Hal Kecil Yang Terlewat

1081 Words
Pagi itu berjalan seperti biasa, setidaknya di awal. Nayara sudah lebih dulu bangun dan menyiapkan sarapan, kebiasaan yang hampir selalu ia lakukan, bahkan di hari libur. Dapur terasa hangat oleh aroma tumisan sederhana dan suara air mendidih. Raka keluar dari kamar dengan langkah pelan, masih terlihat sedikit mengantuk. “Pagi,” ucapnya. “Pagi,” jawab Nayara tanpa menoleh, masih sibuk mengaduk. Beberapa detik mereka hanya berada dalam keheningan yang nyaman, tidak canggung, tidak juga terlalu ramai, hanya rutinitas yang terasa akrab. Raka duduk di kursi makan, memperhatikan punggung Nayara sebentar, dan entah kenapa, sejak beberapa hari terakhir, ia sering ingin mengatakan sesuatu, tapi selalu mengurungkan niatnya. “Aku mungkin pulang agak malam hari ini,” katanya akhirnya. Nayara berhenti sejenak, lalu mengangguk kecil. “Oh,” jawabnya, hanya itu. Raka menunggu, mungkin berharap ada pertanyaan seperti biasanya, tapi Nayara kembali memasak, seolah tidak ada yang perlu dibahas. Perasaan aneh muncul di d**a Raka, bukan marah, tapi seperti diabaikan. Di kantor, Nayara sebenarnya cukup sibuk, ada laporan yang harus selesai hari itu, dan beberapa pekerjaan yang menumpuk sejak minggu lalu. Namun, di sela-sela pekerjaannya, pikirannya sempat kembali ke percakapan pagi tadi. Ia sadar jawabannya mungkin terdengar datar, tapi ia benar-benar tidak memikirkannya saat itu, baginya, itu hanya informasi biasa. Ia tidak tahu bahwa bagi Raka, respons itu terasa berbeda. Sore menjelang malam, Raka benar-benar pulang lebih larut dari biasanya. Ketika membuka pintu rumah, lampu ruang tamu sudah redup, hanya menyisakan cahaya kecil dari sudut ruangan. Nayara duduk di sofa, membaca sesuatu di ponselnya. “Kamu sudah makan?” tanya Nayara. “Sudah,” jawab Raka singkat, nada suaranya datar, tidak dingin, tapi juga tidak hangat seperti biasanya. Nayara menoleh, sedikit heran. “Kamu capek?” “Lumayan,” jawab Raka. Raka berjalan ke kamar tanpa banyak bicara, Nayara memperhatikannya sebentar, merasa ada sesuatu yang berbeda, tapi tidak tahu apa, ia mengira Raka hanya lelah. Di kamar, Raka membuka kancing lengan kemejanya pelan, pikirannya kembali ke pagi tadi, hal kecil, sebenarnya, sangat kecil, tapi entah kenapa mengganggunya. Dulu, Nayara selalu bertanya lebih banyak, selalu ingin tahu harinya seperti apa, sekarang, rasanya berbeda. “Ah, mungkin aku yang terlalu sensitif,” gumamnya pelan. Malam itu, mereka makan malam tanpa banyak percakapan, tidak ada pertengkaran, tidak ada kata-kata tajam, hanya jeda yang terasa lebih panjang dari biasanya. Nayara beberapa kali ingin membuka pembicaraan, tapi setiap kali melihat wajah Raka yang tampak lelah, ia mengurungkan niatnya, ia tidak ingin mengganggu, dan justru karena itu, jarak kecil di antara mereka terasa semakin nyata. Ketika lampu kamar sudah dimatikan, Nayara berbaring sambil menatap langit-langit yang gelap. “Ada yang kamu pikirkan?” tanyanya pelan. Raka terdiam sebentar sebelum menjawab, “Enggak,” jawaban yang singkat, terlalu singkat, Nayara tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya, tapi ia juga tidak memaksa, ia hanya mengangguk kecil, meski Raka tidak bisa melihatnya dalam gelap. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, Nayara memejamkan mata lebih dulu, meski tidurnya tidak langsung datang, di sampingnya, Raka masih terjaga, menatap ke arah yang sama sekali tidak terlihat dalam gelap. Kadang, kesalahpahaman tidak datang dari kata-kata yang salah, melainkan dari kata-kata yang tidak pernah diucapkan. Pagi berikutnya, suasana rumah terasa sedikit berbeda, meski tidak ada yang benar-benar berubah. Nayara bangun seperti biasa, lebih dulu dari Raka, ia berjalan ke dapur, menyiapkan air panas dan memotong buah tanpa banyak berpikir, gerakannya otomatis, tapi pikirannya masih teringat pada keheningan semalam, ia tidak tahu apa yang salah, tidak ada pertengkaran, tidak ada kata-kata yang menyakitkan, tapi ada sesuatu yang terasa renggang. Raka keluar dari kamar beberapa menit kemudian, wajahnya terlihat biasa saja, bahkan sempat tersenyum kecil saat melihat meja makan sudah tertata. “Pagi,” katanya. “Pagi,” jawab Nayara, percakapan itu terdengar normal, terlalu normal, sampai terasa seperti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di baliknya. Mereka sarapan tanpa banyak bicara, bukan diam yang canggung, tapi juga bukan diam yang nyaman seperti dulu, sesekali sendok beradu dengan piring, mengisi ruang yang seharusnya diisi percakapan ringan. Raka beberapa kali ingin mengatakan sesuatu, ia ingin bertanya kenapa Nayara terasa lebih jauh akhir-akhir ini, tapi setiap kali melihat wajah Nayara yang tampak tenang, ia ragu, mungkin memang tidak ada apa-apa, pikirnya. Di kantor, Nayara mencoba fokus bekerja, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal, ekspresi Raka semalam, ia mengingat kembali nada suara suaminya, jawaban singkatnya, cara ia berbaring membelakangi tanpa berkata apa-apa lagi, apa aku melakukan sesuatu yang salah, pikirnya, pertanyaan itu muncul pelan, lalu menetap, Nayara menyadari sesuatu, kadang diam yang kita pilih untuk menjaga ketenangan, justru bisa disalahartikan sebagai ketidakpedulian, ia menghela napas pelan, lalu mencoba kembali bekerja. Sore hari, Nayara pulang lebih dulu, rumah terasa sunyi seperti biasa, ia membuka jendela ruang tamu, membiarkan angin masuk, lalu duduk sebentar tanpa melakukan apa-apa, pikirannya tidak berisik, tapi juga tidak benar-benar tenang, ia mengambil ponselnya, membuka percakapan dengan Raka, lalu menatap layar kosong beberapa detik, ia ingin menulis sesuatu, apa saja, akhirnya ia mengetik, “Kamu pulang jam berapa?” beberapa menit kemudian, balasan datang, “Seperti biasa,” jawaban singkat itu membuat Nayara tersenyum tipis, bukan karena lucu, tapi karena ia sadar, mungkin beginilah perasaan Raka kemarin pagi, jawaban singkat bisa terasa lebih jauh daripada diam. Ia mengetik lagi, “Hati-hati di jalan,” kali ini balasannya datang lebih cepat, “Iya,” hanya satu kata, tapi entah kenapa, rasanya sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Malam hari, ketika Raka pulang, suasana masih sedikit kaku, tapi tidak setegang kemarin, Nayara membukakan pintu, dan untuk pertama kalinya hari itu, mereka saling menatap sedikit lebih lama, “Kamu sudah makan?” tanya Nayara, “Belum,” jawab Raka, “Aku masak,” jawaban sederhana itu membuat Raka berhenti sejenak, lalu mengangguk kecil, mereka makan bersama di meja makan, tidak banyak percakapan, tapi ada usaha kecil untuk tidak membiarkan keheningan menjadi tembok, Raka akhirnya berkata pelan, “Kemarin, aku mungkin agak pendiam,” Nayara menatapnya, sedikit terkejut karena Raka yang lebih dulu membuka pembicaraan, “Aku juga,” jawabnya jujur, beberapa detik mereka saling diam, lalu tanpa sadar tersenyum kecil, senyum yang canggung, tapi tulus. Terkadang, kesalahpahaman tidak perlu penjelasan panjang, cukup keberanian kecil untuk mulai bicara. Malam itu, ketika lampu kamar dimatikan, suasana terasa lebih ringan daripada semalam, tidak sepenuhnya kembali seperti dulu, tapi tidak lagi sejauh kemarin, Nayara memejamkan mata, merasa sedikit lebih tenang, di sampingnya, Raka juga akhirnya tertidur tanpa pikiran yang terlalu berat, dan tanpa mereka sadari, hubungan tidak selalu retak karena hal besar, kadang hanya tergeser sedikit, lalu kembali perlahan, selama keduanya masih mau saling mendekat. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD