[9] New Family

1470 Words
Infirmary 08.45 AM Bangcox masuk ke dalam sebuah ruangan yang penuh akan monitor dan ia tidak tau apa yang di tampilkan oleh monitor itu. Bangcox mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah papan nama pada meja itu yang bertuliskan Karth. "Silahkan duduk," ujar pria dengan jas panjang selutut berwarna putih. Bangcox menarik kursi di hadapannya dan mendudukan dirinya di sana, "Jadi, bagaimana kondisi Delwish?" Karth menyentuh layar monitor yang ada di mejanya dan tampak mencari sebuah folder informasi mengenai perkembangan Delwish dan penjelasan mengenai keadaannya saat ini. "Delwish mengalami amnesia ringan. Shock yang ia alami saat kecelakaan, membuat kejiwaannya sedikit terganggu dan berdampak pada ingatan otaknya. Mungkin hanya sementara, namun saya tidak tau kapan pastinya, ingatan itu akan kembali," jelas Karth. "Hanya itu?" Karth menganggukan kepalanya. "Boleh aku meminta satu hal?" tanya Bangcox. "Silahkan." "Tolong katakan pada Delwish bahwa aku adalah Ayahnya. Aku tidak ingin Delwish kembali shock karena kenyataan pahit yang ia terima. Ia baru saja sadar dari tidur panjangnya. Aku mohon." "Baiklah." Delwish hari ini dipulangkan dari Infirmary. Bangcox segera mengurus hak anak atas Delwish ke kantor kepengerusan data penduduk yang ada di Skyrothgar. Bangcox beruntung, karena Delwish langsung percaya dan mengiyakan bahwa Bangcox adalah Ayahnya. Bangcox tidak akan menceritakan apapun mengenai Sagey dan Paler, ia takut jika Delwish akan semakin shock dan tidak menerima kenyataan takdir yang ia alami saat ini. Bangcox House 11.30 AM "Sudah sampai," ujar Bangcox. Delwish memperhatikan tampak luar rumah itu yang terlihat sangat asing di matanya. Ia membuka pintu mobil dan menurunkan kaki kirinya perlahan sebelum menyentuh tanah, lalu ia berjalan mendekati pintu rumah itu. Bangcox turun dari mobil dan mengeluarkan beberapa barang bawaan milik Delwish. Sebelumnya, ia sudah menyediakan kamar untuk Delwish yang terletak di lantai dua. "Ayo, kita bertemu dengan Ibumu," ajak Bangcox. Bangcox membuka pintu rumahnya yang berwarna putih dan memperlihatkan isi dari dalam rumah itu. "Kamarmu ada di lantai dua, Del. Ayah harus kembali ke Markant untuk menyelsaikan beberapa pekerjaan," ujar Bangcox. Delwish tersenyum simpul dan mengambil barang bawaan miliknya yang sedari tadi dibawakan oleh Bangcox. "Hati-hati, Yah," jawab Delwish. "Jika ada yang kau butuhkan, katakan pada Ayah, oke?" Bangcox meninggalkan Delwish sendirian di rumah itu. Ia tidak perlu khawatir dengan pembunuh yang akan mengincar nyawa Delwish, karena rumahnya dilengkapi oleh CCTV multifungsi yang dapat meluncurkan peluru tepat pada sasarannya. CCTV itu terletak di setiap sudut rumahnya dengan rasio vision yang hampir 180°. Yechi sedang tidak ada di rumah karena Bangcox meminta Yechi untuk mengisi beberapa mata pelajaran baru yang ada di Midgard. Bisa dibilang, Yechi adalah seorang guru di Midgard. Mobil berwarna biru muda itu meninggalkan pekarangan rumah dan berjalan menuju Markant dengan kecepatan standar. Ia sudah menjadwalkan rapat untuk membahas Delwish beserta keluarganya dan langkah ke depan untuk menangkap pembunuh yang sudah menewaskan Sagey dan Paler. Inrichter Bangcox berdering, tertera nama Yechi pada layar itu. Bangcox menekan tombol jawab yang disambungkan pada mesin kemudi yang ada di mobil itu. Inrichter memang di desain bisa disambungkan pada mobil, agar sang pengemudi tidak merasa kerepotan saat akan menjawab panggilan suara atau video. Inrichter akan langsung tersambung pada mobil saat inrichter berada dalam mobil itu, dan suara panggilan telefon akan keluar melalui speaker yang ada pada mobil, sedangkan untuk panggilan video, akan ditampilkan di sebelah kiri pengemudi, tepatnya di atas box pendingin udara. "Ya, ada apa?" ujar Bangcox. "Apa Delwish sudah berada di rumah? Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Yechi. "Dia baik-baik saja. Dia sedang di rumah sendirian. Jika kau sudah selesai dengan urusanmu, tolong temani dia, anggap saja seperti anakmu sendiri, Chi," jawab Bangcox. Pandangan mata Bangcox tidak bergeming dari jalan raya, hanya mulutnya saja yang berbicara untuk menyahut pertanyaan dari Yechi. "Aku akan pulang sore, hari ini. Baiklah jika itu maumu, aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri." suara Yechi terdengar tidak bersemangat saat mengucapkan kalimat anak itu. "Chi, dengarkan aku." "Hm?" sahut Yechi. "Terkadang kesedihan memerlukan kesendirian, meskipun seringkali kesendirian mengundang kesedihan yang tak tertahankan," ujar Bangcox. "Kau mengerti maksudku?" sambungnya. "Kau memintaku untuk tidak bersedih bukan?" tanya Yechi. "Kau benar. Saat ini Delwish ada sebagai anak kita. Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu, kita pasti akan memiliki anak secepatnya, dan jangan pernah berpikir untuk memiliki bayi tabung atau semacamnya. Seberapa keras pun kau memaksaku, aku tidak akan menyetujuinya." Yechi bukan tidak bisa memiliki anak atau semacamnya. Kesempatan ke dua belum datang pada Yechi dan Bangcox. Dua tahun yang lalu, Yechi pernah mengandung, dan saat usia kandungannya lima bulan, Yechi keguguran karena kelelahan. Bangcox merasa penyesalan yang sangat mendalam, ia terus menyalahkan dirinya karena Yechi yang keguguran akibat menemaninya datang ke pesta pernikahan Grey. Ia bahkan tidak tau sama sekali bahwa kandungan Yechi lemah, dan menganggap semuanya baik-baik saja. Selama tiga bulan, Yechi mengurung dirinya di kamar dan tidak mau bertemu dengan orang lain selain Bangcox. Dokter mengatakan, kemungkinan Yechi untuk hamil sangat kecil. Itu yang membuat diri Yechi menyalahkan dirinya yang mudah lelah. Bangcox berusaha menghiburnya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja, bahkan dengan tanpa keturunan sekalipun, Bangcox akan merasa cukup karena ada Yechi disisinya. "Baiklah, aku mengerti. Aku harus kembali ke dalam kelas. Jangan lupa dengan makan siangmu, Cox," jawab Yechi. "Kau juga." Yechi memutus sambungan panggilan suara. Markant 01.00 PM Bangcox menepikan mobilnya pada sebuah parc, lalu turun dan masuk ke dalam gedung Markant. "Hei, Cox!" teriak Jjmxn yang baru saja keluar dari dalam lift. Jjmxn berlari menghampiri Bangcox dan menepuk bahunya. "Apa semuanya sudah berada di ruang rapat?" tanya Bangcox. "Sudah siap, hanya tinggal menunggu kau saja untuk membahas rapat hari ini." Bangcox berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Jjmxn yang berada di belakangnya. Mereka berjalan menuju ruang rapat yang masih terletak di lantai satu. Bangcox berdiri di depan pintu rapat, dan menempelkan jari telunjuk pada rivane, lalu pintu itu terbuka secara otomatis saat mengenali siapa yang baru saja akan masuk ke dalam ruang rapat. Bangcox masuk ke dalam ruang rapat dan terlihat meja berbentuk bundar yang sudah penuh diisi oleh para anggota Matildas Intelegencie Familia. Ruang rapat yang tadinya ramai dan rusuh, kini seketika hening setelah menyadari bahwa Bangcox berdiri pada mimbar dan menyalakan skerm untuk memperlihatkan slide presentasi yang akan menjadi pembahasan pada rapat hari ini. "Baiklah, aku akan membahas kembali mengenai kasus Paler dan Sagey." Bangcox memulai rapatnya. "Pada pergelangan tangan kanan mereka, terlihat sebuah gambar seperti double lingkaran yang tampak tidak beraturan. Hingga detik ini, kita belum dapat menyelesaikan mengenai maksud dari gambar yang ditinggalkan oleh Moord," jelas Bangcox. Para peserta rapat tampak kebingungan dengan nama yang baru saja disebutkan oleh Bangcox. "Ah, aku lupa. Moord adalah nama pembunuh misterius yang diberikan oleh Sagey dan Paler untuk menamai pembunuh misterius pada kasus Cogav. Kita belum dapat menyimpulkan apakah itu pembunuhan atau sebuah kecelakaan, namun dari yang aku simpulkan bersama dengan Sagey dan Paler, kasus pada Cogav adalah pembunuhan." Bangcox menjelaskan kembali mengenai kasus kecelakaan yang menyebabkan Cogav meninggal dan berusaha mengaitkan kasus kematian Cogav dengan Sagey dan Paler. Jika dilihat lebih detail, motif dari pembunuhan sangat berbeda, namun pesan yang ditinggalkan oleh Moord, sama. Bangcox membuka slide berikutnya dan tampak foto sebuah kertas yang menyatakan kasus penculikan Piper serta kertas berwarna kuning polos yang digenggam oleh Cogav saat kematiannya. "Aku masih belum memastikan hal ini, namun jika dilihat dari garis, bentuk dan warna dari kertas ini, mungkin Moord dan pencuri Piper adalah orang yang sama." Bangcox kembali membuka slide berikutnya dan memperlihatkan luka-luka yang ada pada korban Moord. "Lalu, pada pembunuhan Cogav, Moord menyisakan luka kecil seperti goresan pada dahinya, dan Sagey dan Paler mendapat luka tusukan pada perutnya. Tidak ada luka lain selain itu. Moord seperti berusaha mempersempit bukti luka pada tubuh korban," jelas Bangcox. Jjmxn membuka inrichternya dan melihat beberapa dokumen foto mengenai Cogav, Paler dan Sagey. Ia membenarkan jika luka-luka yang ditimbulkan oleh Moord sangat minim. "Cox." Shnz mengangkat tangan kananya. "Ya?" "Tapi aku masih belum yakin dengan Sagey dan Paler yang dikaitkan dengan Cogav, mungkin, memang benar adanya jika Cogav dikaitkan dengan kasus pencurian Piper karena dasar kertas yang sama. Namun bagaimana dengan Sagey dan Paler?" tanya Shnz. "Kau benar, tingkat kelogisan pada ketiga kasus ini berbeda. Itu sebabnya kita harus memecahkan pesan tersembunyi yang ditinggalkan oleh Moord pada Sagey dan Paler," jawab Bangcox. Para anggota MIF yang sedang rapat tampak berpikir sejenak dan mencoba mengaitkan antara kasus yang satu dengan yang lainnya. Okep menggigit ujung pena sembari berpikir. Matanya menghadap langit-langit ruangan dan berusaha mendapatkan jawaban yang baik untuk kasus ini. Okep mengangkat tangannya, "Waktu kematian kedua kasus ini, sama. Yakni, tengah malam." Bangcox membulatkan matanya. Ia kembali pada slide sebelumnya yang memperlihatkan dokumen kematian Cogav dan membuka foto Sagey dan Paler mengenai hasil autopsi waktu kematian. Keduanya diperkirakan dibunuh saat tengah malam dan dengan pesan tersembunyi yang ditinggalkan oleh Moord. "Okep, aku akan memberimu tugas untuk mencari tau lebih lanjut mengenai luka pada tubuh Cogav, Sagey dan Paler. Jjmxn, tolong selidiki mengenai pesan tersembunyi pada mereka dengan Shnz dan Xogawl," titah Bangcox. Bangcox menyudahi rapat hari ini. Ia melonggarkan ikatan dasi yang sedari tadi terlihat rapi pada lehernya. Ia membereskan beberapa barang bawaanya ke dalam tas hitam yang tadi ia bawa. "Cox," panggil Xogawl. "Ya?" "Ini adalah data diri Delwish yang sudah aku dapatkan melalui ingatan Sagey dan Paler. Sebentar lagi, usianya akan menginjak enam belas tahun. Kau sudah harus mendaftarkannya ke Midgard." Xogawl memberikan setumpuk kertas yang berisi informasi mengenai Delwish. "Terima kasih atas kerja samanya, Gawl," ujar Bangcox.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD