"Sesuai dugaanku." Pagi itu, sebelum Ajeng berangkat ke kantor, dia terduduk lesu di ranjangnya masih dengan handuk yang melilit menutupi tubuhnya. Pandangan mata Ajeng kosong. Pikirannya terlalu penuh. Sibuk dengan segala kemungkinan yang tak jelas mana yang akan terjadi. Itu semua hanya prasangka yang memusingkan dalam benaknya. Bulir air mata mengalir saat tatapan matanya kembali ke kertas uji yang sedari tadi memang dipegang olehnya. "Kenapa begini Tuhan? Apa rencana-Mu sebenarnya?" Ajeng patah hati. Dia hanya bisa berkeluh kesah pada Tuhannya dan menangis tanpa suara merutuki alur hidupnya yang terasa makin gelap. Padahal, langit pagi itu sudah hampir cerah karena matahari sudah bergerak malu-malu keluar dari peraduannya. Ah, Ajeng makin tak berani keluar kamar dan menata

