Pagi itu dimulai seperti biasanya, atau setidaknya begitulah yang dirasakan oleh mereka. Tangisan Arka di pagi hari, Nayara yang setengah sadar menggendongnya, dan Raka yang otomatis bangun tanpa perlu dipanggil, semua terasa seperti rutinitas baru yang perlahan mereka pahami. Setelah semuanya sedikit tenang, Raka bersiap untuk berangkat kerja lagi. Ia berdiri di depan cermin, merapikan kemejanya, sementara dari belakang, Nayara duduk di tempat tidur sambil menggendong Arka yang mulai tenang. "Kamu kuat hari ini?” tanya Raka sambil menoleh. Nayara tersenyum kecil. “Harus kuat." Raka mendekat sebentar, menatap Arka, lalu menatap Nayara. "Kalau capek, bilang." "Iya." Sederhana, tapi cukup. Beberapa menit kemudian, Raka sudah di mobil. Perjalanan ke kantor terasa seperti biasa, nam

