Bab 6: Siasat Bulan Madu (2)

1328 Words
“Tenang saja. Ini hanya liburan biasa kok buat kalian saling mengenal, tapi kalau kalian mau menganggap ini sebagai bulan madu ya nggak apa-apa kan sudah sah juga jadi suami istri.” Ambar memberikan lirikan penuh arti menatap Yudha dan Luna secara bergantian. Menanggapi itu agaknya membuat Luna sedikit salah tingkah sementara Yudha masih bergeming masih menatap ibunya dengan pandangan penuh selidik. “Yang benar? Nggak ada yang sedang Mama rencanakan, kan?” Ambar berdecak. “Kamu tuh nggak percayaan banget.” Yudha menghela napas dan mengangkat kedua bahunya. “Kalau cuma saling mengenal kan nggak perlu disuruh sama Mama. Kami bisa rencanakan sendiri.” “Ya tapi kapan itu?” “Mungkin … dalam beberapa hari lagi.” Ambar bersedekap dan kemudian ia melipat kedua tangannya di atas d**a. “Lalu apa yang kamu lakukan sekarang? Mendekam di ruang kerja. Meninggalkan istrimu sendirian di hari Minggu begini? Bukankah seharusnya kalian bersama agar bisa saling mengenal?” Luna mengerjap sesaat mendengar dirinya ditarik ke dalam perbincangan antara ibu dan anak itu. “Aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Lagi pula, aku nggak nyuekin Luna kok. Kami sempat sarapan dan ngobrol banyak tadi pagi.” Yudha menoleh dan menatap Luna meminta bantuan. “Benar, Ma. Kami mengobrol banyak tadi pagi.” Luna membenarkan. “Disitulah masalahnya.” “Maksudnya, Ma?” Yudha mengernyitkan keningnya. “Hubungan kalian jadi terhambat karena kamu masih mementingkan pekerjaan.” “Beberapa pekerjaan jadi tertunda karena pernikahan yang mendadak, Ma.” Yudha menghela napasnya teramat pelan hanya agar Ambar tak melihatnya. “Justru itulah. Papa sepakat untuk mengambil alih semua pekerjaanmu saat ini agar kamu bisa fokus sama kehidupanmu yang baru. Anggaplah itu hadiah pernikahan yang mendadak dari Papa,” tutur Ambar dengan wajah sumringah. “Hadiah pernikahan?” Yudha mengulang lagi. Ambar menganggukkan kepalanya. Masih dengan senyuman yang terpatri di wajahnya. Sementara Yudha tak kuasa untuk tak mengernyitkan dahinya. “Mama yakin ini cuma liburan biasa? Bukannya sedang ingin memberikan tuntutan kepada kami kan?” “Tuntutan? Anak maksudmu?” Yudha tampak mengerjap dan memalingkan wajah untuk menghindari tatapan ibunya. Setengah menyesal karena menanyakan hal itu. “Tenang saja. Mama nggak akan menuntut apa-apa darimu kok. Dengan melihatmu sudah menikah saja Mama sudah senang. Terlebih jika menantunya adalah Luna. Masa iya Mama harus membuat menantu Mama tak nyaman?” Luna yang sejak tadi terdiam dengan perasaan yang ikut berdebar itu kini tak menampik perasaan tulus yang diberikan oleh mertuanya. Dalam hatinya, ia membenarkan apa kata sahabatnya. Bahwa jika ujiannya bukan pada mertua, mungkin pada suaminya. Hati suaminya lebih tepatnya. “Karena kalian berdua diam saja. Maka Mama anggap kalian setuju ya. Bagus! Lebih baik sekarang kalian bersiap karena penerbangannya nanti sore.” Keduanya sontak melongo. *** Pada akhirnya, Yudha tak punya lagi alasan untuk berkelit dan memilih untuk menuruti kemauan ibunya. Berbeda dengan Luna yang terlihat tak keberatan sama sekali itu diam-diam menatap ibu mertuanya dengan sorot mata berbinar. Namun, ketika akhirnya mereka menginjakkan kaki di sebuah private resort itu membuat kening Yudha semakin berkerut. Pasalnya pilihan tempat menginap yang katanya untuk liburan itu lebih terlihat seperti tempat pasangan yang menginginkan bulan madu romantis. “Beneran ini tempatnya, Mas?” tanya Luna ketika mereka sudah benar-benar sampai di villa mereka selama beberapa hari kedepan. Sebuah villa yang mengusung konsep overwater di atas lautan dangkal itu langsung membuat dirinya melebarkan senyumannya. Ia melangkahkan kaki menyusuri ruangan yang hanya terdiri dari satu buah kamar tidur dengan akses pintu menuju ke balkon kecil dan satu ruang semi outdoor yang terdiri dari sofa dan mini kitchen dengan pemandangan lautan. “Seperti iya,” jawabnya singkat. “Sepertinya Mama mempunyai definisi liburan yang berbeda untuk kita.” Yudha mengedarkan pemandangannya dengan raut wajah yang sangat terlihat tak tertarik. Bahkan, Luna bisa menangkap bahwa rahang pria itu tampak mengeras. “Sepertinya begitu.” Luna membenarkan dengan bahu yang perlahan sedikit terkulai. Sadar bahwa hanya dirinya yang terlalu excited. “Apa kita perlu pindah tempat, Mas?” tanya Luna dengan suaranya yang sudah tercekat. “Tidak usah. Kita sudah melewati perjalanan cukup panjang. Dan juga hari sudah menjelang malam.” Dia benar. Luna menoleh dan menyadari bahwa semburat jingga sudah muncul dari ujung langit. Matahari sebentar lagi akan mulai terbenam. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya dan menggeret koper menuju pintu masuk dan berhenti. “Luna,” panggilnya lagi. Luna sontak mendongak. Sedikit terkejut. “Ya, Mas?” “Mau kamu yang bebersih dulu?” “Boleh, Mas.” “Aku mau pesan makan lewat room service untuk makan malam kita. Kamu keberatan?” Luna menggeleng. Tak punya tenaga untuk menanyakan kenapa. Padahal resort ini memiliki sebuah restoran, tapi pria itu lebih memilih untuk menggunakan layanan room service dibanding mengajaknya makan malam bersama. “Kamu mau pesan makan apa?” “Apa saja. Yang direkomendasikan saja.” Yudha mengangguk singkat. Sementara Luna menyeret langkahnya menuju kamar dan menutup pintunya dengan perasaan yang teramat campur aduk. Malam harinya, Luna benar-benar tidak bisa menelan makanan dengan baik. Perasaan tertolak sudah semakin menyebar ke seluruh tubuhnya hingga ia kini tak bisa lagi menyembunyikan raut wajahnya. “Makanannya tidak enak?” Luna menoleh kaku dan menatap suaminya yang kini sudah berbaring bersama mereka di atas sebuah ranjang King Size berwarna putih dengan kelambu yang terpasang di tiang penyangga. “Enak kok,” jawab Luna singkat. Tidak sepenuhnya jujur. Ia sempat mencicipi makanannya dan mengakui cita rasanya, hanya saja ia memang tidak dalam kondisi perasaan yang bagus. Kalau dipikir-pikir, selalu saja seperti itu. “Tapi kamu terlihat tidak menikmati makan malamnya.” Memang tidak. Mereka hanya makan mengenakan pakaian tidur di atas sofa sambil menatap tayangan film random yang ada di televisi. “Masa sih?” Luna mulai tak bisa mengelak, maka ia mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan Yudha yang penuh selidik. Hal itu sontak membuat Luna bergidik. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka tidur dalam satu ranjang. Tidur dalam artian sebenarnya karena mereka belum pernah benar-benar tidur bersama. “Kamu pasti sedang memikirkan berpikir keras,” lanjut pria itu lagi. Tebakannya sebenarnya tepat sasaran, tapi Luna tak mau langsung mengakuinya dan memilih bergeming. “Nggak mau cerita? Aku suami kamu loh.” Yudha merubah posisinya. Ia membalik tubuhnya menjadi miring dan menopang kepalanya dengan tangannya. Luna menggigit bibir bawahnya sesaat sebelum akhirnya menyerah. “Aku hanya berpikir, kalau mungkin seharusnya aku menolak dengan tegas permintaan ibumu tadi.” “Karena?” “Aku melihatmu tak nyaman.” “Kamu berpikir seperti itu?” “Terlihat jelas dari gestur dan raut wajahmu, Mas.” Yudha mengerjap. “Well, aku tidak akan mengelak akan hal itu sih.” Luna tersenyum masam. “Tapi bukan berarti itu sepenuhnya benar.” Detik berikutnya Luna menoleh dan menatap Yudha dengan sorot mata yang meminta penjelasan. “Seperti yang kamu tahu kan kalau pernikahan kita sudah diatur dan kita sepakat untuk menunda bulan madu kita, tapi kemudian Mama datang membawa voucher hotel dan berkata bahwa ini adalah trip liburan yang tidak sebenar-benarnya liburan. Aku harap kamu menangkap maksudku.” Luna mengerjap sesaat sebelum akhirnya mengangguk. “Aku hanya ingin punya kendali penuh atas kehidupan baruku, termasuk dengan cara apa pendekatan kita,” lanjut Yudha lagi dan seketika meluruhkan seluruh rasa overthinking yang bersarang di benaknya sejak beberapa jam yang lalu. “Jadi … stop untuk berpikir kalau aku tak menyukaimu.” Mata Luna sontak terbelalak. “Kok, Mas tahu?” “Aku sudah mempelajarimu, Lunara.” Yudha terkekeh pelan. Detik berikutnya pipinya memanas dan Luna yakin bahwa kini wajahnya perlahan berubah menjadi merah. Wanita itu tak menyadari bahwa sejak tadi Yudha menatapnya dengan sorot mata yang intens dan berbeda dari sebelumnya. Ketika Luna sadar, mata mereka bertemu. Yudha mengangkat tangannya lalu menyingkirkan rambut yang di pipinya dan kemudian membelainya. Tak hanya sampai disitu, jemarinya menyusuri lekukan di wajahnya dan berhenti pada bibirnya yang terbuka. Luna menahan napas. “Luna,” panggil Yudha, suaranya terdengar parau. “Hmm.” “Apakah aku boleh menginginkanmu malam ini?” tanyanya dengan penuh kehati-hatian. “Kamu suamiku, Mas. Kamu berhak akan diriku.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD