Bab 28: Khawatir?
Aneh sekali. Siang ini tidak ada telepon dari Ara. Makan siang yang biasanya ia antar degan gojek pun tidak kunjung datang. Atau bahkan tidak akan datang karena jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Aku memutuskan untuk menghubunginya. Berulang kali, namun teleponku tidak kunjung tersambung. Sudah kucoba mengirimkan banyak chat juga tidak mendapat balasan.
aku memang paling kesal kalau ada pesan atau teleponku yang diabaikan. Ara sudah melakukan itu dua kali, kemarin dan hari ini. Rasanya aku tidak bisa menahan emosiku lagi.
Apa ini memang kebiasaan Ara untuk mengabaikan chat dan teleponku? Sungguh menjengkelkan! Kenapa dia tidak belajar dari yang kemarin? Kali ini apa alasanya? Apa di kafenya ada event lagi? atauu dia lupa lagi tidak membawa ponselnya? Ah, perasaan kesal itu entah kenapa menjadi lebih besar ketika memikirkan ada sesuatu yang terjadi pada Ara. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya?
Tanpa berpikir panjang, aku meraih kunci mobil yang tadinya aku letakkan di atas meja. Keluar ruangan dan bertemu Ardan yang menatapku heran.
“Aku pulang,” kataku padanya.
Ardan menahan tubuhku, “Loh? Kok tiba-tiba? Ga ikut meeting?”
“Nggak, kamu sama Mas Hafiz aja.”
“Yauda, pinjem mobilnya kalau gitu.”
“Ha?”
“Udaa mana,” Ardan merampas kunci mobil yang ada di tanganku.
“Terus Mas pulang naik apa?”
“Grabb kan bisa.”
Tanpa berniat berdebat dengan Ardan, aku pun menurutinya. Sepupuku yang satu itu emang kurang ajar sekali.
Aku duduk di pos satpam sembari menunggu mobil grabku datang. Di dalam pos satpam itu ada Pak Budi dan Pak Soleh yang sedang sibuk bermain catur. Tanpa berniat menganggu mereka, aku duduk saja di kursi depan pos satpam. Sembari sesekali mengecek ruang chatku dengan Ara barang kali ia sudah membalas chatku. Namun nihil, masih tak kujumpai balasan darinya.
“Loh, Mas Adam?” Pak Soleh keluar dari dalam pos, tampaknya permainan catur mereka sudah selesai. Aku melirik ke dalam pos dan mendapati Pak Budi sedang membereskan catur mereka.
“Pak,” aku mengangguk sopan dan menggeser dudukku. Membuat Pak Soleh bisa duduk di sebelahku.
“Mas ngapain di sini?” tanyanya.
“Mau pulang Pak,” jawabku.
“Nggak pakek mobil?”
“Mobilnya dibawa Ardan meeting.”
“Oh,” pak soleh mengangguk mengerti.
“Tumben ya Mas hari ini ndak dapet makan siang dari istri.” kata Pak Soleh. biasanya dia memang yang menerima bekalku dari gojek yang dipesan Ara. Jadi tentu saja dia tau ketika Ara tidak mengirimkan bekal padaku seperti hari ini.
“Iya Pak, ndak tau tuh dia kemana. saya telepon juga dari tadi nggak diangkat.” kataku kembali mengecek layar ponsel. lagi-lagi tak kutemukan sesuatu yang kuharapkan.
“Oh itu alasannya.”
“Alasan apa Pak?”
“Alasan Mas Adam keliatan resah.”
“Masak sih Pak?”
“Iya, Mas Adam pasti khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Mbak Ara." Kata Pak Sholeh.
“...” aku tidak bisa mengatakan apapun lagi pada Pak Soleh. Antara tidak mau disangka khawatir atau masih tak percaya dengan dugaan Pak Soleh.
Masak sih aku khawatir?
Nggak...ngapain aku khawatir?
rasa khawatir itu menurutku untuk orang yang kita sayang. Emangnya aku uda sayang sama Ara? nggak..nggak mungkin.
lalu kenapa aku cemas dan resah? ah ya..mungkin karena ini perasaan alami yang muncul dalam diriku. secara sekarang Ara adalah istriku. wajar kan seorang suami merasakan perasaan seperti ini ketika tak mendapatkan kabar dari istrinya? ya..wajar sekali.
mungkin perasaan cemas ini datang karena aku sadar Ara sekarang adalah tanggung jawabku. jadi kalau ada apa-apa sama Ara aku pasti yang akan disalahkan.
setelah menaiki mobil grab yang aku pesan, aku pun kembali mencoba menghubungi telepon Ara. tidak dijawab. dan aku pun memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi daripada hanya rasa kesal karena tidak dijawab. pikiranku mencoba berpikir positif jika Ara sedang sibuk di Kafe dan tidak kenapa-kenapa.
tiga puluh menit perjalanan karena jalanan sore yang padat, akhirnya aku sampai di kafe Ara. aku turun, dan segera masuk ke dalamnya. suasana kafe sore itu tidak terlalu ramai, bahkan suasana pantry terlihat sangat lenggang. aku memiliki firasat jika Ara tidak ada di kafe. dan firasat ku itu benar ketika aku bertanya pada salah satu pegawainya yang bernama Citra. orang yang sama yang kemarin mengangkat telepon ku.
"Mas Adam cari Mbak Ara ya?" katanya ketika melihatku.
aku mengangguk, "iya, Ara di sini kan?"
"yah...mbak Ara nya nggak ada Mas." jawabnya kemudian dengan tangan yang sibuk membuatkan pesanan pelanggan.
"kemana?" ada dua pembeli yang hendak memesan makanan, aku pun menggeser tubuhku sehingga tidak menghalanginya.
"ke toko kue."
"ngapain?"
"katanya ada masalah di sana."
"oke, makasi cit."
aku lupa jika menikah dengan wanita karir yang memliki bisnis lebih dari satu. jadi kalau kemarin yang membuatnya mengabaikan teleponku karena ada event di kafe, maka sekarang adalah karena toko kue? oke, tampaknya aku tidak perlu merasa cemas lagi. sebaiknya aku pulang dan mandi air hangat untuk menangkan diri. tapi kakiku ini sedikit nakal! bukannya menuruti pintah otakku, dia malah kini berjalan dan menaiki mobil grab dengan tujuan toko kue Ara.
sebenarnya ada apa sih dengan diriku?
TBC.
Zara POV
"Life goes on.."
-------------------
Malam ini aku dan Mas Adam tidur di rumah Bunda. Makan malam bersama Bunda berjalan lancar, sekalipun dadaku masih terasa sesak karena Mas Adam. Meja makan itu terasa hangat. Semua karena keramahan keluarga Mas Adam. Adik-adiknya yang baru aku kenal kemarin dan ada Bu dhe Mas Adam yang sejak Bapak meninggal tinggal di rumah ini untuk menemani Bunda. Sebenarnya berada di tengah-tengah keluarga Baskara adalah hal yang sempurna. Semua orang di keluarga ini penuh kasih sayang dan ramah padaku, hanya saja anak pertama keluarga Baskara yang merupakan suamiku itu menyebalkan sekali. Setelah insiden marah dan menangis di pelukannya aku masih enggan melihat wajahnya. Sekalipun saat ini kami berada di kamar yang sama dan hanya berdua.
"Ara, mau mandi dulu?" Tanya mas Adam.
Aku menggeleng, sembari menghembuskan nafas kesal. Teringat kejadian kemarin malam saat aku semangat mandi dan membayangkan malam pertama. Tapi ternyata... Ah! Aku tidak mau mengingatnya lagi! Hatiku masih sakit.
"Mas mandi dulu," Katanya lagi. Dan selang beberapa menit, kudengar pintu kamar mandi tertutup.
Pintar sekali Adam. Di saat aku tidak marah, dia bersikap cuek seolah aku tak ada. Di saat aku marah seperti ini, dia mengajakku bicara lebih dulu. Bahkan mandi saja dia bilang padaku. Kemarin-kemarin kenapa ga gituu bosss? Baru punya mulut ya?
Stresss, aku merasa stress sekarang! Pernikahan yang ku impikan kenapa tidak berjalan lancar? Apa aku menikahi orang yang salah? Tapi ini Mas Adam loh. Seseorang yang kusukai sejak dulu. Tetangga sebelah rumah yang sejak aku kecil sudah mencuri perhatianku. Yang tanpaku ketahui memiliki sifat b******k seperti ini.
Memang betul ya, kita tidak boleh menilai orang hanya dengan latar belakangnya. Mas Adam yang uda mondok bertahun-tahun aja nggak jamin bisa jadi suami yang baik. Atau ini terlalu awal untuk mengecap Mas Adam bukan suami yang baik mengingat aku dan dia baru menikah tiga hari yang lalu? Ahhh, aku tak tau. Kepalaku rasanya ingin pecah memikirkan fakta yang baru kuketahui hari ini.
Satu, Mas Adam membohongiku. Dua, Mas Adam meninggalkan rumah semalam karena tak ingin serumah denganku. Ketiga, Mas Adam tidak menghargaiku sebagai istrinya. Tiga fakta ini yang membuatku merasa terganggu dan kecewa pada Mas Adam.
Ketika aku hanya berguling ke sana kemari di atas kasur, dengan mata terpejam dan pikiran yang jalan kemana-mana, ku dengar sisi lain dari kasur berbunyi. Ada seseorang yang merebahkan tubuhnya di sampingku. Yang sudah pasti kutebak itu Mas Adam.
Sontak saja aku tidak berani berkutik, mataku pun tidak berani membuka. Karena bisa dipastikan, sosok pertama kali yang kutatap ketika membuka mata adalah Mas Adam.
"Ra," Suaranya pelan, tapi terdengar seperti bom di telingaku.
Astaga..benar-benar ya Adam ini?? Kenapa dia memanggil namakuuu???? Apa Adam yang dua bulan aku kenal kini kembali lagii??????
Aku tidak berani menyaut, tetap berada di posisi semula dan pura-pura tidur.
"Aku tau kamu belum tidur Ra," katanya. Bisa kurasakan hembusan nafasnya di tubuhku. Apa posisi kami sekarang sangat dekat???
Aku semakin takut untuk membuka mata. Takut ketika membuka mata dan jantungku tidak baik-baik saja.
"Ra, maafin aku."
Andai aku bisa menghilangkan kata di bumi ini, aku ingin menghilangkan kata Maaf!
Kesal sekali rasanya mendengar kata itu dari mulut Adam. Sebelumnya aku kesal karena tidak tau kesalahan Mas Adam apa, sampai-sampai harus minta maaf. Kali ini aku kesal karena aku tau sakit hatiku tidak hilang hanya dengan kata itu.
"Ra, maaf kalau dua hari ini buat kamu nggak nyaman."
Nyadar juga dia.
"Maaf kalau sikapku uda nyakitin kamu."
Suasana hatiku mendadak berubah. Mas Adam kamu kenapa sih? Kamu kenapa pekek minta maaf segala?? Aku lemah, getaran suara Mas Adam yang terdengar menyedihkan itu seolah menggoyahkan hatiku.
"Dua hari ini aku uda kayak orang linglung Ra, semuanya masih seperti mimpi. Kehilangan Bapak adalah satu fakta yang sampai saat ini masih sulit kuterima. Aku masi ga percaya bapak nggak ada di dunia ini lagi.."
Aku sontak membuka mataku. Kulihat Mas Adam sudah meneteskan air matanya. Jarak kami yang begitu dekat, membuatku mudah untuk mengusap pipinya.
"Mas.." Entah kemana perginya rasa kesal ku. Yang ada hanya rasa kasihan yang menjalar dalam hati. Melihat Mas Adam membuatku tak tega.
"Maafin aku raa," Ia menatapku dalam. Kulihat ketulusan di matanya.
Aku pun mengangguk dan membawanya ke dalam pelukan.
"Maafin Ara juga, mas." Kataku sembari mengeratkan pelukan diantara kami.
Kuhirup dalam dalam aroma tubuh Mas Adam yang membuat hatiku tenang.
Tampaknya aku yang salah faham. Mas Adam tak seburuk yang kukira. Atau selama ini aku yang kurang pengertian??
"Mas besok mau makan apa? Ara masikin!" Kataku sembari mengelus pipinya dan menghapus jejak sisa air mata yang ada di wajahnya.
"Nasi cumi bakar kamu kemarin enak banget Ra,"
"Beneran enak? Bukan enak yang karena laper?"
"Enggak, beneran enak kok."
"Yauda besok Ara masakin itu."
"Makasih Ra.."
"Sama-sama Mas, maafin Ara yang uda mikir jahat tentang Mas Adam."
"Gpp."
Mata kami saling menatap, dan kami saling tersenyum. Astaga..Mas Adam ganteng banget malam ini..rasanya aku ingin mencubit pipinya. Tatapanku jatuh pada bibir Mas Adam. Teringat semalam bibir itu mencium setiap inci wajahku. Ah—
Aku sontak mengalihkan tatapanku. Jantungku berdebar sangat kencang membayangkan kegiatan kami semalam. Dan aku semakin dibuat gila karena tiba-tiba saja bibirku menghangat. Mas Adam menciumku lembut, lama hingga kami berdua merasakan desakan gairah yang tak bisa ditahan lagi.
Setelah puas mencium bibirku, mas Adam menatapku dalam.
"Pelan-pelan ya Ra, aku masih butuh waktu." Katanya sembari mengusap pipiku.
Ya..aku akan menunggu sampai Mas Adam siap.
"Ya mas."
"Aku masih butuh waktu untuk healing kematian Bapak."
Aku mengangguk, mencoba mengerti apa yang Mas Adam rasakan saat ini. Pasti berat. Mungkin dia ingin menyembuhkan luka kepergian Bapak sendirian.
"Ya Mas."
Dan malam itu, kami tertidur saling berpelukan. Melepaskan segala masalah yang ada diantara kita.
Aku ingin menarik perkataanku yang bilang Mas Adam bukan suami yang baik. Mungkin kemarin hanya trial yang tidak tepat. Aku ingin memberi Mas Adam kesempatan. Apa yang terjadi diantara kami, hingga titik ini adalah karena semesta. Jadi bagaimana pun ke depannya aku hanya bisa berpasrah. Untuk sekarang aku ingin menikmati setiap waktu menjadi istri Mas Adam.
Tbc,
Xx, muffnr
Apakah ada yg baca cerita ini? Yg baca coba komen dong:(
Terima kasih