Rion berjalan lesu di koridor kampus. Fakta bahwa Alleta sudah bersuami benar-benar membuat laki-laki itu terpukul. Seseorang yang selama ini dia kejar justru telah memiliki tambatan hati seharusnya Rion paham mengenai ucapan Alleta saat wanita itu memberikan penolakan. Namun, Rion justru dengan bodohnya mengganggap hal itu bukanlah sebuah penolakan. Mengembuskan napas panjang, laki-laki itu menundukkan kepala. Hati laki-laki itu masih merasakan sesak, dia berharap semua ini hanya mimpi. Namun, pada dasarnya semua yang terjadi ini bukanlah sebuah mimpi. Rion merasa hidup tak pernah adil pada dirinya, sejak kecil laki-laki itu hidup dalam sebuah penderitaan tak berkesudahan. Sebuah tangan merangkul bahu Rion membuat laki-laki itu mendongak, Rion menatap Gara yang juga tengah menatap dirin

