“Masalah temen kamu udah kelar, Sa?” tanya Bapak sambil meletakkan dua cangkir teh dan sepiring pisang goreng untuk camilan, lalu duduk di kursi di samping Mahesa. Di sore yang mendung ini, Mahesa dan bapak sedang bersantai di teras kontrakan, setelah sepanjang siang tadi penat tapi juga lega menghampirinya selepas sidang skripsi dan dirinya dinyatakan lulus. Tinggal selangkah lagi—melalui koas—untuk mendapatkan gelar dokter. “Udah, Pak. Nita akhirnya udah putus sama cowoknya, dan kalau si cowok berani deketin dia lagi, maka dia bisa dihukum.” “Baguslah kalau masalah temen kamu udah selesai.” Bapak menyeruput tehnya. “Kalau masalah kamu sendiri?” “Masalah aku?” “Iya. Kamu bilang kalau Indira lagi marah sama kamu. Udah baikan?” Mahesa menggeleng. “Lama amat marahannya?” Bapak menggig

