Bab 11

1657 Words
Pov Ningsih ---------------------------------- Baru saja aku menyudahi sambungan telepon ku dengan Ning Kia. Malam ini seperti biasa, kami saling memberi kabar. Bedanya, Ning Kia minta ditelpon, alhasil aku harus memisahkan diriku dengan teman-teman. Kami tengah makan di rumah makan apung. Rumah makan yang berada di dekat malioboro. Ya, setelah ke Alun-alun kidul kita mampir ke malioboro agar bisa menikmati suasana malioboro ketika malam yang ternyata lebih seru! Ning Kia adalah salah satu cucu Mbah Yai, pendiri pondok pesantren tempatku dan empat pilar menuntut ilmu. Dia seumuran denganku, dan kami menjadi dekat karena aku sering ke ndalem—rumah Ning Kia. Aku selalu datang ke rumahnya untuk membantu Ummi, yang merupakan Ibu Ning Kia, untuk mengurus rumah. Dan dari situlah aku dan Ning Kia menjadi dekat. Ning Kia baik dia yang mengajakku berkenalan terlebih dahulu. Dan tanpa sengaja, kami pun menjadi dekat. Bahkan ketika Ning Kia harus mondok di luar, Ning Kia tetap mencariku ketika pulang. Mengajakku main, mengajakku tidur di kamarnya, membantunya melancarkan hafalan qurannya yang alhamdulillah tahun ini sudah genap 30 juz, dan banyak sekali kegiatan yang kami lakukan bersama. Sehingga ketika jarak terbentang di antara kita, seperti sekarang—Ning Kia selalu melakukan segala cara untuk tetap dekat denganku. Salah satunya dengan menghubungiku setiap malam. Jika malam malam sebelumnya, pembicaraan kami sangat menyenangkan dan membuatku semakin merindukan masa-masa mondok dulu, hari ini sangat berbeda. Mungkin karena dia membuka obrolan kami dengan Isak kan tangis yang ia tahan, dan rintihan yang membuat diriku turut sakit hati. "Ningsih, aku mau pulang.." Kata Ning Kia ketika membuka pembicaraan kami. Aku yang tadinya hendak menceritakan keindahan jogja pun mengurungkan niat. Suara issakan Ning Kia terdengar di ujung sana. Aku khawatir. "Ning.." Aku tau maksudnya. Kalimat yang ia katakan itu, sudah sering keluar dari mulutnya. Tapi aku tak pernah mendengar kalimat itu ia ucapkan dengan menangis. Membuatku takut jika ia melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. "Gus jahat, aku mau pulang." Katanya lagi. "Tenang nggih Ning, kalau Ning beneran mau pulang, izin ayah dan ibu mertua dulu nggih.." Kataku menenangkan. Aku tengah pura-pura bodoh. Bukan pulang seperti itu yang Ning Kia inginkan! Aku tau! Dia ingin pulang dan tidak kembali lagi ke tempat itu, "Ningsih..." Katanya kemudian menangis sesenggukkan. Aku khawatir tangisnya terdengar oleh orang lain. Beberapa kali ku interupsi agar memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya. Dan katanya aman, karena dia bersembunyi di kamar mandi kamarnya. Jika pun ada yang dengar itu mungkin suaminya. Ya, Ning Kia memang sudah menikah. Dua tahun yang lalu dia menikah dengan cucu teman Abah Yai yang bernama Gus Aditya. Mereka dijodohkan dan tidak saling kenal sebelumnya. Perjodohan ini memang sudah biasa terjadi di kalangan pondok, tapi perjodohan Gus Adit dan Ning Kia tidak berjalan mulus. "Ningsih, kamu sudah ketemu Adam?" Tanya Ning Kia di sela-sela tangisnya. Aku melirik ke dalam rumah makan, menatap sosok Kang Adam yang tengah tertawa bersama teman-temannya. Jujur aku masih sakit hati jika melihat Kang Adam. Apalagi ketika melihatnya sudah bahagia dengan hidupnya. Sangat tidak adil bagi Ning Kia! "Sudah Ning," Jawabku dengan suara lemah. Aku benci ketika Ning Kia masih mencari-cari sosok Kang Adam di hidupnya sementara Kang Adam sudah menemukan sosok baru. Aku tak sampai hati mengatakan yang sebenarnya pada Ning Kia. Dia baik, dia perempuan dengan hati yang lembut dan pantas mendapatkan kebahagiaan untuk cintanya. "Adam tambah ganteng ya nduk?" Tanyanya. Aku menggigit bibir bawahku, untuk masalah fisik Kang Adam memang tak harus diragukan. Diantara empat pilar, bisaa dibilang visual Kang Adam yang paling menonjol. Dulu bahkan ketika di pondok dia dijuluki Prince charmingnya pondok putra saking gantengnya. Apalagi pribadinya yang misterius, membuat banyak santri wati tertarik padanya. Bahkan Ning Kia yang dulu hanya melihatnya satu kali pun turut jatuh hati. "Ning, sekarang fokus hubungan Ning sama Gus Adit dulu nggih, jangan mikir yang lain!" Kataku memohon. "Adit ninggalin aku Ningsih, dia pergi ga pamit aku." "Kenapa? Kalian habis bertengkar?" Tanyaku. "Iyaa" "Masalah apa lagi?" "Rumit. Masalah diantara kami terlalu rumit." Aku tidak bisa berkomentar, Ning Kia memang tidak pernah mencurhatkan dengan detail masalah rumah tangganya. Jika curhat pasti dia hanya bilang dia marah, dia lelah, dia capek dan berbagai ungkapan perasaan hatinya. Dia tidak pernah menjelaskan padaku kenapa dia merasakan perasaan-perasaan itu. Aku tau, itu mungkin caranya untuk menjaga kehormatan suaminya. "Aku beneran mau pulang Ningsih," Katanya lagi. Aku tidak tau harus menjawab apa. "Ning aku boleh tanya sesuatu?" "Apa?" "Ning Kia masih suka Kang Adam?" Bukan tanpa alasan aku mengatakan itu. Aku ingin memastikan sesuatu. "..." Tapi sayang tak kutemukan jawaban. Ning Kia hanya diam, kemudian berpamitan untuk mengakhiri telepon. Sekalipun begitu aku sudah menemukan jawaban, jika dia masih sangat mencintai sosok Adam nya. Dan keinginannya untuk pulang, tentu saja agar bisa mewujudkan mimpinya agar bisa bersama Kang Adam. Bukan dengan lelaki lain sekalipun lelaki itu lebih baik daripada Adam. --- "Ningsih," Ara memanggilku. Perempuan yang merupakan calon istri Mas Adam itu memberikan senyum manisnya, sembari menepuk bagian kosong yang ada di sampingnya. Tempat awal ku kini ditempati Adam. Sehingga aku mau tak mau harus duduk di sebelah Ara. Jujur saja sejak awal aku sudah tak suka akan kehadiran perempuan itu. Tanpa alasan yang jelas, cukup tau jika dia adalah calon istri Mas Adam saja sudah membuatku bisa untuk membencinya. Karena artinya dia adalah rival Ning Kia—sahabatku. "Ohya Ningsih, sesuai janjiku aku uda nulisin resep-resep masakan yang aku masak kemarin, sama resep nasi goreng kafe ku!" Katanya. Ia memberiku sebuah buku dengan sampul cokelat. Buku itu tidak tebal, ketika ku buka kutemukan banyak sekali resep makanan-makanan. "Ada juga resep kue yang katanya kamu enak, kue lumpur. Aku uda catetin khusus buat kamu." Katanya lagi. Ara sangat baik, sangat sangat baik. Sejak kemarin kebaikannya membuat semua orang terpanah. Tapi aku tidak semudah itu akan percaya. Siapa tau perempuan ini ular berbisa, yang ternyata hanya baik di luar tapi sangat membahayakan di dalam. Aku mulai memasang topengku, memberikan senyum pura-pura sembari mengucapkan beribu Terima kasih. Aku tak tau kenapa Mas Adam memilih Ara. Jelas-jelas dia tidak bisa dibandingkan dengan Ning Kia. Okeh, Ara memang secantik Ning Kia, tapi...apa Ara sholehah seperti Ning kia? Apa Ara memiliki nasab sebagus nasab Ning Kia yang merupakan keturunan para ulama? Aku yakin Mas Adam pasti hanya menjadikan Ara pelampiasan. Di lubuk hatinya terdalam, Mas Adam pasti masih mencintai Ning Kia. "Habis dari mana?" Tanya Jo ketika baru sadar aku sudah kembali. Sejak tadi dia memang sibuk berbincang dengan teman-temannya. Ya gitu emang, kalau uda sama empat pilar aku pasti dilupain. Tapi serius, persahabatan mereka memang sangat erat. Sekalipun kini sudah terpisah karena jarak, mereka masih sering berkomunikasi lewat grup w******p. Kang Adam juga menatapku, dan entah kenapa aku ingin sekali membuktikan apa yang menjadi keyakinan ku. Jika Mas Adam masih menyukai Ning Kia. "Dari mana kok Beb? Ditanya malah bengong!" Kata Jo lagi. Aduh suamiku itu emang cereweeet banget. "Biasa, Ning Kia. Diaa lagi mau curhat jadinya tadi kita teleponan." Kataku sembari melirik mas Adam. Ia sontak menatapku ketika telinganya mendengar nama Ning Kia. Di matanya itu kini di penuhi rasa penasaran. "Oh," Jo pun seolah sadar apa yang kulakukan. Ia melirik Adam, kemudian mengatakan "apa kabar Ning Kia? Baik kan?" "Ha Ning Kiaaa?" Aida yang duduk di dekat kami turut nimbrung. "Mbak Ningsih masih kontakan sama Ning Kiaaa?" Tanyanya heboh. "Masih Aida, mereka kayaknya tiap hari chatan. Suaminya aja jarang banget di chat." Kata Jo sembari memasang wajah sebal. Aku menonyor pipinya, "ya kan kamu di sampingku terus ngapain aku chat?" "Apa kabar Ning Kia mbak?" Tanya Aida lagi. Semua mata kini tertuju padaku, seolah menunggu jawaban yang keluar dari mulut. Sekalipun Novi dan Ara tidak tau siapa Ning Kia, mereka tetap menatapku penasaran. "Dia baik Aidaa, alhamdulillah..tapi ya gitu, namanya hidup ada aja cobaannya." Kataku. "Masih sama Gus Adit?" Tanya Dani. Semua orang sontak menatap Dani, "maksudmu? Yaiyalah!!!" Kata Jo. "Ya mungkin aja kan mereka pisah, soalnya kemarin waktu aku main ke pondok denger kabar-kabar nggak enak tentang mereka." Kata Dani. Mas Adam terlihat sangat tertarik dengan obrolan ini. Matanya sibuk menatap ke arahku dan Dani seolah ingin tau lebih lanjut. Fix, dia benar-benar belum melupakan Ning Kia. "Kabar apa Dan?" Tanya Jonathan. Suamiku itu tampaknya juga ingin menguji isi hati Mas Adam. Aku tidak pernah membicarakan masalah Mas Adam dan Ning Kia dengan dia. Apalagi setelah Ning Kia menikah dua tahun yang lalu, pembahasan tentang mereka berdua seolah hilang begitu saja diantara kami. Jadi aku tak paham apa sebenarnya yang ada dikepala suamiku itu. Kenapa sejak tadi ia seolah ingin memancing Mas Adam? "Katanya Gus Adit jarang pulang dan mereka kemarin ga ikut waktu ada kumpul keluarga di ndalem. Padahal biasanya kan kalau acara kayak gitu, semuanya ikut. Aku lihat instastory Gus Imam kemarin juga ndak ada Gus Adit." Jelas Dani. Gus Imam itu Kakak laki-laki Ning Kia. "ah, paling itu cuma gosip." Kataku tak ingin membuat Ning Kia buruk dimata semua orang. Aku tidak ingin Ning Kia dikasihani. Sekalipun aku tau cerita sebenarnya, aku akan tetap diam. Tak kan kubiarkan Kisah sedih Ning Kia terdengar sampai ke telinga Mas Adam. Semua orang mengangguk setuju, sementara Mas Adam menatap ku. Aku menatap nya, "ada apa Mas?" Tanyaku. Ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia urungkan. Mungkin ia tak ingin membuka masalah ini lagi. Apalagi di sampingku ada Ara yang sejak tadi seperti orang bodoh. "Nggak Ningsih, nggak jadi." Katanya. Urusan Mas Adam dengan Ning Kia selalu membuat kepalaku pening. Aku ingin sekali mempersatukan mereka lagi, namun keinginanku itu sepertinya harus kukubur dalam dalam karena Mas Adam sudah memiliki Ara. Sekalipun aku tau Mas Adam masih mencintai Ning Kia, aku tidak bisa melakukan apa pun lagi kan? Keputusan Mas Adam untuk menikahi Ara pasti sudah melewati perenungan yang matang. Mungkin cinta mereka memang tidak bisa bersatu. Dan itu bukan berarti cinta mereka bisa hilang begitu saja. Aku yakin, di dalam hati mereka pasti masih saling mencintai. Sekalipun Ning Kia sudah menjadi istri Gus Adit, dan Mas Adam akan menikah dengan Ara. Firasat ku berkata, suatu saat merek akan bisa menjadi satu. Tbc! Xx, muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD