Part 9

744 Words
Tetes demi tetes cairan lilin itu telah menumpahkan semuanya di paha yang terangkat Fusya. Tubuh Fusya bergulat melawan dan menahan tiap tetesan itu, tangan yang terikat membuat ia sama sekali tak bisa melawan. Edward meneteskan lilin itu di area d**a Fusya, "kau sungguh seksi," Edward melepas pengait bra itu dengan jari,namun membiarkan bra itu masih menempel di sana. Punggung Fusya kini mulus tanpa sehelai benang pun, Edward melangkah menatap punggung mulus itu, "jadi kau pernah di cambuk," Edward mengelus-elus punggung Fusya. Tangan Edward  memeluk dari belakang dan meremas p******a Fusya, kedua tangan Edward berirama meremas buah Fusya, "kau sungguh seksi," Fusya hanya menunduk malu tidak menatap semua orang yang berada disana, termasuk Larry yang mengamati nya di depan dengan terikat, Larry yang menatap dari sedikit kejauhan Mencoba tidak menatap itu semua, namun tidak bisa, pemandangan liar yang pernah ia lakukan dengan Fusya itu seakan terpampang jelas, sedikit rasa tidak rela gadis itu di sentuh dengan cara seperti itu walau ia pun pernah melakukan nya dengan cara yang hampir sama. "Lihat Larry! kau sungguh lemah melindungi satu wanita saja tidak mampu," Teriak Edward dengan Masih meremas d**a Fusya. "Akh..akh," ketika jari telunjuk Edward menekan putingnya ke dalam. "Aku akan membuka bra ini," menarik lepas bra Fusya. Terlihatlah sudah buah d**a milik Fusya, mampu membuat takjub kelima bodyguard begitupun Edward, yang terus meneguk ludahnya sendiri. Fusya menundukkan kepalanya, menimbulkan rambutnya yang panjang sedikit menutupi p****g itu. "Oh.... oh..j angan malu gadis cantik...." Edward Menarik dagu Fusya ke atas. Edward menarik rambut Fusya disiratkan kebelakang, "tenanglah jangan takut," "Edwarddddddd aku akan membunuhmu," teriak Larry mencoba melepas ikatannya. Teriakan itu tidak di perdulikan oleh Edward begitupun kelima bodyguard nya yang sibuk menonton tubuh indah Fusya Larry mengeserkan tubuhnya berharap menemukan sesuatu, ya ternyata di sana ada sebuah korek namun karena jarak yang sedikit jauh ia harus menahan sakit dan terus merangkak agar mampu mengambil korek itu. "Dapat," batin Larry. Ia mengambil dengan mulutnya lalu ia tumpahkan di belakang dan diraih oleh tangan yang mengikatnya, butuh waktu lama untuk melepaskan ikatan ini hanya dengan sebuah korek, namun Larry tetap mencoba dan terus mencoba dengan tubuh yang seolah-olah tetap terikat namun diam-diam korek lah yang beraksi. "Siapa tadi namamu?" Tanya Edward mengelus d**a Fusya. "Fus..Fusya," jawab Fusya lirih. "Baiklah jadi kita akan bermain Fusya, kita akan bermain dengan vibrator,"  Edward tertawa. Edward menyalakan vibrator yang sudah ia genggam dan menempelkan di d**a Fusya. "Ah," Fusya terasa geli dengan gerakan vibrator yang menyentuh p****g nya. Kelima bodyguard itu tak tinggal diam ia juga menjamah perut Fusya dengan jari-jarinya. Edward menghisap leher Fusya dari belakang, "emmpphh," "Jangan sentuh yang bawah, itu bagianku," perintah Edward bersemangat. Kelima bodyguard itu hanya tersenyum dengan meraba raba perut dan d**a Fusya, tak masalah dengan aturan itu. Luka lama belumlah kering namun kini luka baru harus menyayat dan menggoreskan nya kembali. Hingga Fusya tak mampu menahan malu, sakit, penderitaan, dan perasaannya, ia pingsan secara tak sadarkan diri walau dengan posisi seperti itu. Larry yang berhasil membuka ikatan di tangannya mengambil lampu meja dan ia mengambil tongkat, kemudian berlari dan memukul punggung satu-satu antara bodyguard satu dengan lainnya. "b******k, kau menyerang ku saat aku tak bisa bergutik, sekarang rasakan ini,"  ucap Larry terus memukul. Tidak segan-segan Larry memukul badan, kepala, dan kaki mereka berlima hingga ia terjatuh dan terkapar di lantai seperti yang dilakukan kepada dirinya. Edward yang fokus dengan menyentuh Fusya mendapat sasaran tiba-tiba, hidung Edward di tonjok dengan tongkat lampu tadi yang ia juga gunakan membasmi kelima bodyguard. "Bagaimana bisa?" Edward tak percaya, ia melihat dengan kepala mata nya sendiri bahwa tadi Larry diikat dan di hajar namun sekarang ia telah berdiri di hadapannya dan betapa kagetnya kelima bodyguard sudah tak sadarkan diri. Larry memukul kepala Edward dengan tongkat itu untuk kedua kali, kaki Larry menendang p***s milik Edward. "Aaahhhh," jeritan Edward. "Larry kau....kau..." Sekali lagi Larry menendang wajah Edward dengan kaki, seperti halnya ia menendang Larry. Hingga benar-benar Edward tak sadarkan diri, entah gejolak apa yang mampu membuat Larry menahan sakit dan luka di tubuhnya, mungkin melihat Fusya di perlakukan seperti itu...mungkin....mungkin... Larry mengambil korek itu kembali dan segera berlari menghampiri Fusya. "Ayo bangunlah! Fusya bangunlah!" Larry mengamati wajah Fusya dan menangkup pipi Fusya. Larry melepas semua ikatan yang mengikat pada tubuh Fusya, tubuh mulus itu menjadi memerah bekas ikatan itu. Memakaikan bra kembali dan melepas baju milik Edward lalu memakainya kepada Fusya karena tidak ada pilihan lain. "Bertahanlah," bisik Larry, lalu mengendong gadis itu, membawanya pergi dari ruangan yang tak pernah terlupakan ini. ________________********_____________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD