Sebelum berangkat ke lokasi KKN, seluruh mahasiswa mendapat pembekalan terlebih dahulu. Gunanya agar nanti saat melaksanakan program kerja di desa yang sudah ditunjuk, tak membuat nama kampus dan juga nama mahasiswa itu sendiri jadi buruk. Selain itu, kami juga diajarkan bagaimana cara untuk bersosialisasi dengan masyarakat.
Semua orang sudah berkumpul di dalam aula. Aku dan juga Fahmi masih berdiri di luar dengan berdebat sedikit.
“Aku yakin orang itu tahu sesuatu, Mi,” ujarku saat tadi malam sempat bercerita padanya mengenai pesan yang dikirim oleh orang misterius tersebut.
Fahmi tetap pada pendiriannya, tidak percaya dengan hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Kali ini bukan hanya menganggapku berhalusinasi, tapi Fahmi merasa ilfill dengan sikapku yang sering membuatnya kesal.
“Aku ‘kan sudah bilang, jangan pikirkan tentang itu lagi. Tingkah kamu semakin lama semakin aneh tahu nggak.” Fahmi sama sekali tak menatapku. Aku tahu dia malas membahas ini lagi.
“Bukan cuma aku, tapi Cindy juga baca pesan itu.”
“El, aku mau kamu berhenti berhalusinasi. Sikap kamu ini yang membuat hubungan kita jadi kandas. Kamu mikir nggak, sih.” Fahmi berlalu meninggalkanku yang masih terdiam dengan ucapannya barusan.
Apa benar aku yang membuat hubungan kami berakhir? Atau Fahmi memang sengaja mencari alasan agar bisa putus denganku? Entahlah, saat ini aku hanya fokus pada maksud dari pesan itu. Jika benar dia adalah salah satu korban yang selamat saat KKN di desa itu, berarti tugasku harus mencari kebenaran dari rumor yang beredar. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam aula.
***
Aku menghela napas panjang. Lima menit hanya berdiri terdiam di sini. Di ambang pintu masuk aula sembari menatap Rektor memberikan sepatah kata untuk kami. Sebenarnya bukan Rektor yang sedang kutatap, melainkan sosok putih di belakangnya.
Di luar sana hujan mulai turun secara perlahan. Matahari yang tadinya terik, hilang begitu saja di balik awan yang hitam. Semua mahasiswa masih fokus mendengarkan ucapan dari Rektor. Suasana semakin lama semakin mencekam. Roma ku mulai berdiri saat sosok putih itu mulai beranjak menuju kursi penonton. Aku yang tadinya hanya berdiri di pintu, mulai melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.
“Kamu mau ngapain?” langkah terhenti saat Fahmi memegang tangan kananku.
Aku menoleh sebentar, kemudian kembali melihat sosok itu yang hilang entah kemana. Rektor yang tadinya berbicara pun mulai mengakhiri sepatah katanya. Kini posisi itu kembali diambil alih oleh mc yang merupakan seniorku di kampus. Fahmi menarik tanganku untuk duduk di sampingnya. Tentu saja aku tak bisa menolak.
“Apa kamu melihat sesuatu lagi?” bisiknya pelan.
“Nggak. Aku nggak lihat apa-apa,” jawabku berbohomg karena tak ingin dia semakin berpikir yang aneh-aneh.
“Terus, ke depan mau ngapain?” tanyanya yang seolah-olah tengah menginterogasi.
Aku menelan saliva, bingung harus menjawab apa. Terlebih lagi sosok itu kembali muncul di hadapanku. Tepatnya berdiri di samping mc dengan wajah yang berbeda dari awal tadi. Aku tak tahu kenapa wajahnya terlihat marah seperti itu. Entah apa yang membuatnya tak suka dengan kehadiran kami di aula ini.
“Bercerita pun kamu nggak akan percaya,” jawabku singkat.
Fahmi menatapku lama, aku tak kuasa melihat tatapan itu. Saat ini yang dipikirkan Fahmi sudah bisa kupahami sendiri.
“Bukan aku nggak percaya, aku hanya ingin kamu fokus dulu. Bisa ‘kan?”
“Mi, aku fokus pada kegiatan kita nanti. Tapi, ada beberapa hal yang menganggu titik fokus aku itu.” Kali ini kuberanikan melihat Fahmi, menatap dalam manik matanya agar dia tahu selama ini aku sangat ketakutan.
Penglihatan ini telah membuatku seperti orang yang kehilangan akal sehat. Bicara sendiri tanpa orang tahu dengan siapa diriku berbicara. Bahkan, teman satu indekos juga pernah mengatakan kalau aku sudah seperti orang gila. Serba salah memang.
Tak ada yang percaya dengan apa yang aku katakan. Kebanyakan dari mereka malah memilih menjauh dari pada berteman denganku, termasuk Fahmi. Hanya Cindy yang tetap setia dan percaya dengan apa yang kukatakan.
“Aku nggak bisa berkata-kata lagi. Sikapmu sudah sangat aneh bagiku.” Pandangan Fahmi lurus ke depan, menatap pembawa acara yang baru saja memanggil pembicara berikutnya.
Aku terdiam, tak menanggapi ucapan Fahmi dan juga tidak menyanggahnya. Satu-satunya orang yang kuharap untuk bisa menyelesaikan masalah ini malah tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Jujur saja, aku kecewa dengan sikap Fahmi yang seolah-olah tidak peduli padaku.
“Mau kemana?” tanyanya saat aku beranjak dari tempat duduk.
“Keluar,” jawabku singkat, sama sekali tidak menatapnya.
Kakiku melangkah ke pintu utama aula, kubiarkan Fahmi menatapku dengan heran. Aku tahu dia sedang menatapku saat ini karena Fahmi penasaran ke mana arah langkahku. Penjaga pintu sempat menolak untuk membukakan pintu itu dan berkata bahwa acara pembekalan belum selesai.
“Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan. Lagi pula Pak Haris sudah memberikan izin padaku untuk pulang lebih cepat,” ujarku berbohong padanya.
Pria berumur sekitar empat puluh sembilan tahun itu menatapku penuh selidik. “Bapak nggak yakin. Jangan-jangan kamu berbohong,” telaknya.
Aku menarik napas panjang, menghembuskan dengan sangat kasar sebelum kembali menatap pria itu. “Kalau Pak Budi tidak percaya, silakan tanya pada Pak Haris!”
Pria itu tampak berpikir sebentar, kemudian kembali menatapku sembari menganggukkan kepalanya. “Baiklah, anggap saja Bapak percaya dengan apa yang kamu katakan.” Pak Budi membuka pintu utama dengan pelan, tak ingin mengganggu acara yang kini tengah berlangsung.
Aku tersenyum saat tiba di luar. Berhasil menghindar dari acara yang sangat membosankan itu. Kuedarkan pandangan di sekeliling area aula, sepi seperti tidak ada penghuni. Padahal masih ada kegiatan pembelajaran untuk juniorku. Tapi, kenapa kampus ini seperti gedung mati yang tidak pernah dihuni oleh orang hidup?
“Mau kemana?”
Sebuah suara terdengar dari arah belakang. Aku membalikkan badan dengan cepat. Di sana berdiri seorang gadis cantik sembari tersenyum ke arahku. Pakaiannya seperti orang zaman dahulu, memakai kebaya dan rambut yang ditusuk konde. Aku melihatnya dari atas hingga bawah.
Mahasiswa jurusan apa dia ini? kenapa pakaiannya aneh sekali? Gadis itu mendekat dengan menggeggam sebuah buku di tangannya.
“Kamu siapa?” tanyaku saat dia berhenti tepat di hadapan.
“Kinan. Namaku Kinanti. Mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia.” Gadis bernama Kinan itu menatapku lama, membuat bulu kuduk merinding sendiri.
Angin berhembus tiba-tiba, dinginnya menusuk hingga ke tulang. Kulihat Kinan semakin lama wajahnya semakin terlihat sangat aneh. Entah hanya perasaanku saja atau memang ada sesuatu dalam dirinya. Saat mataku beralih pada buku yang dia pegang, ponselku berdering. Panggilan dari Cindy.
“Iya, Cin. Ada apa?” ucapku saat menerima panggilan itu.
“Kamu di mana? Kata Fahmi kamu tadi keluar,” ucapnya.
“Aku lagi...” ucapanku terhenti saat mendapati Kinan sudah tidak ada lagi di hadapanku.
Pergi ke mana dia? Kenapa menghilang begitu cepat. Padahal, tadi aku sama sekali tidak mengalihkan pandangan darinya. Hanya sedikit memejamkan mata dan dia menghilang dalam waktu singkat. Aku tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. siapa sosok gadis yang bernama Kinan itu? Kenapa dia mendatangiku?”
“Lagi di mana?”
Tubuhku sedikit tersentak mendengar suara Cindy yang panggilannya masih terhubung. “Di kos,” jawabku singkat dan berbohong.
Mataku masih terus mencari keberadaan Kinan. Meski aku tahu dia tidak nyata, tapi aku masih penasaran alasan dia datang menemuiku.
“Sebentar lagi acara selesai, nanti aku mampir ke sana,” ucap Cindy.
Segera kulirik pintu aula dan bergegas meninggalkan tempat itu tanpa melihat sosok Kinan lagi.
“Nggak usah, aku mau packing barang yang akan di bawa besok,” cegahku sembari berjalan keluar kampus.