Three

1140 Words
Nami tidak bisa untuk menyembunyikan kekagetannya. Dean Gariando akhirnya mendekati Nami Anezaki karena ia merasa bosan hanya berdiri saja. Mungkin sebaiknya ia perlu membuat beberapa peringatan kepada wanita tersebut. “Kupikir aku salah orang, ternyata memang benar kau, Wanita Sialan,” ucapnya dengan menyeringai. “Kenapa kau ada di sini?” tanya Nami. “Memangnya kenapa?” jawab Dean. “Lalu mengapa kau ada di sini?” tanya Dean. “Bukan urusanmu.” “Oh jadi ini alasanmu mengatakan untuk tidak diganggu hari ini. Ternyata kau pergi ke acara ini.” “Ya, dan aku tidak ada waktu untuk melayanimu,” balas Nami. Ia diam beberapa saat. “Bagaimana kau pergi ke sini?” tanya Nami. Detik berikutnya Nami menyesali pertanyaannya itu. “Mengapa kau ingin tahu?” “Lupakan,” potong Nami, “baiklah aku akan jauh-jauh darimu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Ingat, aku tidak akan berurusan denganmu lagi.” Baru Nami mengatakan hal tersebut, tiba-tiba Andrea Pallazo menghampiri keduanya. “Oh Dean Gariando sahabatku. Kau datang!” ucapnya dengan gembira. Baru ia akan memeluk Dean, gerakannya terhenti. “Oh Tuhan, ada apa dengan tanganmu?” tanyanya. “Aku mengalami kecelakaan kemarin,” jawab Dean seadanya. “Hanya patah, akan sembuh dalam beberapa bulan.” Nami mencibirnya. Ia tahu tangan Dean tidak patah. Hanya terkilir saja atau retak sedikit. Ia terlalu membesar-besarkan masalah pikir Nami. Hubungannya memang tidak baik dari awal dengan Dean. Saat Nami mencibirnya, Andrea Pallazo baru sadar dengan kehadiran Nami di dekatnya. “Oh my princess!” Andrea Pallazo langsung memeluk Nami dengan erat. Nami membalasanya sementara Dean keheranan. Tidak menyangka Nami mengenal sahabatnya. “Kau datang, kupikir kau tidak datang. Ini adalah acaramu!” sambungnya dengan bersemangat. “Kau mengenalnya?” tanya Dean. “Tentu saja,” jawabnya. “Kau juga mengenalnya, bukan?” “Dia orang yang mematahkan tanganku,” jawab Dean. Nami langsung membulatkan matanya. “Jangan berbicara sembarangan! Itu tidak benar!” potong Nami. “Intinya karena aku menghindarimu dan aku yang menjadi korban. Sama saja itu karena ulahmu.” Dean tidak ingin kalah. “What?” “Jangan berusaha mengelak, Wanita Sialan.” “Hei…” Pertengkaran mereka terpotong karena Andrea Pallazo memisahkan keduanya. Jika tidak seperti itu mungkin mereka akan bertengkar dan menjadi pusat perhatian. “Bisakah kalian berdamai. Tolonglah, ini pesta penting.” “Dia yang memulai duluan.” “Aku?” Andrea Pallazo mengembuskan napasnya kesal. Dia menjadi saksi pertengkaran kedua orang tersebut. Andrea Pallazo yang tidak tahu apa-apa akhirnya menarik Nami dan Dean bersamaan. Ia harus bergerak agar kerumunan media tidak mendengar keributan keduanya yang bisa saja mengakibatkan kerugian untuk film buatannya. “Dean, dia adalah orang penting di sini. Dia adalah penulis terkenal. Dia yang menjadi penulis cerita dari filmku,” kata Andrea Pallazo pada Dean. Nami tampak ingin protes karena Andrea Pallazo membongkar rahasianya. “Dan dia, adalah sahabat baikku. Dia datang ke pesta ini atas undanganku,” ucapnya pada Nami. Keduanya diam, tetapi tatapan mereka tidak dapat mendingin. “Lalu apa hubungannya denganku?” “Benar, apa hubungannya denganku?” tanya Nami sama seperti Dean. “Kalian berdua adalah temanku dan setidaknya kalian harus akur.” “Yang benar saja, dengan wanita sialan ini?” “Hei aku bukan wanita sialan!” “Baiklah, Penulis Sialan.” Nami siap memukul Dean karena kesal, tetapi Andrea Pallazo menghentikannya lagi. “Berhenti! Berhenti!” ia menatap kesal kedua orang tersebut. Ia tidak pernah tahu Nami Anezaki yang ramah bisa menjadi menyebalkan seperti ini dan ia tidak pernah tahu Dean yang pendiam serta cenderung tidak pedulian itu akan secerewet ini. “Oke, untuk sekarang kumohon kalian berhenti. Wartawan sedang banyak menyorotku. Ayolah teman-temanku, kalian bisa menyelesaikan masalah kalian di luar. Bukan di sini,” pintanya. “Jauhkan wanita sialan ini dariku.” Nami menatap Dean kesal. Persetan dengan rasa pedulinya kepada Dean siang tadi. Ia benar-benar kesal pada Dean Gariando. Andai saja membunuh bukan sebuah tindakan kejahatan dan dosa besar. Nami Anezaki akan dengan senang hati membunuh Dean Gariando sekarang juga. Belum pernah ada orang yang bisa membuat Nami sekesal ini. “Benar, sebaiknya aku pergi saja.” Nami segera menjauh. Sekarang Andrea Pallazo menghela napasnya. Ia menatap Dean yang meminum wine dengan santai. “Aku tidak menyangka kau mengenalnya.” “Aku tidak mengenalnya. Dia penyebab tanganku terkilir seperti ini.” “Bagaimana bisa?” tanyanya penasaran. “Nanti akan aku ceritakan. Wartawan sudah banyak yang menunggumu. Sebaiknya kau layani mereka.” Andrea Pallazo akhirnya menyerah dan ia memilih melayani para wartawan. Sementara Dean meletakkan wine-nya dan mengambil ponselnya dari saku celananya. “Hei Scott, aku ingin pulang sekarang. Aku tunggu di lobi hotel.” ❆❆❆ New York City pagi itu cukup cerah, tetapi masih dingin. Salju masih cukup tebal di atap rumah Dean dan di halaman depannya. Ia mengeluh karena tidak bisa ke mana pun sesukanya lagi semenjak tangannya terkilir akibat ulah Nami. Dean membuat kopi dengan satu tangan, lalu membuat roti dengan satu tangan. Sungguh merepotkan. Ia tidak bisa menyetir karena tidak ada mobil di rumahnya karena mobil satunya ia letakkan di kantornya serta satu tangannya yang terkilir dan yang terpenting ia tidak bisa menikmati Natal bersama keluarganya yang tinggal di San Francisco. Ini bencana besar di bulan Desember tahun ini, ya setidaknya itulah menurut Dean. “Oh s**t!” Dean menumpahkan kopi yang baru dibuatnya. Ia mengambil tisu sebanyak mungkin lalu mengelap mejanya. Dean menyerah untuk meminum kopi pagi ini. Alhasil ia hanya memakan roti dengan selai coklat sebagai pengganjal perut dan segelas s**u yang masa kadaluarsanya hampir habis. Sepertinya ia perlu belanja keperluan dapur nanti dan yang pasti mudah untuk dimasak dengan satu tangan. “Hei Scott, bisakah kau datang ke rumahku. Aku butuh sarapan pagi dan makan siang.” Di seberang telpon terdengar erangan Jeremy Scott. Ia mengumpat pelan kemudian berbicara dengan tidak jelas. “Hem… apa? Menyebalkan. Aku sedang kencan. Jangan ganggu aku.” Telpon terputus begitu saja. Dean mengumpat lagi. Ia tahu Jeremy Scott pasti sedang tidur di rumah seorang wanita. Itu kebiasaannya ketika pesta selesai diadakan. Mengajak wanita incarannya untuk bercinta. Hal tersebut bukan tabu ditempatnya tinggal. Biasanya dalam beberapa minggu mereka biasa berganti pasangan. Dean termasuk ke dalam orang-orang yang mengganggap hal tersebut tidak berguna. Ia tidak suka kehidupan malam dan hubungan bebas. “Sialan!” Dean tidak hilang akal begitu saja. Ia teringat dengan seseorang yang harusnya bertanggung jawab penuh atas tangannya. Tanpa ragu ia menghubunginya. Beberapa kali sambungan tidak diangkat hingga akhirnya di panggilan kelima barulah penerima di seberang sana mengangkat telpon. “Ke rumahku sekarang juga.” Dean langsung mematikan ponselnya begitu saja setelah Nami menjawab panggilannya. Ia kemudian menyalakan televisi sambil mengangkat kakinya ke meja. Ia harus membuat Nami bekerja untuknya hari ini. Semalam wanita tersebut sudah membuat minatnya di pesta hilang total. Hari ini ia berbaik hati untuk membuat Nami kembali menghujatnya habis-habisan. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD