[19] About Delwish

1298 Words
Setelah Alice mengetahui kejanggalan pada Delwish, Delwish terpaksa menceritakan semuanya pada Alice dan Faxel, tentunya sudah dengan izin Bangcox. Delwish sudah sering meminta diberi suntikan pengembali ingatannya, tapi Bangcox tidak juga menuruti keinginannya, hingga Delwish lelah memintanya, akhirnya ia memilih bungkam dan berharap agar ingatannya kembali. Kini, rahasia yang sudah dijaga Delwish selama hampir dua tahun, sudah bocor dan ia ceritakan pada dua orang terdekatnya, ia berharap tidak lagi ada yang mengetahuinya. "Del," panggil Faxel. Delwish menolehkan kepalanya tanpa berbalik badan. Ia menautkan alisnya, pertanda bahwa ia merespon atas panggilan dari Faxel tadi. "Aku ingin memberitahumu tentang rahasiaku juga." Faxel tersenyum. Faxel mengajak Delwish menuju tempat asalnya, The Creed. Tidak ada satu orang pun yang tau mengenai Faxel. Faxel merasa, Delwish juga harus mengetahui tentang siapa dirinya dan dari mana asalnya. Selama ini, Faxel dikenal sebagai seorang gadis yatim piatu dari sebuah tempat panti asuhan di kota Erlen. Kota kecil yang tidak terlalu dipedulikan dan hanya di huni oleh beberapa orang di sana. Delwish melihat Faxel dengan tatapan penuh pertanyaan. Ia masih tidak mengerti, mengapa dia harus ada di The Creed dan mengapa Faxel bercerita tentang dirinya. The Creed adalah sebuah tempat rahasia yang sangat besar, dengan berada di The Creed, orang yang dinyatakan tewas dapat hidup dengan bebas di sana. "Aku tau, kau pasti bingung bukan?" tanya Faxel. Delwish berjalan tanpa menggubris pertanyaan dari Faxel. Ia menyusuri setiap lorong yang ada di The Creed, bahkan Delwish sama sekali tidak pernah berpikir bahwa ada tempat seperti ini di Valhalla. "Aku akan menceritakannya, sebagai bentuk terima kasih karena kau sudah jujur padaku, Del." Delwish berbalik badan dan memeluk Faxel dengan erat, "Terima kasih." "Untuk apa?" Faxel mengerjapkan matanya berulang kali karena terkejut dengan respon yang diberikan oleh Delwish. "Karena sudah mempercayaiku sebagai teman berbagi ceritamu. Kita sudah mengenal selama setahun lebih dan baru kali ini kita terbuka satu sama lain," ujar Delwish. Delwish melepaskan pelukannya pada Faxel dan tersenyum penuh arti. "Faxel?" sahut Alfarl dari belakang Delwish. Delwish membalikan badannya melihat siapa yang baru saja berbicara di belakangnya. "Siapa kau?" tanya Alfarl dengan tatapan tajamnya. Afarl berjalan menghampiri Delwish dan Faxel yang kaku di sana, tanpa bergeming sedikit pun. Faxel belum menceritakan bahkan memberitahu bahwa ia akan mengajak seseorang ke The Creed. Jika Irebae tau, mungkin ia akan dimarahi habis-habisan. Tapi Faxel memang tidak pernah berpikir panjang, dia bisa bertindak sesukanya dan akan bagaimana nanti tentang dampak yang ditimbulkan atas sikap sembarangnya itu. "Aku Delwish," jawab Delwish. "Kenapa kau mengajak orang asing kemari, Xel?" kini Alfarl menatap tajam ke arah Faxel. "Aku sudah mempercayai Delwish, jadi dia bukanlah orang asing bagiku. Aku sudah mengenalnya selama satu tahun lebih dan dia bukan sembarang orang yang akan buka mulut pada sebuah rahasia," jelas Faxel. "Baiklah. Apa yang kau lakukan disini?" "Aku membutuhkan bantuanmu," jawab Delwish. Delwish memberitahu Alfarl mengenai kasus kematian yang terjadi pada Fukas, Nazla dan Cogav. Ia juga menunjukan foto-foto tentang pola pada pergelangan tangan Nazla dan Fukas. Delwish memberikan secarik kertas kosong berwarna kuning pada Cogav. Lalu Alfarl mengajak mereka menuju ruang kerjanya dan mengeluarkan mesin yang memancarkan sinar berwarna ungu, sinar UV. "Apa yang kau lakukan?" tanya Delwish. "Kau seorang MIF bukan? Seharusnya kau lebih pintar dariku jika melihat kertas kosong seperti ini." Alfarl menyalakan kertas itu tepat dibawah cahaya ungu. Terlihat sebuah garis berwarna kehijauan yang memiliki pola tidak beraturan, mirip dengan pola pada Nazla dan Fukas. "Lihatlah kemari." "Itu hanya sebuah lingkaran kecil tidak jelas seperti yang lainnya," ujar Faxel. "Boleh aku pinjam data mengenai pola pada lengan Fukas dan Nazla?" Delwish memberikan skermnya lalu menyalakan alat itu, menampilkan data bentuk pola pada  pergelangan tangan Nazla dan Fukas. Alfarl berjalan menghampiri dinding dan mencoba memperkecil ukuran gambar dengan menyentuh foto yang tampil di dinding itu, lalu mencocokan dengan pola yang terdapat pada kertas kuning itu. Alfarl menebalkan bentuk pola pada kertas kuning itu dengan menggunakan pensil agar ia mudah melihat bentuk dari pola pada kertas yang terlihat kosong itu. "Ini tidak cocok," ujar Alfarl. Alfarl mencoba pada pola Nazla, lalu dengan pola Fukas dan kemudian menghubungkan ketiga pola itu. Namun hanya ada satu yang cocok dengan pola itu. "Maksudmu?" Delwish berjalan menghampiri Alfarl dan melihat apa yang dilakukan oleh Alfarl. "Kau lihat? Pola ini membentuk garis yang seakan terhubung, jika aku menyatukan pola pada kertas dengan pola pada tangan gambar pertama, ini cocok. Sedangkan pada gambar ke dua, menyatukan antara gambar satu dan dua, lalu menyatukan ketiga gambar ini, tidak cocok," jelas Alfarl. Delwish sengaja tidak memberitahu mengenai nama masing-masing korban pembunuhan. Ia hanya membutuhkan sebuah cara untuk menindak lanjuti pola itu, bukan dengan meminta bantuan sebagai tim pelacak khusus di belakang layar. "Jadi maksudmu, pola kertas kuning hanya cocok dengan gambar ke satu?" tanya Faxel. "Kau benar. Kemungkinan besar, pembunuh pada gambar pertama dengan di kertas kuning ini, adalah orang yang sama. Sedangkan, orang yang membunuh di gambar ke dua, adalah orang yang berbeda," jelas Alfarl. Gambar pertama yang dimaksud oleh Alfarl, adalah lengan Nazla, sedangkan gambar ke dua adalah lengan Fukas. Jadi, pembunuh Fukas dengan Nazla dan Cogav, adalah orang yang berbeda. Delwish dan Faxel kembali menuju Markant dengan hasil mengenai pola itu. Delwish juga meminta Bangcox untuk mengumpulkan seluruh anggota MIF yang terlibat dalam kepengurusan kasus pembunuhan pada Cogav, Nazla dan juga Fukas. Delwish masuk ke ruang rapat dengan sedikit terburu-buru. Ia ingin cepat-cepat memberitahukan fakta terbaru mengenai pola itu. Selama ini, orang lain hanya berpikir bahwa itu hanyalah pola tidak jelas yang dibentuk oleh sang pembunuh. Namun jika dihubungkan satu sama lain, pola ini terlihat seperti sebuah gambar. Setelah rapat dimulai, Delwish segera menunjukan foto pola itu lalu menjelaskannya secara rinci. Wajah Bangcox berubah menjadi serius dan ia memperhatikan pendapat yang diberikan oleh Delwish. "Jadi, apa kesimpulannya?" tanya Bangcox. "Pembunuh Nazla dan Cogav adalah orang yang sama, sedangkan pembunuh Fukas adalah orang yang berbeda," jawab Delwish. Jjmxn mengangkat tangannya untuk menanggapi pendapat Delwish. "Kertas yang digunakan pada kematian Cogav sama dengan kertas yang digunakan pada pencurian Piper." Shnz menyalakan skerm-nya dan menunjukan foto kertas yang berisikan tulisan di dalamnya. "Kau benar," ujar Bangcox. "Jika pembunuh Fukas, bukan dari ketiga kasus sebelumnya, maka kita harus menyidiki Fukas terlebih dahulu. Aku rasa, orang ini hanya menipu pola, agar ia tidak terlihat seperti pembunuhnya dan membuat pembunuh berantai yang bersangkutan sebagai tersangka," lanjut Bangcox. Kasus kematian Cogav dan Nazla memang sudah tersebar luas, bahkan Moord dijuluki sebagai pembunuh pola saat berita itu dimuat oleh Galaxy Entertainment. Jadi, wajar saja jika pembunuh Fukas menggunakan trik pola agar dirinya terlihat tidak bersalah. Ia juga menusuk bagian d**a kiri Fukas, seperti pembunuhan Nazla. "Je, apa kau sudah mengumpulkan data yang aku minta?" tanya Bangcox. Jjmxn menganggukan kepalanya lalu mengeluarkan beberapa kertas yang terdapat data-data yang telah diminta oleh Bangcox. "Jika dilihat dari kesehariannya, Fukas adalah orang yang tertutup, dia tidak terlalu dekat dengan kebanyakan orang. Ia pernah menikah dengan King'sx dan dikaruniai anak perempuan bernama Jekurl. Ia tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun. Itu adalah data terakhir delapan belas yang lalu. Hingga detik ini, dirinya tidak pernah memperbaharui data, entah tentang pernikahan atau apapun itu." Jjmxn menjelaskan secara detail mengenai informasi yang ia dapatkan. Faxel mengangkat tangannya, "Fukas pernah berpisah dari suaminya karena King'sx memiliki anak bernama Nazla dan Ipang." "Dari mana kau tau itu?" tanya Jjmxn. "Aku dan Delwish berada di asrama yang sama saat di Midgard, mungkin saja ada hubungannya dengan Fukas." "Okep, cari tau tentang orang tua Nazla dan Ipang dan juga cari tau apa yang terjadi selama delapan belas tahun terakhir. Apakah ada kemungkinan ia menikah lagi atau ia bertengkar dengan selingkuhan suaminya. Tolong carikan untukku," titah Bangcox. Okep menganggukan kepalanya mengerti. "Baiklah, aku cukupkan rapat hari ini. Terima kasih atas ide Delwish dan juga data dari Jjmxn dan Faxel. Semoga masalah ini cepat selesai dan tidak berlama-lama seperti si misterius Moord," ujar Bangcox. Para anggota MIF keluar dari ruang rapat. Namun tidak dengan Delwish dan Bangcox. Bangcox meminta Delwish untuk keluar terakhir, karena ia ingin menanyakan sesuatu pada Delwish. Delwish berjalan menghampiri Bangcox, "Ada apa, Ayah?" tanya Delwish. "Bagaimana kau bisa tau mengenai pola itu?" "Hanya terpikirkan saja," jawab Delwish lalu tersenyum. Bangcox mengusap rambut Delwish dengan lembut dan tersenyum, "Kau pintar, tidak salah kau masuk ke MIF, Del."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD