CALON MENANTU

1501 Words
Foto endorse, terus isi acara di stasiun TV, ck! Dan dalam hati Ajeng, dia merutuki Panji yang bicara berbeda dengan penjelasan Evelyn saat ini. Bukan katanya Evelyn sangat sibuk makanya Panji juga bekerja? Diam-diam, Ajeng menarik sedikit ujung bibirnya yang bisa ditangkap Panji mimik itu sepersekian detik saat dia melihat cermin yang ada di dinding samping lift. "Loh, kamu bukannya ada agenda Sayang?" tanyanya ke Evelyn, untuk menutupi kegugupannya. "Ih, kamu tadi gak denger ya Sayang? Aku bilang, aku harusnya hari ini ada pemotretan dan ada undangan dari stasiun TV swasta. Cuma aku belum mau terima job. Makanya aku minta mereka tunda esok atau lusa. Kalau gak mau, biar mereka cari aja artis lain yang bisa gantiin aku," ucap Evelyn, mengingatkan sambil merangkul lengan suaminya. "Ah, iya ya? Aku salah dengar kayanya, Yang." "Ya udah deh, cepet pulang yuk. Mama tungguin kita. Mereka mau makan bersama, ni aja jadi ketunda. Yuk, kesian keluarga udah pada kumpul Sayang," ucap Evelyn sambil menarik lengan suaminya masuk ke dalam lift. Dan sebetulnya Panji tak tuli. Dia ingat yang dibilang Evelyn tadi sebelum mereka sampai ke rumah keluarga Pradana. Cuma tadi Panji sengaja pakai alasan itu agar Dasta tak memperpanjang argumen. Panji juga tak sangka kalau istrinya akan menghampiri ke kantor. "Ajeng, kamu kenapa diam saja? Ayo cepat masuk." "Eh, iya, ya ampun, maaf ya Jeng, aku tadi terlalu fokus ke suamiku sampe gak liat kamu ada disitu. Sorry banget ya," ucap Evelyn yang saat lift terbuka memang fokus matanya tertuju ke Panji. "Gapapa Bu Eve. Tapi maaf, saya masih ada barang ketinggal di meja. Jadi gak usah ditunggu. Saya juga mau datang ke acara gathering sama teman-teman kampus dulu. Jadi silakan duluan," ucap Ajeng yang merasa beruntung bisa menunjukkan pesan singkat grup satu program studinya di kampus. Hari ini mereka memang akan mengadakan temu kangen. Tak semua bisa datang. Dan sejujurnya Ajeng juga tak yakin sebelumnya bisa datang. Cuma dia bersyukur bisa jadikan itu alasan. "Oh, ya udah. Kalo gitu kita duluan ya." "Masuk Jeng. Nanti kita antar dulu ke tempat reuniannya," cuma kali ini Panji tak sependapat dengan istrinya. Dia malah membuat rencana lain. "Eh, mama sama yang lain udah nunggu di meja makan loh, Sayang," makanya Evelyn agak kaget. "Terima kasih Pak Panji. Tapi gak usah. Saya dijemput sama Iwan," tapi siapa yng mau diantar? Ajeng menolak. Tak mau dirinya jadi obat nyamuk yang melihat kemesraan pengantin baru di dalam mobil. "Oh, pacar kamu, ya Jeng? Ya udah, have fun ya, bye." Hanya senyum yang diberikan Ajeng sebelum pintu lift ditutup Evelyn. Istri bosnya juga sudah menempelkan kepalanya bersandar di lengan Panji. Senyum terlukis di wajah Evelyn dan seharusnya Panji senang bukan melihat wanita yang diimpikannya sejak dulu sudah menjadi istrinya? Iwan? Kenapa aku baru dengar nama itu? malah kini dia penasaran sendiri dengan nama yang disebut Ajeng. Padahal mereka sudah ada di dalam mobil menuju rumah keluarga Pradana. Tapi Panji masih kepikiran soal nama itu. "Sayang, kamu denger gak sih aku bilang apa?" "Eh, kenapa Eve? Maaf, tadi aku kepikiran soal tender." "Tuh, kan, kamu nih, pentingan kerjaan kamu apa aku sih?" "Jangan manyun gitu dong Sayang," ucap Panji sembari mengelus wajah istrinya yang sangat cantik dan halus sekali kulitnya. "Aku kerja kan buat kamu. Jelas kamu penting. Aku kerja, biar istriku bisa berhias, beli berlian mahal, bikin penampilan kamu makin manis dan aku juga mesti support semua kebutuhan kamu, termasuk kasih rumah terbaik buat keluarga kita. Apalagi udah ada benih aku di kandunganmu, kan?" tanya Panji yang masih berusaha merayu istrinya. "Habis, kamunya, aku ajak ngobrol malah bengong sendiri." "Maaf ya Sayang. Kita udah sampai, yuk masuk. Aku udah laper juga nih. Anak kita juga pasti udah laper juga kan di dalam sana?" Tak inginlah Panji ribut dengan istri kesayangannya ini. Apalagi cuma gara-gara pikirannya yang tak jelas memikirkan soal Iwan. Siapa lagi pria itu. Dan sejak kapan Ajeng pergi bersama laki-laki? Seingat Panji, Ajeng itu berhubungan dengan laki-laki dan mengobrol hanya saat karyawan lelaki sedang bekerja saja. Itu pun berkaitan dengan pekerjaan saja. Dia hanya dekat dengan Panji, Jimmy, dan Hamdan Pradana. Bahkan Ajeng tidak terlalu suka bicara dengan teman-temannya. Dia selalu menjaga jarak dan bersikap sopan. Ini yang membuat Panji tak yakin kalau Ajeng memang jalan bersama lelaki. "Ta, kamu bukannya ada reunian? Kok malah ikut makan disini?" tanya Panji yang masih memikirkan soal Ajeng padahal dia sedang makan bersama dengan keluarganya. Makanya Panji menyerang adik bungsunya yang satu progam studi dengan Ajeng. Cuma bedanya, Ajeng ditawarkan jadi sekretaris, tapi Sarita memilih bekerja di firma hukum. Mereka lulusan hukum. Itu juga kenapa Ajeng bicaranya selalu pedas dan mudah mematahkan argumen lawan bicaranya. Ajeng juga sebetulnya inginnya menjadi pengacara. Cuma tawaran jadi asisten dan sekretaris gajinya menggiurkan ketimbang bekerja di firma hukum. Makanya Ajeng melanjutkan pendidikan untuk jadi sekretaris. Dia melepas mimpinya sementara demi uang. "Eh iya emang ada sih. Tapi aku gak ikut soalnya mama ngancem aku katanya kalo gak ikut dinner bareng keluarga, uang jajan aku bulan ini ga cair," jelas Sarita yang memang masih disupply mamanya. Berapa sih gaji honorer di firma hukum? Kan tak besar sih. Pengalaman yang dicari Sarita sambil dia menunggu melanjutkan S2. Sarita ingin mencoba peruntungan dengan beasiswa. Makanya dia menolak lanjut S2 dengan biaya dari orang tuanya. Katanya ingin mandiri, tak mau jadi anak bungsu menyusahkan. Tapi soal uang jajan, ini soal lain. Dan penjelasan Sarita membuat d**a Panji memanas. Entah kenapa dia jadi kesal. "Eh iya Ta, soal acara itu, Ajeng tuh emang deket sama cowok yang namanya Iwan ya? Tadi aku denger dia dijemput sama Iwan ke sananya." "Oh, si Iwan? Dia emang udah lama kejar-kejar Ajeng. Mereka berdua sama-sama yang paling pinter di kelas. Jadi emang mereka deket. Kantornya Iwan juga di sebelah perusahaan Papa. Wajar kalo mereka bareng sih." "Kacamatanya tebal, tampilannya polos, ga mungkin menarik untuk lelaki." "Hush, Panji, kamu tuh. Lagi-lagi kamu nyindir Ajeng. Kamu ya, Ajeng itu cantik loh. Kamu gak liat waktu acara nikahanmu? Banyak lo yang puji Ajeng ke Mama juga. Sampe sepupumu si Erwin juga bisik-bisik ke Mama minta dijodohin." "Bener tuh Kak Ji. Mamanya mas Erwin sama papanya juga deketin aku ama Ajeng, tanya-tanya Ajeng udah punya calon apa belum," ucap Sarita membenarkan celetukan mamanya. Membuat Panji makin sebal. Panji tadi juga tak bermaksud menghina Ajeng sih, cuma kesal saja dirinya mendengar kedekatan Ajeng dan Iwan. Ini lagi, apa maunya Erwin? "Jangan ngimpi masuk keluarga besar kita dan naik derajat. Kamu sendiri tahu dia udah sama temenmu itu kan?" "Kak Ji, apa-apaan sih? Iwan emang ngejar-ngejar Ajeng. Tapi belum tentu mereka jadian kan? Lagian, gak ada salahnya juga sih kalau coba peruntungan PDKT sama beberapa cowok. Ya kan mastiin aja mana yang pas, mumpung masih single juga sih." "Tau nih, kakakmu emang aneh Ta. Pokoknya ya, kalian, terutama kamu, Panji, jangan coba-coba hina Ajeng kaya gitu. Dia itu udah kayak anak Mama sendiri. Awas kamu ya sampai bicara kayak tadi soal status. Apa perlu Mama ke pengadilan buat ngukuhin statusnya jadi anak angkat Mama?" "Sudah-sudah, lagi makan bersama kok malah ribut. Panji, minta maaf kamu ke Bu Denok. Papa setuju sama Mama kamu, kali ini kamu kelewatan batas. Bu Denok dan keluarganya sudah seperti keluarga dengan kita. Jadi jangan lagi kamu bicara sembarangan!" Panji juga tak ingin menyindir pembantu yang selama ini sudah merawatnya. Cuma dia juga tak mengerti kenapa sih dirinya emosian gini? Mana bu Denok, ibunya Ajeng mendengar omelannya tadi. Panji jadi tak enak. "Den, sudah gak perlu dipermasalahkan. Ibu tahu Den Panji itu seperti apa. Kan dari kecil Ibu yang urus Aden. Dah gak usah dipikirin, ini, teh jahe sereh, diminum dulu biar tenang. Kalau ada kesulitan kerja di kantor, jangan dibawa stress." "Bu Denok emang paling ngertiin aku, makasih ya Bu." Panji yang setelah acara makan malam itu menemui Denok Cempaka, ibunya Ajeng, secara personal meminta maaf atas ucapannya. Dia merasa bersalah. Tapi sikap Denok tak sama sekali menyalahkannya justru wanita itu paham sikap Panji yang suka temperamen kalau banyak pikiran. Yah, memang ada yang mengganggu Panji, tapi bukan pekerjaan. Melainkan seseorang yang Denok juga mengenalnya. Cuma Panji memang tak cerita. Buat apa? Dia tak mau menambah besar kesalahpahaman yang akan merugikan dirinya sendiri kalau banyak orang yang tahu. Panji mencoba menikmati momen itu sambil menikmati minuman kesukaannya buatan Denok. "Wah, Bi Denok, bentar lagi bakalan punya calon mantu ya?" "Hush, kamu bicara apasih, Eti?" Denok yang tak tahu ujung pangkal permasalahannya tiba-tiba Eti salah satu pembantu di rumah keluarga Pradana datang dengan wajah semringah berucap begitu. Denok jadi bingung. Begitupun Panji yang tak tahu apa maksud Eti saat menyeruput teh jahenya. "Kata Ita juga, belum tentu Ajeng jadian sama temannya bi Eti. Karena pria itu udah deketin lama tapi memang selalu ditolak sama Ajeng," ucap Panji menimpali sekenanya karena dia yakin Eti pasti mendengar obrolan di ruang makan tadi. "Ih, lain ieu mah Den. Liat aja di jendela. Ajeng dianter pake motor gede, terus dandanannya beda. Geulis pisan!" Diam-diam, rahang Panji mengeras dan dia mengencangkan kepalan tangan di mug yang dipegangnya. Baru satu setengah bulan aku pergi, dia sudah punya pacar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD