Bertemu Cinta Pertama

1052 Words
Ucapan Andi membuat bimbang hatinya antara menolak atau menerima, dalam hatinya masih mencintai Andi karena Andi adalah cinta pertama bagi Denisa. Denisa merasa senang dengan ucapan Andi namun dia takut menerimanya karena terlalu cepat Andi memutuskan untuk kembali menjalin hubungan dengan dirinya. Ada rasa bimbang dan ragu, mungkin Denisa membutuhkan waktu untuk menanggapi keinginan Andi. "Apa aku boleh memiliki kekasih, tapi aku gak mau pacaran aku ingin menjalin hubungan yang serius" gumam Denisa sembari bersantai di kamarnya. Ibu Denisa masuk ke kamar membawa beberapa pakaian Denisa yang sudah bersih. "Anak ibu, pagi pagi kok sudah melamun" tanya ibu. Denis tersenyum ke arah ibunya, "Denisa lagi galau bu". Meskipun Denisa bukan anak kandung dari ibu Sarah, tapi Denisa sangat dekat dengan ibunya dan selalu bercerita segala hal kepada beliau. "Galau, galau sudah punya pacar kamu nak?" selidik ibu. "Sebenarnya dulu Denisa pernah pacaran sama seseorang tapi sudah berakhir, beberapa hari lalu Denisa bertemu dengan lelaki itu dan mengajak Denisa buat balikan sama dia bu" Denisa memasang muka yang bingung. "Kamu masih suka sama dia?" tanya ibu duduk disebelah Denisa. "Aku takut sama bapak bu kalau aku mau pacaran, aku kepingin menjalani hubungan yang serius. Teman teman Denisa sudah banyak yang menikah jadi kalau buat pacaran mungkin sudah bukan waktunya bu" jelas Denisa. "Ibu mendukung keinginan kamu, tapi sekarang apa dia mau kamu ajak serius. Mencari pendamping hidup itu harus dipertimbangkan baik baik nak, karena satu untuk selamanya" nasihat ibu. "Memang sih bu, tapi aku sudah mengenalnya begitu lama dan aku sudah tau sifat dan keburukannya bu" bela Denisa. "Ya sudah, kalau kamu sudah benar benar mau dengan dia. Tapi ibu berpesan kamu harus bisa jaga diri dan kalau bisa ajak dia ke rumah agar ibu dan bapak tau siapa calon pendamping hidupmu, karena ibu dan bapak bisa lebih baik dalam menilai seseorang" tegas ibu. "Iya ibu, nanti aku pasti akan mengajak dia ke rumah" tegas Denisa. Denisa selalu menceritakan masalahnya kepada ibunya, mulai dari masalah pekerjaan hingga masalah pribadi seperti percintaan. Bagi Denisa, ibu Sarah sudah dianggap ibunya sendiri sekaligus teman curhat yang sangat menyenangkan. Namun Denisa tidak terlalu dekat dengan ayahnya meskipun beliau adalah ayah kandungnya. Bagi Denisa, ayahnya terlalu menuntut dia agar menjadi orang yang sukses dan tidak pernah mau berkompromi. Mungkin karena Denisa adalah anak tunggal dalam rumah tersebut, ibu Sarah tidak dapat memiliki keturunan. Sebenarnya ibu Sarah pernah hamil dengan suami terdahulu, namun karena mengalami keguguran. Ibu Sarah tidak dapat mengandung lagi. Denisa selalu menjadi prioritas kedua orangtuanya, meskipun bukan ibu kandung ibu Sarah sangat menyayangi Denisa. ********* Kringg,... suara telepon Denisa berbunyi. Satu panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal, entah dari siapa?. Kemudian diangkat oleh Denisa. "Halo, ini siapa?" tanya Denisa. "Aku Andi, ini nomer aku" jawab Andi. "Oh kamu Ndi, ada apa ya? Kok tumben telepon aku?" tanya Denisa malu malu. "Kangen kamu boleh gak?" goda Andi. "Apa yang bisa di kangenin dari aku?" jawab Denisa. "Ya semuanya, jadi karena itu kamu mau gak keluar jalan jalan sama aku?" Andi mengajak keluar Denisa. "Mau kemana kamu?" selidik Denisa. "Ya nongkrong ke mall, apa jalan jalan cari makan kan bisa, kamu mau gak?" tanya Andi. "Tapi kamu jemput ke rumah ya, minta izin ke ayah sama ibu aku" pinta Denisa. "Siap, ngelamar kamu sekarang juga siap" canda Andi. "Apaan, gombal kamu" ledek Denisa. "Beneran Denisa cantik, kalau kamu mau aku nikahi pasti aku bakal ngelamar kamu duluan" jelas Andi. "Yeeeah, semua orang juga gitu kalau mau dinikahin harus dilamar dulu" jawab Denisa. "Iya sudah nanti siang aku jemput, jangan lupa dandan yang cantik biar aku tambah suka sama kamu" ujar Andi. "Terserah aku dong, mau dandan apa gak?" sewot Denisa. "Ehm, gak usah judes gitu nanti tambah manis lo" goda Andi. "Kamu ya dari dulu gombalin aku terus" jawab Denisa. "Ya sudah kamu siap siap, nanti aku kerumah kamu" suruh Andi. "Oke" jawab Denisa di akhir pembicaraan mereka. Denisa mandi dan bersiap untuk keluar dengan Andi. Ibu yang sibuk dengan pekerjaan rumah memperhatikan Denisa yang sudah cantik. "Mau kemana, Sa! kok tumben hari minggu cantik kayak gini, biasanya cuma tiduran aja seharian?" tanya Ibunya. "Mau keluar bu" jawab Denisa. "Sama siapa?" selidik ibu. "Temen bu" Denisa tersenyum. "Temen yang mana? yang habis di curhatin sama ibu ya?" goda ibu. "Iya bu, ini Denisa lagi nunggu dijemput biar sekalian minta izin ke ibu sama ayah" jelas Denisa. "Ya sudah ditunggu dulu, sekalian kamu makan dari tadi pagi kamu kayaknya belum makan" suruh ibu. "Nanti saja bu, lagian Denisa mau makan di luar sama Andi" cela Denisa. "Kalau gak makan gak boleh keluar" ibu memeringati Denisa. "Ya ibuku yang cantik, Denisa makan tapi dikit saja ya kan bentar lagi makan lagi" ujar Denisa berjalan ke meja makan. Denisa segera melaksanakan perintah ibunya untuk makan, meskipun agak kesal Denisa selalu menuruti kata ibunya. Tak lama kemudian Andi sampai di depan rumah Denisa. "Siang, Assalamu'alaikum" salam Andi sambil mengetuk pintu. "Wa'alaikum salam" jawab ibu sembari membukakan pintu. "Denisanya ada bu" tanya Andi pada ibu. "Denisanya masih makan, kamu temannya ya. Silahkan masuk dulu sekalian nunggu Denisa makan" ibu mempersilahkan Andi masuk dan menunggu di ruang tamu. Ayah pulang dari ladang, dan masuk ke rumah. "Ow, ada tamu.. temannya Denisa ya kamu" tanya ayah pada Andi. "Iya pak" Andi berdiri menyalami ayah Denisa. "Kamu tunggu dulu saya masuk mau bersih bersih badan dulu" pamit ayah. Andi hanya menganggukan kepalanya. Denisa menghampiri Andi ke ruang tamu, "Maaf ya aku baru selesai makan, kamu nunggu lama ya?" tanya Denisa. "Enggak kok aku barusan sampai" ujar Andi. "Ya sudah, ayo berangkat" ajak Denisa. "Ayo, tapi pamit ke orangtua kamu dulu ya" pinta Andi. "Bu, aku sama Andi mau keluar" teriak Denisa pada ibunya. Ibunya keluar menemui Andi dan Denisa. "Kok terburu buru gak nunggu bapak dulu, pamit ke bapak" suruh ibunya. "Nanti keburu sore bu, nanti Denisa gak pulang malam kok" ujar Denisa. "Ya sudah hati hati di jalan, sebelum magrib harus sudah pulang ya nak Andi" pinta ibu. "Iya bu saya ajak Denisa keluar dulu ya bu, Assalamu'alaikum" Andi menyalami tangan ibu Denisa. "Wa'alaikum salam, hati hati ingat kata ibu tadi ya" ibu mencoba mengingatkan. Denisa memberi kode setuju pada ibunya, dan bergegas menaiki sepeda motor milik Andi. Bergoncengan dengan Andi membuat hati Denisa menjadi tidak karuan bahagia, gugup dan sedikit rasa nyaman yang timbul di dalam hati. Mungkinkah ada cinta di antara mereka..... bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD