BUGH!!
BUGH!!
BUGH!!
"PEMBAWA SIAL!"
"TIDAK TAU DIRI!"
"MENYUSAHKAN SAJA BISA NYA!"
"SEMUA YANG INGIN KERJA SAMA DENGAN PERUSAHAAN SAYA HILANG BEGITU SAJA KARENA KAMU, SIALAN!"
Malvin hanya tertawa dengan sinis, sudut bibirnya terluka lagi, dia di salahkan lagi, mendapatkan kekerasan lagi.
Bagi Malvin itu sudah Biasa dan sudah seperti kehidupannya, Malvin bisa melawan dan bisa juga balik menyiksa.
Tapi Malvin sudah terikat janji dengan Mamanya untuk tidak melawan setiap perbuatan yang papanya lakukan.
Mamanya berkata Malvin harus Kuat dan tidak boleh membalas apapun yang papanya lakukan, bila Malvin tidak berjanji dia pasti akan menghabisi papa nya itu tapi sayang Malvin bukan si pengikar janji.
"Sudah mas biarkan dia, kita harus mencari cara agar Mereka mau kerja sama lagi dengan Kita."
"Udah? Segitu aja siksaan papa? Gak mau lebih parah lagi? Biasanya sebelum Malvin masuk rumah sakit papa gak bakal berhenti pukul Malvin."
BUGH!!
Kepala Malvin di tendang membuat keningnya mengeluarkan darah segar, walaupun Malvin ketua Genk motor dia hanya seorang remaja Kelas 3 SMA.
Malvin terkekeh saat merasa darah mengalir dari dahinya, Tatapan Malvin bertemu dengan Pria yang ada di ujung tangga sana.
Pria itu hanya berbeda satu tahun dengan Malvin dan dia hanya menatap Malvin dengan mengejek dan tatapan seakan Iba membuat Malvin benci tatapan itu.
"Sudah selesai? Kalau sudah Malvin mau pergi." Mereka tidak mempedulikan Malvin dan langsung pergi begitu saja, Malvin melihat Papanya pergi dengan merangkul pundak Pria yang ada di tangga itu.
Dia Alvin Dharmawan, Kakak Malvin yang selalu mendapatkan apa yang dia mau kecuali teman.
Rasa sombong nya membuat semua temannya menjauh, Alvin adalah tipe anak yang selalu ingin apapun yang Malvin punya.
Alvin memiliki semuanya termasuk Kasih sayang dari kedua orang Tuanya, berbeda dengan Malvin yang tidak pernah mendapatkan itu dari dirinya kecil.
Malvin segera berdiri dan berjalan keluar rumah lagi, dia akan mencari tempat sunyi untuk dirinya menenangkan diri.
****
Giandra baru saja pulang dari tempat dia bekerja, Dia sedang berjalan di pinggir jalan sekarang dan akan segera pulang ke rumahnya.
Mata Giandra tak sengaja menatap seseorang yang sedang duduk dengan menekuk lututnya, dia menatap ke arah jalan dengan tatapan kosong.
Mata Giandra melebar saat melihat dengan jelas siapa pria itu, Giandra selalu bertemu dengan Kakak kelasnya itu dengan keadaan wajah yang selalu terluka.
Sudah satu Minggu ini dia selalu berurusan dengan kakak kelasnya itu, Giandra lah yang mencari urusan dia berusaha mendekati Kakak kelas itu untuk sekedar berteman baik dengan dirinya.
Giandra melihat Tatapan itu tidak biasanya, itu tatapan Kosong, Giandra tau Malvin sedang berusaha menenangkan dirinya.
"Malvin!"
"Gia!"
"Ngapain Malvin disini?" tanya Giandra berjongkok di depan Malvin. "Gue yang harusnya nanya, ngapain Gia disini?"
"Gia baru pulang kerja, Malvin ngapain disini sendirian?" tanya Giandra lagi tapi hanya Kekehan yang Giandra dengar. "Gak tau gue ngapain."
"Kening sama bibirnya berdarah! Gia bawa plaster, sini Gia pasangin." Malvin mengalihkan tatapannya ke arah Giandra, Giandra segera memasangkan Plaster ke kening juga sudut bibir Malvin.
"Malvin jangan terus membuat Luka, Kasian tubuh Malvin."
"Gue gak buat luka kok, Cuma luka ini emang udah ada di hidup gue selama ini." Giandra tidak mengerti dengan bahasa Malvin membuat Malvin tersenyum tipis.
"Mau gue anter pulang? Jok belakang gue kosong kok," ajak Malvin dan Giandra mendongak. "Emang boleh?" tanya Giandra.
"Boleh lah siapa yang mau ngelarang?"
"Takut gitu ada yang larang." Malvin hanya diam kemudian berdiri, dia mengambil Helm dan memasangkan ke kepala Giandra membuat Giandra bingung.
"Malvin kok Helmnya di kasih ke Gia sih? Nanti Malvin gak pake helm dong." Giandra protes pada pria itu.
"Gapapa, Keselamatan Gia nomer satu." Malvin mengangkat Giandra ke motor lalu dia naik dengan segera.
"Udah siap?" Giandra hanya diam karena dia bingung, dia harus berpegang pada apa sekarang, Malvin yang melihat kebingungan Gia hanya terkekeh kecil.
Giandra terkejut saat Malvin menarik kedua tangan Giandra untuk memeluk pinggang Malvin.
"Gapapa kok pegang pinggang gue juga, Gak akan ada yang marah, kecuali pacar Lo yang marah." Malvin memberitahu Giandra.
"Gia gak punya pacar kok Malvin," jawab Giandra membuat senyum Malvin merekah. "Ya berarti gak akan ada yang marah, udahlah kita jalan ya, Lo tinggal tunjuk aja arahnya kemana."
Giandra mengangguk dengan segera Malvin menjalankan motornya, Malvin tersenyum menatap wajah Giandra yang sangat manis walaupun terhalang oleh Helm milik Malvin. "Malvin udah makan belum?"
"Gue? Udah kok." Giandra terkekeh saat setelah Malvin menjawab dia sudah makan tapi perutnya bersuara, Malvin hanya diam menahan malu, mengumpat kesal ke arah perut mengapa harus berbunyi di saat seperti ini.
"Kita ke supermarket dulu ya Malvin, Giandra mau beli makanan," ujar Giandra dan Malvin mengangguk. "Oke."
Malvin berhenti di salah satu Supermarket yang ada di sana, Giandra turun dan menghampiri Malvin. "Kenapa?"
"Copotkan, Gia gak bisa." Malvin terkekeh dan langsung mencopot helm itu dari kepala Giandra, Malvin membenarkan rambut Giandra yang berantakan hal itu membuat pipi Giandra bersemu merah.
"Gue tunggu disini deh," ujar Malvin tapi Giandra menggelengkan kepalanya. "Jangan, Malvin harus ikut Gia ke dalem."
"Gak usa—"
"Gia maksa!" Malvin mendengus saat Giandra malah menyeret lengannya untuk masuk kedalam supermarket itu, dia malas untuk masuk tapi Giandra keras kepala.
"Kita makan Mie sama telor aja ya? Kalau masak nasi butuh waktu yang lama." Malvin hanya Mengangguk membuat Giandra tersenyum dan kembali berkeliling untuk membeli beberapa barang.
Giandra melakukan itu untuk menyetok barang di rumahnya juga sekalian saja, Karena Giandra yakin di rumahnya tidak akan ada Bahan makanan.
Setelah hampir 30 menit berputar di supermarket Giandra akhirnya membayar belanjaannya dan kemudian pergi dari sana bersama Malvin.
Malvin memasangkan helm ke kepala Giandra lagi dan menaikan Giandra ke atas motornya, Malvin menjalankan motor dengan segera.
***
Malvin menghentikan motornya di depan rumah yang tidak terlalu megah dan tidak terlalu kecil, sederhana tapi dapat Malvin Lihat ada kehangatan dalam rumah itu.
"Ini rumah Gia, kalau Malvin mau main dan Di rumah gak ada Bunda atau siapapun, Malvin bisa ketuk jendela di sebrang sana, itu kamar Gia." Malvin hanya mengangguk dengan tangan membantu Gia melepaskan Helm Malvin yang berat itu.
"Ayo masuk, di dalam hanya bunda saja. Gia buatkan Mie telor dulu." Saat Malvin akan menolak Gia langsung menarik tangannya lagi membuat Malvin pasrah akan Hal itu.
"BUNDA, GIA DATANG!!" Teriakan Giandra sangat menggema. "Gia sudah pulang?"
"Iya bunda, ini Gia bawakan Bahan masakan." Giandra menyerahkan kantong plastik bawaannya.
"Terimakasih sayang, ini siapa Gia?" tanya sang bunda saat melihat Malvin.
"Ohh itu Kak Malvin bunda kakak kelas Gia di sekolah," jawab Giandra dan Malvin tersenyum kecil. "Malvin Tante."
"Tampan sekali kamu nak, Panggil bunda saja seperti Gia," ujar sang bunda.
"Ba-Baik Bunda."
"Gia mau buat mie dulu bunda untuk Gia sama Malvin," ujar Giandra meminta ijin pada bunda nya. "Iya, Malvin ikuti Gia saja tunggu di meja makan."
Malvin mengangguk dan mengikuti Giandra dari belakang, Giandra menyuruh Malvin untuk duduk dan menunggu.
"Tunggu dulu ya Gia masak dulu." Malvin hanya mengangguk dan duduk dengan tenang, matanya menatap sekeliling rumahnya sangat nyaman dan hangat.
Setelah hampir 15 menit mie yang Giandra masak jadi juga dengan segera Giandra memberikan Mie itu untuk Malvin makan. "Ayo makan, maaf ya Gia cuma bisa masak mie hehe."
"Tidak masalah, terima kasih." Giandra dan Malvin memakan mie itu dengan segera, terlihat oleh Giandra Malvin sangat lahap sekali memakan mie itu.
Giandra mengusap ujung bibir Malvin dengan lembut membuat pergerakan Malvin tiba-tiba berhenti.
Ada Rasa yang datang saat Giandra menyentuh nya dan tersenyum ke arah dirinya dengan senyuman tulus itu.
"Ada bekas mie tadi." Malvin mengangguk untuk menghilang rasa canggung dalam dirinya, Giandra mengerutu dalam hati karena tingkahnya tadi mereka menjadi canggung sekarang.
***
"Hati-hati di jalan ya Malvin, Jangan lupa luka nya di obati takut infeksi." pesan Giandra dan Malvin mengangguk pelan.
"Makasih untuk makanannya dan plesternya." Giandra hanya mengangguk Malvin tersenyum sebelum dia berpamitan untuk pergi.
Giandra menatap motor Malvin yang semakin menjauh disana, Giandra tau ada Luka yang Malvin tutupi dan Giandra yakin tembok Malvin sangat tinggi saat ini.