Kau selalu melakukan apapun yang kuperintahkan. Bahkan, untuk hal rendahan seperti ini. Tapi, kenapa kau selalu menolakku saat aku mengajakmu melakukan s*x?
***
Keluar dari ruangan di mana dewan direksi beserta ketua tim rapat sebelumnya, Alarick menemukan Valerie yang berdiri di samping pintu seolah sekretarisnya itu adalah mbak-mbak penjaga biskop. Alarick menatap kesal dan berjalan menghampiri Valerie. Seolah keberadaan Alarick sudah biasa untuk Valerie, perempuan itu langsung menatap Alarick sambil mengulurkan tangannya untuk meminta dokumen yang Alarick pegang.
"Beralih profesi menjadi penjaga pintu, Valerie? Sudah bosan menjadi sekretaris?" tanya Alarick sambil mengulurkan dokumen-dokumennya agar dipegang Valerie.
"Saya hanya sedang bersikap sopan, Sir."
"Di negara kumuh ini? Di hotel yang harga kamarnya lebih murah dari kaos kakiku?"
"Itu lagi! Itu lagi!" seruan itu datang dari arah belakang mereka, dan Mr. Damian selaku Kakek Alarick, menghampiri tempat Alarick dan Valeria berdiri dengan wajah membrengut. "Aku penasaran dengan harga kaos kakimu. Berapa, sih, harganya? Apa benangnya terbuat dari emas sehingga kau selalu merendahkan suatu barang seharga lebih rendah dari kaos kakimu???"
"Tentu saja kaos kakiku sangat mahal. Walaupun tidak dihiasi emas, tapi kaos kaki ini dibuat oleh desainer terkenal dan aku dapat mengenali kaos kakiku kapanpun."
"Hanya itu saja??? Dan kau merendahkan hotelku dengan kaos kakimu seolah ada berlian yang menjadi hiasannya."
"Harga hotelmu memang lebih rendah dari kaos kakiku, Pak Tua."
"Cucu laknat! Aku akan membayar kaos kakimu itu! Berapa harganya? Aku akan membeli banyak!!"
"Kau tidak penting sekali. Kenapa kita harus membahas kaos kaki sekarang? Satu-satunya barang yang tidak mewah dan sangat murah untukku."
"b******n sombong!! Aku akan membalasmu dengan menggunakkan kaos kaki berbalut batu giok!!"
Wakil Direktur yang bernama Santoso itu berdiri di samping Kakek Alarick. Tangannya terulur untuk menepuk-nepuk bahu Mr. Damian. "Pak, sebaiknya Anda tidak usah meladeni cucu Anda lagi. Akan berbahaya bagi kesehatan Anda jika Anda berdebat dengannya." Katanya berbahasa Indonesia.
"Hei, Santowsow, diamlah kau tidak usah sok-sokan menjelekanku dengan bahasa negaramu ini." Ujar Alarick dengan menyebut nama Pak Santoso menggunakan logat luar negerinya.
"Anda sudah jelek, Pak. Ngapain juga saya jelek-jelekin lagi?" tanya Pak Santoso, sensi.
Alarick berdecak kesal, lalu menatap Valerie. "Apa yang dia katakan?"
Valerie menatap Alarick dengan sigap. "Dia mengatakan suatu fakta, Sir."
"Fakta apa?"
"Fakta tentang Anda."
"Apa itu?"
"Apa saja yang terlihat dari diri Anda."
Alis Alarick terangkat sebelah, sedangkan dua orang lainnya sudah menahan tawa karena ucapan Valerie. Wajah Alarick terlihat berpikir. "Hmm karena aku sempurna, berarti Pak Santowsow ini mengatakan hal yang baik tentangku."
Mr. Damian dan Wakil Direktur sukses tertawa sedangkan Valerie masih diam tenang.
Alarick menoleh pada Valerie. "Apa yang mereka tertawakan?"
"Tidak tahu, Sir. Mengapa Anda bertanya pada saya?"
"Memangnya kenapa kalau aku bertanya padamu???"
"Karena bukan saya yang tertawa. Seharusnya, Anda menanyakannya pada orang yang bersangkutan. Bukan lewat saya."
"Kau ini tidak berguna sekali!!"
"Sudah, sudah." Kata Mr. Damian yang sudah reda dari tawanya. Tangannya menepuk pelan bahu Alarick. "Jangan lupa untuk sarapan pagi bersama besok, Nak. Aku akan membawa keluarga sepupumu ke sini."
"Si Abimayu itu?? Kau benar-benar akan menjodohkannya dengan sekertarisku?? Kenapa harus si perjaka itu??"
"Diamlah! Terserah aku akan menjodohkan dengan siapa."
"Ya! Dan aku berhak melarang untuk menjodohkan sekretarisku!"
"Memangnya kau siapa hah! Kenapa juga aku harus butuh izinmu??"
"Aku bosnya!"
"Bukan berarti kau boleh mengaturnya seperti itu!!"
"Dia aku gaji untuk menuruti perintahku, Kek!"
"Ck, sudahlah. Pokoknya, bosok pagi kita sarapan. Titik! Pak Santoso, ayo kita pergi dari sini." Ujar Mr. Damian, kemudian berlalu pergi meninggalkan Alarick dan Valerie.
"Aku kan langsung pulang begitu kau melaksanakan rencana busuk itu, Kek! Aku tidak main-main!!" teriak Alarick kencang dan hanya mendapat lambaian seklias dari Mr. Damian. Alarick berdecak kesal. "Miss Selvig, apa kau sudah melaksanakan perintahku tentang kamar hotel?"
"Sudah, Sir. Saya membatalkan reservasi untuk saya. Hanya saja..." Valerie menggantung ucapannya.
Alarick menaikan sebelah alisnya. "Apa? Kenapa kau menggantungkan kalimatmu seperti itu?"
Valerie berdeham. "Saya memilih opsi kedua."
"Maksudnya?"
"Saya tidak ingin tidur sekamar dengan Anda."
Alarick tersenyum miring. "Valerie, Valerie, sejak kapan kau jadi tidak kompeten seperti dulu? Lupa dengan pernyataanku, huh? Aku jelas-jelas mengatakan jika opsi kedua itu akan terjadi jika kau tidak menuruti perintahku untuk membatalkannya. Dan sekarang, rasakanlah akibat dari ketidakkompetenanmu."
***
Alarick masuk ke dalam kamar hotelnya, dan langsung membuka dasi yang mencekik lehernya. Matanya melirik pada Valerie yang sedang diam kaku di pintu kamar hotel yang terbuka. Alarick berdecak. "Sedang apa kau di situ? Masuklah!"
Valerie menatap Alarick dengan wajah tenangnya. "Bolehkah Anda berjanji pada saya?" tanyanya.
"Tidak."
"Kalau begitu, saya tidak ingin masuk."
Alarick berdecak sebal, lalu melempar jasnya ke sembarang tempat. Ia menatap kesal pada Valerie. "Aku takkan menyentuhmu, jika itu yang kau takutkan."
"Benarkah?"
"Ya."
Mencoba mempercayai bosnya, Valerie akhirnya mausk ke dalam kamar dengan langkah ragu. Dia tidak menutup pintu kamar hotel tersebut, dan berdiri dengan kaku di samping rak kecil yang berada di samping tempat tidur. Alarick kembali berdecak kesal. "Kau sedang apa, sih? Tutup pintunya! Aku lelah, aku hanya ingin tidur!"
Valerie berbalik, lalu menutup pintu hotel dengan cepat. Dia kemudian membalikkan badan, dan menemukan Alarick yang sedang membuka jas mahal yang membalut tubuhnya.
"Istirahatlah!" perintah Alarick sambil membantingkan tubuh di kasur.
"Yes, Sir."
"Kau mau ke mana???" sentak Alarick, membuat Valerie menghentikan langkahnya yang akan menuju ke sofa. "Kau tidak berpikir untuk tidur di sofa, kan?"
"Tebakan Anda benar, Sir."
"Tidurlah di sini. Kau tidak lihat jika kasur ini sangat luas? Atau kau alergi dengan kasur ini karena harganya yang mahal?"
Valerie hanya diam kaku di tempat. "Tidak, Sir."
"Tidur di sini. Aku benar-benar tidak akan macam-macam padamu. Kau tidak lihat wajahku yang letih ini?" tanya Alarick, namun Valerie tetap diam. Alarick mengeram. "Jangan membuatku memaksamu dengan senang hati, Valerie. Kau tidak akan suka."
Valerie menghela napas panjang, menyimpan beberapa dokumen dan tas di meja yang berada di depan sofa panjang, membuka heelsnya, lalu melangkah ragu menuju ranjang. "Sebaiknya Anda melepaskan sepatu Anda, Sir." Katanya pada Alarick.
"Memangnya ada apa dengan sepatuku? Walaupun seprai ini terkotori, ini tidak akan menjadi masalah. Karena selain hotel murahan ini milik Kakekku, aku juga bisa membayar ganti ruginya berkali-kali lipat."
"Ini untuk kenyamanan tidur Anda, Sir."
"Kalau begitu, bukakan!" perintah Alarick dan langsung dituruti oleh Valerie. Alarick mendengus. "Kau selalu melakukan apapun yang kuperintahkan. Bahkan, untuk hal rendahan seperti ini. Tapi, kenapa kau selalu menolakku saat aku mengajakmu melakukan s*x?"
"Karena saya karyawan Anda, bukan jalang Anda."
Alarick tertawa kencang. "Kau tidak tahu saja jika hampir semua karyawan wanita di kantor sudah aku tiduri."
"Anda sangat tidak bijaksana, Sir." Sahut Valerie sambil membuka kaos kaki Alarick. "Kaos kaki Anda terlihat seperti kaos kaki yang selalu saya pakai, Sir. Benarkah harganya lebih mahal dari harga hotel di sini?"
Alarick kembali tertawa kencang. "Tentu saja. Kaos kaki ini barang paling murah yang kupunya. Bahkan, gantungan pakaianku saja lebih mahal dari kaos kakiku."
Dan saat itulah, Alarick melihat sesuatu yang belum pernah Valerie tunjukkan padanya. Sebuah senyum tipis dengan tatapan lembut Valerie. Alarick tertegun sebelum menelan ludah akibat jantungnya yang berdegup kencang. Dia lalu berdeham dan masuk ke dalam selimut. "Aku lelah. Kemarilah!" perintah Alarick, yang langsung dituruti Valerie.
"Ada yang Anda butuhkan, Sir?" tanya Valerie.
Alarick mengabaikan pertanyaan Valerie. Dia menarik tangan Valerie dengan kencang hingga tubuh Valerie limbung ke kasur dan ditangkap Alarick dengan pelukkan. Valerie memekik pelan. "Sir."
"Diamlah. Aku tidak butuh apapun. Aku hanya membutuhkan pelukan." Ujar Alarick dengan memeluk erat Valerie. Matanya terpejam dengan helaan napas lelah keluar dari mulutnya.
Valerie akhirnya diam sambil menatap datar pada wajah terpejam Alarick. "Anda bisa memeluk bantal guling, Sir."
Alarick membuka matanya, dan mendapati wajah Valerie terlampau dekat dengan wajahnya. Namun, bukan itu yang membuat Alarick merasa tidak nyaman. Valerie yang menatapnya lurus-lurus lah yang membuat Alarick berdebar.
Alarick memajukan wajahnya, mencium bibir Valerie dalam dan menghisapnya pelan. Valerie mengangkat tangannya dan menekan d**a Alarick. Namun, Alarick mengabaikan dan terus menyecap bibir Valerie. Menghisapnya dalam, menjilat bibir Valerie dan memasukkan lidahnya, menjilat bibir lembab nan lembut milik Valerie, lalu menyudahi ciuman tersebut.
Napas Valerie yang terengah bersahutan dengan helaan napas berat dari Alarick. Alarick kemudian meniup wajah Valerie dan membuat sekretarisnya itu memejamkan mata.
"Bagus. Tutup matamu dan jangan menatapku seperti tadi. Kau membuatku b*******h hanya dengan tatapanmu itu."