilai rendah, wanitaku itu mendapat nilai yang rendah juga. Kami selalu kompakan perihal nilai sekolah. Bahkan rangking kami secara bergantian menjadi atas dan bawah. Terkadang Mariska peringkatnya di bawahku, terkadang peringkatnya di atasku. Kenangan itu selalu membuat kami sering kali tertawa bila mengingatnya. Kata Mariska dia merasa aku memperlakukannya sebagai ratu, dan itu membuatnya semakin sayang dan cinta kepadaku. Sebagai laki-laki yang merasa diandalkan oleh wanita yang dicintai siapa orangnya yang tidak akan merasa bangga. Bahkan semakin lama hubungan kami semakin menjadi. Aku rela mengambil uang ibu untuk membelikan barang-barang yang diinginkannya. Karena terlalu sering mengambil uang lama kelamaan ibu curiga dan mulai mengawasiku. Akhirnya aku ketahuan dan dihakimi. Ibu bertanya aku kemanakan uang yang selama ini aku ambil. Aku tidak bisa menutupi semuanya kepada ibu selain menceritakannya. Kejadian itu membuat ibu marah dan menganggap kalau Mariska hanya memanfaatkan aku saja, kemudian melarangku agar tidak berhubungan lagi dengannya. Awalnya aku perjarang volume pertemuanku dengan Mariska karena dilarang ibu. Kemudian kami sempat putus. Tapi hal itu membuatku merasa tersiksa. Mungkin karena perasaan cintaku yang teramat dalam membuatku ingin selalu bersama dengannya apalagi, tidak mungkin aku berpaling dari wanita yang wajahnya selalu berada di setiap lamunanku. Kami pun kembali pacaran secara sembunyi-sembunyi sampai pada akhirnya kami lulus SMA. Dan ada kebahagiaan-kebahagiaan tersendiri saat menjalaninya hingga sebuah kejadian memaksa kami untuk menikah muda. Mariska lari dari rumah karena hendak dijodohkan oleh orang tuanya. Karena yang dituju adalah rumahku, mau tidak mau aku harus melindunginya. Ibu marah sama sekali tidak menduga kalau aku masih berhubungan dengan Mariska, tapi sebagai laki-laki, aku tunjukkan sifat tanggung jawabku. Ketika keluarganya datang dan memaksa Mariska pulang. Mariska tidak mau dan tidak ingin berpisah denganku. Saat itulah Mariska menangis dan memaksaku untuk menikahinya. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati meskipun harus mengecewakan ibu dan mengorbankan masa depanku yang seharusnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai keinginan ibu. Menikah muda adalah pilihan kami. Dan kami mencoba membuktikan kalau menikah muda bukanlah pilihan yang buruk. Kami ingin menunjukkan kepada semua orang kalau keluarga kami nantinya akan menjadi keluarga yang paling bahagia. Tapi nyatanya semua tidak seindah angan-angan. Ada dua keluarga yang harus disatukan. Dan kami belum cukup dewasa untuk menghadapinya. Suara dengung nyamuk telah membuatku terbangun. Ternyata aku ketiduran di teras. Udara dingin rasanya menusuk tulang. Dan nyamuk-nyamuk nakal telah mengerubungku sejak tadi. Apakah aku kelelahan sehingga sama sekali tidak merasakan ketika menjadi santapan empuk para nyamuk-nyamuk ini. Aku melangkah menuju ke pintu dengan malas-malasan. Tapi saat aku mau membuka pintu ternyata pintu tersebut dikunci dari dalam. Aku kembali duduk di kursi teras. Aku ambil ponsel yang berada di saku jaket, ternyata waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Pantas saja suasana sekitar menjadi hening, tidak ada satu pun benda elektronik terdengar dinyalakan. Yang ada suara berisik jangkrik. Aku beranjak kembali ke pintu, rasanya ingin aku gedor-gedor pintu rumah tapi takut tetangga terganggu, akhirnya aku hanya memandangi pintu tersebut lalu memutuskan menaiki sepeda motor yang tadi sore belum sempat aku masukkan ke dalam rumah. Aku mulai menyusuri jalan desa juga jalan perbatasan antar desa. Sangat sepi berbeda pada saat aku berangkat belanja pukul tiga dini hari. Pada pukul tiga dini hari, sudah ada beberapa sepeda motor melakukan aktivitas yang sama yaitu membeli sayur-sayuran di pasar kemudian menjualnya kembali. Ada yang keliling dan ada yang dijual di rumah. Sama sepertiku mereka mengejar waktu agar ibu-ibu bisa memasakkan anak dan suaminya tepat waktu sebelum pergi ke sekolah dan pergi ke sawah. Sesampai di perkebunan tebu, aku mengingat mobil yang mogok kemarin, kenapa mogoknya saat aku pulang belanja? Otomatis mobil tersebut berangkatnya setelah aku berangkat belanja yaitu lebih dari pukul tiga dini hari. Mungkin saja mereka ada keperluan sehingga kami bisa bertemu di jalan. Aku juga sering melewati jalan yang menurut orang-orang angker, yaitu jalan di tengah perkebunan tebu. Nyatanya selama aku berjualan, tidak satu pun aku temukan sosok yang aneh di sepanjang jalan ini. Kata ibu, musuh nyata kita adalah manusia. Ibu takut kalau aku ketemu perampok di jalan. Sesampai di pasar kondisi pasar sudah terlihat ramai, baru kali ini aku melihat pasar pada jam segini. Banyak pemandangan yang membuatku terpana di saat orang lain masih terlelap dalam tidurnya. Mengais pundi-pundi rupiah untuk memberi makan keluarga. Di ujung utara, beberapa pemilik sepeda motor meletakkan beberapa bungkus keresek besar di sampingnya, kemudian ada orang yang mendatanginya. Sepertinya mereka sedang melakukan nego barang. Hal yang sama aku saksikan di tempat lain. Sebagian ada yang membawa karung, sebagian ada yang membawa tas keresek dan ada pula yang menyewakan timbangan. Di tempat parkir, beberapa mobil pick up sayuran memarkirkan mobilnya dan disambut oleh bapak-bapak kuli panggul. Bapak-bapak kuli panggul itu terlihat kompak satu sama lain, menurunkan barang secara serentak. Beberapa kelompok kuli panggul yang lain melakukan hal yang sama dengan mobil yang lainnya pula. Ternyata seperti ini kehidupan di pasar pada saat jam segini. Aku mendekati nenek-nenek penjual serabi yang mangkal di pinggir jalan. Memesan dua buah serabi untuk mengganjal perut yang dingin. Serabi adalah salah satu makanan tradisional non kolesterol yang aku suka sejak kecil. Dan penjual ini berjualan serabi dari semenjak aku kecil juga. “Nenek tidak lelah jualan serabi?” tanyaku. “Cari uang kok lelah to Mas,” jawab Nek. “Nenek punya anak?” tanyaku. Baru kali ini aku bertanya hal pribadi dengan nenek penjual serabi ini karena memang baru kali ini juga punya banyak waktu bersantai di pasar. Biasanya beli serabi sambil berlari. Memesannya, kemudian aku tinggal membeli sayuran, dan aku ambil saat serabi sudah matang. “Anak nenek ada lima. Sudah jadi orang semua,” jawab nenek itu. Tangannya yang keriput menuangkan adonan serabi di kuali-kuali yang berada di atas tungku perapian kayu bakar yang membara. “Kok aku tidak pernah melihat salah satu di antara mereka membantu nenek?” tanyaku. Mengingat aku selalu membantu ibuku semenjak kecil dari hal-hal yang sederhana. “Tidak ada yang di kota ini, Mas. Dan saat mereka kecil nenek tidak mengizinkan mereka membantu nenek karena jualan nenek dini hari takut belajar mereka terganggu,” jawab Nenek penjual serabi tersebut. “Anakku yang dua sudah berkeluarga di Jakarta ikut suaminya, yang satu menjadi dosen di UGM, yang satu bekerja di pelayaran asing, sedang yang bungsu masih kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Heran, ya, Mas. Punya anak banyak tapi nenek kesepian setelah semuanya dewasa, mereka menjemput rezekinya masing-masing di kota lain.” “Bapaknya masih ada, Nek?” tanyaku. “Sudah meninggal sejak anak-anak masih kecil, Mas. Aku menghidupi ke lima anakku sampai sarjana semua dengan jualan serabi ini.” Benar-benar kisah yang menginspirasi. Dari jualan serabi, bisa menghidupi ke lima anaknya bahkan bisa memberikan pendidikan yang layak hingga mereka menjadi sukses.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD