Ketika aku masih tadarus, mama memberiku kode untuk menemui beliau di dapur. Segera aku selesaikan bacaanku dan ku temui beliau. “kak, mama tau ini mendadak. Tadi pagi juga tidak ada pembicaraan mengenai ini tapi saat ini kamu sudah menikah. Bagaimanapun kamu dahulukan suamimu. Mama paham kamu saat ini sedang sedih, berduka, merasa kehilangan tapi suamimu itu yang utama.” Nasihat mama. “Kakak sibuk dengan kesedihan kakak sendiri, sedangkan suami kakak dari tadi malah yang banyak bantu disini. Semua dia dan anak buahnya yang urus. Ini sudah malam, kakak coba pikirkan apakah dia sudah makan? Sudah mandi?” lanjut mama. “iya ma, kakak salah. Kakak terlalu larut dengan kesedihan kakak sampai lupa dengan tanggung jawab kakak.” Jawabku dengan segala penyesalan. Aku terlalu larut dengan diriku

