𝖯𝖺𝗀𝗂 𝖸𝖺𝗇𝗀 𝖳𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖳𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀

1860 Words
Pagi datang dengan perlahan-lahan, sunyi dan tenang. Cahaya matahari mulai masuk ke dalam kamar melalui tirai tipis, jatuh dengan lembut ke lantai dan menyebar hingga ke ujung tempat tidur. Udara masih terasa dingin karena hujan yang turun tadi malam, membuat suasana terasa sangat hening dan sedikit sedih. Raka sebenarnya sudah bangun dari tidurnya sejak beberapa saat yang lalu. Saat ini, ia duduk di tepi tempat tidur dengan kepala menunduk, kedua tangannya saling menggenggam. Rambutnya masih terlihat berantakan, dan matanya terlihat lelah. Namun, kelelahan di matanya bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikirannya masih terus memikirkan sesuatu dan tidak bisa benar-benar beristirahat. Di belakangnya, istrinya masih terlelap. Istrinya itu masih tidur nyenyak. Perempuan itu bergerak sedikit, dia menarik selimut untuk mendekap tubuhnya, lalu perlahan membuka mata. "Mas…?” suaranya masih serak karena baru bangun tidur. Raka menoleh ke arah istrinya. Seketika itu juga, ekspresinya berubah menjadi lebih lembut. β€œIya… bangun?” tanyanya dengan suara pelan. Perempuan itu mengangguk sedikit, lalu duduk sambil merapikan rambutnya yang terurai. Ia menatap punggung Raka beberapa saat, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak dikatakan. β€œKamu sudah bangun dari tadi?” tanyanya lagi. β€œBaru saja,” jawabnya. Itu bohong kecil yang terdengar biasa. Dan perempuan itu tidak menyadarinya, atau mungkin memang memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Ia tersenyum tipis. "Mau sarapan seperti apa? Aku yang masak ya." Raka terdiam sesaat sebelum menjawab. "Terserah, apa saja." Jawaban yang singkat, tapi cukup untuk membuat perempuan itu menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya. Namun ia tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk, lalu turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Suara air mengalir terdengar, memenuhi kamar yang kembali sunyi. Raka menghela napas pelan. Tangannya meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Layarnya masih gelap, tapi seolah-olah benda kecil itu menyimpan sesuatu yang terus menarik pikirannya kembali ke semalam. Ia tidak membukanya. Dia hanya menatap layar hitam itu beberapa detik, lalu meletakkannya lagi. Seolah kalau tidak dilihat, semuanya tidak akan nyata. Dapur dipenuhi aroma bawang goreng dan nasi hangat. Perempuan itu bergerak lincah, menuang telur ke wajan, mengaduknya perlahan. Rambutnya sudah diikat sederhana, dan wajahnya terlihat segar meskipun masih ada sisa kantuk di matanya. Dia sesekali melirik ke arah ruang makan. Raka duduk di sana, menatap kosong ke luar jendela. Biasanya, pagi seperti ini diisi dengan obrolan kecil tentang rencana hari ini. Atau mungkin membahas hal-hal sepele. Bahkan, terkadang kita juga membahas mimpi semalam yang tidak masuk akal. Tapi pagi ini terasa berbeda. Biasanya ramai, tapi pagi ini malah sepi. Sepi yang tidak nyaman, bukan sepi yang bikin rileks. Malah terasa ganjil. "Mas,” panggilnya dengan suara lembut. β€œSarapan sudah siap." Raka menoleh ke arahnya, lalu mengangguk perlahan. Ia berjalan ke meja makan dan duduk di kursinya. Mereka makan sarapan dalam keheningan beberapa menit. Hanya suara sendok mengenai piring yang terdengar di ruangan. Perempuan itu akhirnya membuka percakapan, mencoba mencairkan suasana yang tegang. "Nanti pulang jam berapa, Mas?” tanyanya dengan nada sopan. "Mungkin agak malam nanti,” jawab Raka singkat. "Lembur lagi, ya?” tanyanya lagi dengan nada sedikit prihatin. "Iya... mungkin,” jawab Raka dengan nada yang tidak terlalu yakin. Jawaban itu membuat perempuan itu menunduk pelan, seolah-olah sedang berpikir tentang sesuatu. "Mas, akhir-akhir ini kamu sering banget pulang malam." Raka terdiam sesaat. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Lalu dia berkata, "Ada banyak kerjaan." Perempuan itu mengangguk pelan. Ia tidak memaksa Raka untuk menjelaskan lebih lanjut. Tidak pernah memaksa. Justru itu yang membuat Raka merasa semakin berat. Setelah sarapan, Raka bersiap berangkat. Dia mengenakan kemeja, merapikan kerahnya di depan cermin. Perempuan itu berdiri di belakangnya, membantu membenarkan lipatan kecil di bahunya. Gerakan sederhana ini sudah menjadi kebiasaan mereka setiap pagi. "Mas...” katanya dengan suara pelan. Raka menoleh sedikit ke arahnya. "Iya?” tanyanya. "Hati-hati di jalan,” ujarnya. Raka menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil. "Iya,” jawabnya. Ia lalu mengusap kepala istrinya dengan lembut sebelum akhirnya beranjak pergi. Pintu tertutup dibelakangnya. Dan rumah itu kembali sunyi. Perempuan itu berdiri cukup lama di ruang tamu setelah Raka pergi. Entah kenapa, ada perasaan aneh di dadanya. Bukan sedih, tapi juga bukan baik-baik saja. Ia berjalan kembali ke kamar, merapikan ranjang, melipat selimut, merapikan bantal. Saat tangannya meraih meja kecil di samping ranjang, ia melihat ponsel Raka tertinggal di sana. Ia terdiam. β€œLupa bawa…” gumamnya pelan. Ia mengambil ponsel itu, berniat menyimpannya saja agar nanti bisa diambil. Tapi layar ponsel tiba-tiba menyala. Satu notifikasi muncul. Perempuan itu tidak langsung membuka. Ia hanya menatap nama yang tertera di layar. Dadanya terasa aneh. Ada sesuatu dalam dirinya yang berbisik untuk tidak melihat… tapi seolah ada kekuatan lain yang menarik pandangannya. Tangannya sedikit bergetar. Lalu, layar itu mati kembali sebelum ia bisa melakukan apa pun. Perempuan itu menarik napas dalam-dalam dan meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Ia tidak membukanya lagi. Bukan karena tidak ingin tahu… tapi karena rasa takut akan apa yang mungkin ada di dalamnya. Di dalam mobil, Raka baru menyadari bahwa ponselnya tertinggal saat mobil sudah cukup jauh dari rumah. Ia menghela napas perlahan-lahan, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa pulang ke rumah mungkin bukan lagi hal yang sepenuhnya membuatnya merasa tenang. Sementara itu, di rumah, perempuan itu duduk di tepi ranjang yang rapi. Tangannya menggenggam satu sama lain di pangkuannya. Ia merasakan firasat aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada bayangan yang mengikutinya - tidak jelas bentuknya, tapi selalu ada. Ia memandang keluar jendela, melihat cahaya pagi yang mulai terang. Tiba-tiba, satu pertanyaan muncul di pikirannya - Apakah semuanya masih sama seperti dulu? Tidak ada jawaban yang muncul. Hanya pagi yang terus berlalu, seolah tak ada perubahan… Tapi, perlahan, sesuatu mulai berubah. Perempuan itu masih duduk di pinggir tempat tidur, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa pun. Rumah terasa sangat sunyi. Bukan sunyi yang bikin tenang… tapi sunyi yang kayak menekan d**a perlahan-lahan. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu berdiri perlahan. Tangannya secara refleks meraih ponsel Raka lagi, hanya untuk memastikan bahwa benda itu masih ada di tempatnya. Layar ponsel yang hitam itu memantulkan wajahnya sendiri, dan wajah itu tampak baik-baik saja di permukaan. Namun, matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Ia meletakkannya kembali dengan hati-hati. Tidak, ia tidak ingin melakukan hal itu. Ia tidak mau menjadi orang yang diam-diam membuka ponsel suaminya tanpa sepengetahuan suaminya. Setidaknya, belum saat ini. Waktu berjalan dengan pelan, seolah-olah berusaha memberinya waktu untuk berpikir dan memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia sibuk seperti biasanya, mencuci piring, menyapu lantai, dan merapikan meja. Biasanya, kegiatan-kegiatan kecil ini terasa ringan, tapi hari ini mereka terasa seperti cara untuk menghindari pikirannya sendiri. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah kamar setiap beberapa menit. Matanya selalu tertarik ke arah meja kecil di samping ranjang, ke arah ponsel yang tertinggal di sana. Seolah-olah benda itu memanggilnya, menarik perhatiannya. Ia berhenti menyapu dan tangannya terdiam di gagang sapu. Ia merasa tidak nyaman di d**a, seperti ada yang mengganjal di sana. Perasaan yang sejak tadi ia tahan perlahan naik ke permukaan, yaitu rasa penasaran yang bercampur takut. Ia berjalan kembali ke kamar dengan perasaan yang campur aduk. Ia berusaha berjalan dengan pelan, seakan-akan lantai bisa berbunyi keras kalau ia bergerak terlalu cepat, karena ia tidak ingin mengganggu kesunyian. Ponsel itu masih di sana, di tempat yang sama ketika ia meninggalkannya. Ia berdiri di samping meja, menatap ponsel itu cukup lama, seolah-olah mencari kepastian tentang apa yang harus ia lakukan. Jantungnya berdetak lebih cepat, meskipun ia belum melakukan apa-apa, hanya berdiri di sana dan menatap ponsel itu. β€œAku cuma mau lihat… jam,” bisiknya pelan, seolah perlu alasan, meskipun tidak ada siapa-siapa yang mendengar, karena ia merasa perlu membela diri atas tindakannya. Tangannya meraih ponsel itu dengan lembut. Layar ponsel menyala, memancarkan cahaya lembut di ruangan. Tidak ada notifikasi baru yang muncul, hanya kesunyian. Hanya layar kunci yang terpampang, tenang dan diam. Perempuan itu menelan ludah, menunggu sesuatu yang tidak pasti. Jarum jam digital di layar bergerak perlahan, satu menit... dua menit... dan ia masih memegang ponsel itu tanpa bergerak, seolah menunggu sesuatu yang akan terjadi. Akhirnya, dia mengunci layar kembali dan meletakkannya. Tangannya terasa sangat dingin. Dia duduk di tepi tempat tidur, mata tertutup. Rasa lega muncul, tapi rasa gelisah justru semakin besar. Sebab sekarang dia tahuβ€” dia tidak takut pada apa yang mungkin dia lihat. Ia khawatir jika firasatnya itu benar-benar terjadi. Di kantor, Raka duduk di depan meja kerja, tetapi pikirannya tidak fokus pada layar laptop. Matanya melihat dokumen, tapi sepertinya tidak ada kalimat yang benar-benar dia baca. Pikirannya malah kembali ke rumah, tepatnya ke kejadian pagi tadi. Ke tatapan istrinya yang lembut, yang penuh kepercayaan, yang tidak menuntut apa-apa, membuatnya merasa sangat terharu. Dan justru itu yang membuat hatinya terasa sesak, seperti ada yang mengganjal di dalam d**a. Ia mengusap wajahnya pelan, mencoba untuk menghilangkan perasaan tidak enak itu. β€œRak, meeting lima belas menit lagi,” suara rekan kerjanya menyadarkannya dari lamunan. β€œIya,” jawabnya singkat, tanpa banyak bicara. Tapi setelah rekannya pergi, ia tetap duduk diam, tidak bisa bergerak, masih terpaku pada pikirannya tentang istrinya. Tangannya secara refleks mencari ponsel di sakunya, tapi kemudian terdiam sejenak. Ponselnya ternyata tidak ada di sana. Ia menghembuskan napas panjang karena lega, tapi juga sedikit kesal. Baru sekarang ia menyadari bahwa ponselnya tertinggal di rumah. Dan tanpa alasan yang jelas, perasaan tidak tenang tiba-tiba muncul di dadanya. Bukan karena takut istrinya akan menemukan sesuatu di ponselnya, tapi entahlah, ada perasaan yang mengganggu. Tapi karena ia tahu kalau suatu hari semuanya akan terbuka, ia mungkin akan kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia kembalikan lagi. Menjelang siang, perempuan itu duduk di ruang tamu, mencoba membaca buku. Ia membuka halaman demi halaman, tapi sejak tadi, halaman yang sama tidak pernah benar-benar ia baca. Matanya hanya bergerak mengikuti huruf, tanpa memahami maknanya. Pikirannya kembali ke pagi tadi, ketika segalanya masih terasa biasa. Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, yaitu keheningan yang berbeda. Ia teringat jawaban-jawaban singkat suaminya, Raka, dan tatapan kosongnya di meja makan. Ia mengenal suaminya dengan sangat baik, terlalu mengenal. Dan justru itu yang membuatnya merasa takut, karena perubahan kecil pun terasa begitu jelas dan membuatnya penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Ia menutup buku itu perlahan. Matanya beralih ke jam di dinding. Masih siang. Masih lama sampai Raka pulang. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah… ia merasa waktu berjalan begitu lambat, seolah sengaja memberinya ruang untuk berpikir terlalu banyak. Di luar, langit mulai berubah mendung lagi. Angin bertiup dengan lembut, membuat tirai jendela bergoyang-goyang. Perempuan itu berdiri dan menutup jendela, lalu bersandar sejenak di sana sambil menatap halaman yang mulai diselimuti kegelapan. Matanya tampak terfokus pada sesuatu yang jauh, seolah-olah sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Entah apa yang membuatnya merasa demikian, tapi ada perasaan aneh yang semakin kuat dalam dirinya - perasaan bahwa sesuatu sedang berubah, bahkan mungkin sudah berubah sejak lama. Bukan hanya hari ini saja yang membuatnya merasa seperti itu. Bukan hanya pagi ini saja yang membuatnya merasa tidak biasa. Mungkin… semua sudah dimulai sejak lama, hanya saja ia baru saja menyadari dan berani merasakannya sekarang. Notifikasi itu muncul lagi. Kali ini, ia tidak bisa berpura-pura tidak tahu. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD