Malam itu, kantor sudah sepi. Hanya Maya dan Kenzo yang masih lembur menyelesaikan laporan penting. Maya duduk di mejanya, fokus pada layar komputer yang memancarkan cahaya redup, sementara Kenzo berada di mejanya sendiri, beberapa meter di belakang Maya. Maya merasakan hawa dingin di tengkuknya. Bukan karena AC, tapi karena perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Perasaannya merasa seperti sedang diawasi. Diam-diam, Maya melirik ke belakang. Dan benar saja, Kenzo sedang menatapnya. Tatapannya berbeda, bukan tatapan atasan kepada bawahan, melainkan tatapan yang lebih intens dan sulit diartikan. Tatapan itu membuat bulu kuduknya meremang, perasaan takut mulai menjalar di hatinya. Maya berusaha mengabaikannya dan kembali fokus pada pekerjaannya, tapi perasaan tidak nyaman itu semakin

