Regan tidak bisa berhenti mengetukkan jemari di atas roda kemudi mobilnya. Ia gusar, terlihat dari kerutan dalam di keningnya, serta tatapannya yang tidak pernah bisa fokus. Cukup lama sudah mobilnya terparkir di depan rumah bercat putih yang biasa ia datangi itu. Namun, ia masih merasa enggan untuk keluar, dan menemui orang yang sebenarnya harus ia temui. Rasa enggan itu didasari oleh keputusan yang telah Regan ambil. Keputusan yang tentunya akan menyakiti orang yang akan ia temui itu. Dan, meskipun keputusan itu akan membuatnya terbebas dari tekanan yang selama ini ia rasakan, tetap saja ia merasa tidak enak. Orang yang pernah merasakan pahitnya rasa sakit, tentunya akan merasa enggan untuk menyakiti orang lain. Dan itulah yang dirasakan olehnya. Regan menghembuskan nafas kasar, kemud

