Bab 1

975 Words
Jakarta, 2009 Afila menghembuskan nafas beratnya ketika tim pembinaan OSN tingkat provinsi mengumumkan bahwa Afila sebagai siswa penerima beasiswa kedokteran di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Kata selamat Dia terima dari semua rekan peserta maupun tim Pembina. Saat ini Afila masih duduk di kelas X Sekolah Menengah Atas (SMA) namun sudah dipastikan mendapat beasiswa kedokteran, hal ini disebabkan karena sejak SMP Afila sudah aktif di dunia medis. Sang Ayah yang merupakan salah satu pemegang saham salah satu rumah sakit besar di Jakarta membuatnya lebih sering menghabiskan waktu liburnya di ruang kerja sang Ayah dengan buku-buku kedokteran. Bukan kedokteran tujuan Afila, Afila lebih berminat untuk menjadi matematikawan seperti Muhammad bin Mūsā al-Khawārizmī matematikawan besar Islam. Namun, Nasi sudah menjadi bubur. Impiannya untuk melanjutkan pendidikannya di Leiden University, Belanda. Segala dokumen yang Dia butuhkan untuk mendaftar kesana sudah dipersiapkan namun dapat dipastikan semua akan gagal. Setelah selesai kegiatan pembinaan dan tes Olimpiade, Afila kembali ke sekolahnya karena wakil kepala sekolah bidang kurikulum memintanya untuk kembali ke sekolah entah untuk apa. Dengan langkah gontai, Afila memasuki sekolah. Sebenarnya Afila malas kembali ke sekolah mengingat respon teman-temannya saat tau Afila bisa mewakili sekolahnya hingga tahap provinsi. Namun rasanya juga rindu pada sang kekasih, Gaozan. Afila dan Gaozan berpacaran sejak awal mereka masuk SMA. Sejak memasuki sekolah, Afila belum bertemu dengan Gaozan. Afila berfikir akan mencari Gaozan setelah selesai dengan urusannya dengan wakil kepala sekolah. Setibanya di ruang wakil kepala sekolah ternyata sudah ada Gaozan. “Kaya bakal ada tugas Negara lagi nih.” Batin Afila. Tok Tok Tok, suara pintu yang di ketuk Afila. “Assalamu’alaikum” Salam Afila. “Wa’alaikumussalam” Jawab Bu Ida dan Gaozan. “Sudah selesai tesnya Neng? Tanya Bu Ida. “Alhamdulillah, sudah bu.” Jawab Afila. “Jadi Ibu panggil Afila dan Gaozan kesini itu karena sekolah kita mendapat undangan pelatihan siswa berprestasi dari Suku Dinas Pendidikan Jakarta. Ibu minta Afila ikut dan nanti Gaozan akan ikut mendampingi dan kalian pilih satu rekan kalian untuk ikut dengan kalian.” Ibu Ida Menjelaskan. “Bu, maaf. Kenapa tidak yang lain yang ikut?” Tanya Afila sungkan. “Kamu sebelumnya saat kelas X itu peringkat satu parallel, terlebih saat ini kamu masuk 100 besar OSN matematika Provinsi. Yang lainnya juga minggu lalu sudah ada yang ikut kegiatan pembinaan pengurus OSIS.” Jawab Bu Ida. “Baik Bu, kami akan ikut diacara tersebut. Untuk rekan yang ikut dengan kami nanti bisa Viska dari kelas XI IPA 3 Bu. Meski pendiam dan bukan salah satu perwakilan OSN namun Viska ini masih 10 besar parallel saat kelas X kemarin.” Ucap Gaozan yang sejak tadi diam. Afila hanya diam sambil memandang Gaozan yang tampaknya sedang berusaha mempersingkat waktu mereka di dalam sana. ** Satu minggu telah berlalu dari waktu mereka menghadap wakil kepala sekolah, hari ini jadwalnya mereka menghadiri pelatihan yang diselenggarakan pemda. Afila memilih membawa kendaraan pribadinya dibandingkan diantar oleh pihak sekolah. Setibanya mereka di lokasi sudah banyak pesertadari sekolah lain yang hadir. Setelah selesai dengan barang bawaan masing-masing, Afila, Gaozan dan Viska memilih berpisah untuk mencari teman-teman baru. Meski awalnya Gaozan menolak namun Afila bisa meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Pelatihan berlangsung selama tiga hari dan berjalan dengan lancar. Afila maupun Gaozan dengan cepat mendapatkan sahabat-sahabat baru mereka berbeda dengan Viska yang memang lebih pendiam dibanding mereka. Selama pelatihan tidak ada yang tahu jika Afila adalah kekasih Gaozan bahkan tidak ada juga yang tahu jika Afila memiliki saudara susuan yang juga peserta pelatihan. Selama pelatihan mereka layaknya teman. Dua minggu setelah pelatihan, pihak sekolah mereka mengumumkan satu berita penting dari dinas pendidikan tinggal kota, yaitu akan dibentuk sebuah organisasi dari peserta pelatihan bertujuan agar komunikasi, kreativitas dan aspirasi semua siswa bisa ditampung dan disalurkan dalam wadah yang tepat. Kepengurusan sudah ditentukan oleh dinas pendidikan sehingga semua anggota hanya tinggal menjalankan tanggung jawab masing-masing. ** Hati manusia tidak ada yang tahu, setelah dua tahun menjalin hubungan tiba-tiba Afila dan Gaozan memutuskan untuk menjalani hidupnya masing-masing dengan dalih agar masing-masing bisa fokus pada pendidikan terlebih dahulu. Kenyataannya setelah lima bulan berpisah dengan Gaozan bahkan H-7 Ujian Nasional Afila malah menjalin hubungan dengan anak salah satu guru di sekolahnya. Hal itu menjadi berita yang menyakitkan untuk Gaozan dan beberapa orang yang menyukai Afila. Meski hubungannya dengan Afila sudah berakhir, perlakuan dan perhatian Gaozan terhadap Afila tidak berubah. Gaozan termasuk salah satu yang selalu ada kala Afila suka maupun duka. Afila tetaplah Afila yang memiliki ambisi yang besar terhadap pendidikannya. Meski gagal melanjutkan pendidikannya di Leiden University, Afila memiliki target lain dalam pendidikannya. Afila mendaftarkan dirinya untuk program spesialis di dua universitas berbeda di dua Negara di Eropa, Jerman dan Irlandia. Target untuk segera lulus dan melanjutkan spesialis inilah yang membuat Afila memilih untuk fokus pada pendidikan dan memutuskan hubungannya. Seiring dengan Afila yang berusaha agar bisa lebih cepat mendapat gelar sarjana kedokteran, Afila juga memperdalam ilmu agamanya. Yang awalnya malas datang ketika pengajian rutin keluarga, kini tidak pernah absen untuk hadir kecuali berbarengan dengan jadwal koas atau ujiannya. Afila menyelesaikan program sarjana kedokterannya dalam waktu 3 setengah tahun. Tidak hanya itu, karena kerjasama antara kampus dengan rumah sakit dimana sang ayah memiliki saham Afila bisa meminta bantuan pihak kampus dan rumah sakit agar bisa membantunya mempercepat program dokter magang (Co-Ass) nya. Ketika masuk di semester 6 Afila sudah mulai menjadi dokter magang, dimana saat pagi dia ke kampus untuk kuliah, sore hingga malam harinya dia magang untuk stase-stase tertentu yang sudah dia selesaikan mata kuliahnya. Hingga setelah mendapat gelar sarjana kedokteran Afila tidak perlu menjalani masa magang selama satu setengah tahun dan hanya butuh waktu enam bulan Afila menyelesaikan program dokter magangnya. Afila memang dikejar waktu untuk segera memulai program spesialisnya, karena dia saat itu hanya diberikan tenggat waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pendidikan dokternya di Indonesia. Ketika surat itu Dia dapatkan dengan segera Afila melaporkannya kepihak kampus sehingga pihak kampus mau membantunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD