Malam itu tidak berakhir dengan tenang. Arka sudah tertidur kembali setelah dibacakan doa, dan rumah terasa lebih tenang setelah ustadz datang. Namun, ada sesuatu yang belum selesai. Raka duduk di ruang tengah bersama ustadz. Nayara memilih untuk tetap di kamar, memeluk Arka lebih lama dari biasanya, seolah takut melepaskannya walau hanya sebentar. Lampu ruang tengah menyala redup, dan suasana hening. Raka membuka suara, pelan tapi penuh tekanan, “Pak, ini sebenarnya dari mana?” Ustadz itu tidak langsung menjawab, ia hanya menatap sekeliling ruangan, seolah membaca sesuatu yang tidak terlihat. "Biasanya, hal seperti ini tidak datang begitu saja,” katanya pelan. “Ada sebab, ada yang mengirim, atau setidaknya membuka jalan.” Kalimat itu membuat d**a Raka terasa lebih berat, dan pikirann

