"Selamat bekerja, Tuan. Hati-hati di jalan yang di hati jangan jalan-jalan," ucap Bee melambaikan tangannya saat Bastian masuk ke dalam mobil.
Lelaki itu tak peduli dengan ucapan istrinya. Dia duduk dengan tenang. Julio menjalankan mobilnya meninggalkan vila mewah tersebut.
Bee menghela nafas panjang. Gadis itu menghela nafas panjang saat suaminya sudah berangkat bekerja dan dia bisa bebas dari tatapan tajam Bastian.
"Huh, seandainya aku tidak menikah, aku pasti sudah masuk kuliah," ucap Bee menghembuskan nafasnya kasar.
Bee berjalan masuk ke dalam vila mewah tersebut. Tampak para pelayan berbaris rapi serta membungkuk hormat.
"Apa Anda ingin sarapan, Nona? Biar kami siapkan?" tanya kepala pelayan.
"Tidak perlu, Bik. Aku belum lapar," jawabnya tersenyum.
Gadis itu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia menelisik kamar sang suami. Kamar ini akan menjadi kisah perjalanan cinta dan rumah tangganya. Entah bagaimana nanti akhir dari pernikahan tanpa cinta ini? Apakah akan berakhir bahagia atau meninggalkan luka?
"Daddy, Mommy. Kalian benar-benar tak peduli padaku. Bahkan saat aku hilang, kalian tak berusaha mencariku," ucapnya tersenyum getir.
Bee berjalan kearah balkon kamar yang di suguhkan langsung dengan permandangan hutan dengan pohon-pohon besar di sekitarnya.
.
.
"Julio, persiapkan semua kebutuhan istriku," titah Bastian.
"Baik, Tuan," sahut Julio mengangguk.
Bastian kembali melamun. Ingatannya kembali pada luka di masa lalu. Kenangan kejadian pahit telah membawa dendam sangat dalam di hatinya.
"Gadis bodoh, kau telah masuk ke dalam perangkapku. Perlahan, kau akan merasakan sakit seperti luka yang ada di dadaku," gumamnya membayangkan wajah Bee.
Sampai di gedung pencakar langit, Julio turun duluan membuka pintu untuk lelaki tampan dengan sejuta pesona tersebut.
Bastian berjalan dengan langkah lebar dan angkuh, kedua tangannya sengaja dia masukan ke dalam saku celana.
"Selamat pagi, Tuan," sapa para karyawan yang berbaris rapi menyambut lelaki itu.
Bastian sama sekali tak merespon. Dia terus melangkah dengan tatapan tajam dan wajah yang dingin.
Julio membuka pintu ruangan serta mempersilakan lelaki itu masuk ke dalam sana.
"Persiapkan semuanya, Julio," titah Bastian sambil duduk.
"Baik, Tuan Muda."
Bastian menghela nafas panjang. Wajahnya selalu datar tak berekspresi dan entah apa yang di pikirkan oleh pria tersebut.
Pria itu menatap kosong kearah jendela ruangan yang menampilkan kepadatan kota Jakarta. Padahal masih pagi tetapi dia mengawalinya dengan lamunan.
"Bagaimana?" tangannya saat Julio sudah masuk kembali ke dalam ruangan.
"Dugaan kita benar, Tuan. Tuan Jansen dan Nyonya Elena sama sekali tidak mencari keberadaan Nona Muda," jelas Julio.
"Apa mereka tahu jika anaknya bersamaku?" tanya Bastian lagi.
"Tidak, Tuan. Mereka belum mengetahui keberadaan Nona. Tetapi mereka juga tidak mencari karena sibuk dengan pekerjaan," sahut Julio lagi seraya mengotak-atik layar iPad-nya.
Sudut bibir Bastian tertarik, ternyata istrinya sama saja seperti anak terbuang yang keberadaannya tak di anggap ada. Hal tersebut membuat Bastian semakin bersemangat untuk menciptakan neraka bagi Bee.
"Awasi pergerakan mereka!" perintahnya.
"Baik, Tuan." Julio membungkuk hormat.
"Julio," panggilnya sekali lagi.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Julio dengan sopan.
"Daftarkan istriku ke universitas terbaik. Urus semua keperluan kuliahnya!" perintah Bastian sambil membuka laptop di atas mejanya.
"Keperluan kuliah Nona?" tanya Julio sekali lagi untuk memastikan.
"Kurasa pendengaranmu masih baik." Bastian menatap asistennya tersebut dengan tajam.
Julio langsung kikuk dan hanya mengangguk. Tuan-nya ini memang singa yang harus di waspadai karena bisa menerkam kapan saja.
"Kalau begitu saja permisi, Tuan," pamit Julio. Tanpa menunggu Bastian menjawab dia melenggang keluar dari ruangan tuan-nya.
.
.
Bee mulai menerima takdir hidup yang telah di gariskan untuknya. Gadis cantik berambut sebahu itu telah memasrahkan kehendaknya pada Sang Pencipta.
"Bosan juga tinggal di vila ini," keluhnya sambil mengurut-ngurut tengkuknya.
"Suamiku benar-benar kaya, tampan. Tapi sayang kejam," celetuk Bee.
"Dia menikahiku karena balas dendam dan pernikahan ini hanya di atas kertas. Setelah satu tahun kemudian kami akan berpisah. Eh, berarti aku jadi janda muda," ujarnya bergidik ngeri membayangkan dirinya menjadi janda muda.
"Apa setelah ini masih ada lelaki yang mau menikahiku?" gumamnya dengan bibir menggerecut
Bee berdiri dari duduknya, seharian dia hanya mondar-mandir di vila mewah tersebut. Tidak ada yang bisa dia kerjakan. Dia hanya sibuk jika suaminya sudah datang karena lelaki itu pasti akan meminta di layani.
Sejenak gadis itu bergidik ngeri melihat foto Bastian yang terpampang di dinding kamar mereka.
"Bagaimana jika dia meminta aku melayaninya?" Bee sudah membayangkan hal-hal yang vulgar di kepalanya.
"Aku tak bisa bayangkan bagaimana buasnya dia di atas ranjang." Gadis itu menggeleng mencoba menepis pikiran jorok.
"Ck, apa yang kau pikirkan, Bee? Dia sudah berjanji tidak akan menyentuhmu," ucap Bee yang masih ingat surat perjanjian mereka.
"Tapi bagaimana kalau dia lupa dengan point-point perjanjian itu?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
Gadis itu duduk lagi di sofa kamar mereka. Kadang berdiri dan kadang duduk lalu mencomot cemilan yang di buat oleh para pelayan.
"Aku jalan-jalan mengelilingi vila saja," ucapnya.
Bee keluar dari kamar. Dirinya merenggut kesal, kemanapun pergi selalu di ikuti oleh para pelayan. Dia dijaga seperti ratu saja, mungkin sang suami berpikir takut dia kabur. Padahal mau kabur di mana? Vila ini terletak jauh dari kota, kalaupun kabur dia harus menyusuri hutan-hutan belantara.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona Muda?" tanya kepala pelayan.
"Suamiku pulang jam berapa?" tanya Bee sambil jalan-jalan dan di ikuti oleh beberapa pelayan wanita di belakangnya.
"Waktu petang, Nona," jawab sang pelayan.
Bee terhenti sejenak lalu meletakkan jari di ujung pelipisnya seolah sedang berpikir keras.
"Bagaimana kalau aku masak saja untuknya? Dia pasti lapar," ucapnya dengan senyum sumringah merasa idenya bagus.
"Bik, aku ingin memasak untuk suamiku," ucap Bee.
"Hem, Nona." Bik Liam menahan tangan Bee.
"Kenapa, Bik?" kening gadis itu mengerut heran.
"Sebaiknya jangan, Nona. Tadi Tuan sudah berpesan supaya Nona istirahat saja," ucap Bik Liam menyampaikan pesan Bastian.
Gadis itu terlihat bingung. Bukankah suaminya yang meminta dirinya seperti b***k dan pelayan? Kenapa sekarang malah memintanya istirahat?
"Masa sih, Bik?" ujar Bee tak percaya. "Apa suamiku amnesia?" tanya gadis itu dengan wajah penasarannya.
Bik Liam dan pelayan lainnya terkekeh, jika saja Bastian mendengar tudingan istrinya itu pastilah dia akan mengamuk.
"Mungkin ini bentuk perhatian Tuan pada Anda, Nona," jawab Bik Liam asal.
Bee tersenyum kecut, jika saja memang seperti yang di katakan oleh Bik Liam mungkin dia akan menjadi wanita paling bahagia. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu, bahkan pernikahan mereka terjadi atas balas dendam Bastian pada kedua orang tua Bee. Namun, gadis itu yang tak tahu apa-apa malah menjadi sasaran.
"Hem, baiklah. Kalau begitu aku mandi saja yang bersih. Lalu berdandan cantik untuk menyambut suamiku."