Pagi itu datang seperti biasa, tapi suasana di rumah tidak seperti biasanya. Raka sudah bangun lebih dulu dan membuat dua cangkir kopi, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Nayara. Ia meletakkan cangkir kopi Nayara di meja makan, seperti yang selalu dilakukan setiap pagi. Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar terbuka terdengar. Nayara keluar dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan berjalan menuju dapur tanpa menoleh ke arah Raka. Raka memperhatikannya sebentar dan berkata, “Kopinya di meja.” Nayara tidak menjawab, ia hanya berjalan ke meja makan, melihat cangkir kopi itu sebentar, lalu duduk dan meminumnya perlahan. Sunyi kembali memenuhi ruangan. Raka berdiri bersandar di meja dapur, mencoba mencari kata yang tepat, tapi akhirnya menyerah. Hari itu adalah hari kedua sejak

