Yang Tak Terucap

1276 Words

Hari itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena suasana berubah, tapi karena ada sesuatu yang perlahan bergeser tanpa disadari. Pagi di rumah orang tua Nayara dimulai seperti biasa. Udara masih sejuk, suara aktivitas dari dapur sudah terdengar sejak subuh. Nayara terbangun lebih awal, bukan karena mual, tapi karena tidak bisa tidur lagi. Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar lamanya. Di sampingnya, Raka masih tertidur dengan wajah tenang. Nayara menghela napas pelan, lalu bangkit dari tempat tidur tanpa membangunkan Raka. Ia keluar kamar dan menemukan ibunya sibuk di dapur. “Kok sudah bangun?” tanyanya. Nayara tersenyum kecil. “Nggak bisa tidur lagi, Bu.” Ibunya mengangguk, lalu menyodorkan segelas air hangat. “Minum dulu." Beberapa menit kemudian, Nayara mulai membantu, meskipun h

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD