Langit sangat konsumtif dan tumit kaki Alaina seakan ingin membunuhnya. Alaina berjalan gontai mengikuti Langit yang menenteng semua belanjaan yang katanya punya Alaina. Alaina cemberut, yang ada, Langit yang memilih dan membelinya. Dia hanya menurut saja. Mau protes, Langit mengancam akan menciumnya di depan umum yang membuat Alaina ciut. Langit yang tiba-tiba berhenti, membuat Alaina menubruk punggungnya. Alaina mengusap hidungnya yang sakit. “Kenapa?” tanya Langit lalu berbalik. Langit mengajaknya ke pusat perbelanjaan terbesar di ibukota Jakarta. Hari sudah mulai malam dan Alaina lelah. Dia ingin merebahkan punggungnya di kasur. “Kapan pulang?” tanya Alaina melas. “Kenapa?” Langit kembali mengulangi pertanyaannya tadi. “Aku ngantuk. Kakiku sakit.” Alaina melepas sepatu hak tingg

